Pertempuran Meletus di Somalia | Fokus | DW | 23.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pertempuran Meletus di Somalia

Pemimpin kubu islamis yang digulingkan akhir tahun lalu menuntut penarikan mundur seluruh tentara asing.

Serdadu Ethiopia di Somalia

Serdadu Ethiopia di Somalia

Somalia, negara di tanduk Afrika ini tak punya pemerintahan pusat, sejak digulingkannya diktator Siad Barre 16 tahun silam. Pertengahan tahun lalu, kubu islamis di Somalia, Pengadilan Islam, mengambil laih kekausaan di Mogadishu, namun pada akhir Desember berhasil dihalau keluar dari Mogadishu oleh tentara pemerintahan sementara, yang mendapat dukungan pasukan Ethiopia. Namun kubu islamis rupanya tak menyerah. Pertempuran hebat kembali berkobar di ibukota Somalia, sejak dua hari terakhir ini.

Sudah lebih dari 20 orang tewas dalam pertempuran terhebat sejak tentara pemerintah sementara merebut Mogadishu. Sekitar 150 orang dirawat di rumah sakit. Tembak-menembak terjadi antara tentara pemerintah, tentara Etiopia dan pemberontak Pengadilan Islam, di sejumlah pemukiman di ibukota, Kamis (22/03).

Penduduk setempat melaporkan pertempuran sengit di sekitar pangkalan militer di selatan Mogadishu. Tampaknya itu merupakan jawaban atas eskalasi kekerasan sehari sebelumnya, di mana sekelompok orang yang muncul tiba-tiba membakar beberapa mayat tentara dan menyeretnya di jalanan. Pertempuran juga berkobar di Ramadhan, wilayah utara Mogadishu. Kedua kawasan itu merupakan pusat kekuatan kubu islamis Pengadilan Islam yang tahun lalu menguasai sebagian besar wilayah Somalia.

Sementara itu, pemimpin kubu islamis yang digulingkan akhir tahun lalu, Sheikh Dahir Aweys, angkat bicara dari tempat persembunyiannya dan menuntut penarikan mundur seluruh tentara asing. Penduduk Mogadishu akan tetap melakukan perlawanan, sampai tentara pendudukan terakhir meninggalkan negeri itu. Setelah itu barulah konflik bisa dihentikan.

Bertolak belakang dari itu, Menteri Dalam Negeri Mohammed Gulled menyebut gelombang kekerasan sebagai aksi terarah melawan para pejuang islamis bawah tanah. Dan pemerintah Somalia sekali lagi menyalahkan jaringan teror Al Qaeda sebagai dalang pemberontakan.

Hanya dengan bantuan negara tetangga Etiopia, pemerintah sementara Somalia bisa bertahan di kursi kekuasaan hingga sekarang. Selain itu, 1.200 tentara helm biru PBB dari Uganda ditempatkan di Mogadishu, demi menciptakan kestabilan. Dalam dua pekan terakhir mereka beberapa kali menjadi target serangan, walaupun tidak melibatkan diri dalam pertempuran.

Sejauh ini tentara PBB dari Uganda hanya membentuk pasukan baris depan dari misi perdamaian Uni Afrika. Sebetulnya kekuatan pasukan direncanakan 8.000 orang, namun sampai sekarang jumlah itu tidak terpenuhi. Kebanyakan anggota Uni Afrika menutup telinga terhadap permintaan mengirim tentara perdamaian ke somalia.

Sejak awal tahun ini, sekitar 40 ribu warga menyelamatkan diri dari pertempuran di Mogadishu. Menurut rencana, Somalia akan mengadakan konferensi rekonsiliasi tentang masa depan negara itu, pertengahan April mendatang.