Pertempuran Kembali Pecah di Somalia | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 21.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pertempuran Kembali Pecah di Somalia

Hari Selasa (19/12) lalu batas waktu ultimatum kelompok Pengadilan Islam di Mogadishu berakhir. Bagi para pengamat, pecahnya kembali pertempuran di negara itu hanya tinggal masalah waktu.

Michel Louis berupaya menengahi konflik di Somalia

Michel Louis berupaya menengahi konflik di Somalia

Rabu kemarin (20/12) di Somalia kembali pecah pertempuran hebat antara kelompok Pengadilan Islam melawan pasukan pemerintah transisi. Pertempuran terjadi di Baidoa, provinsi yang dikuasai pemerintahan transisi.

Sementara itu pada hari yang sama Komisaris Uni Eropa Louis Michel tiba di Baidoa untuk pembicaraan penengahan, dengan pemerintah transisi dan kelompok Pengadilan Islam. Setelah pembicaraan tersebut Michel yakin pertempuran yang kembali pecah akan segera berakhir

„Kedua pihak telah menyetujui turut andil untuk meredakan ketegangan, serta menghentikan semua serangan dan pertempuran.“

Tapi penduduk masih mendengar suara ledakan granat di Baidoa. Sementara pemerintah transisi mengakui dalam pertempuran kemarin berhasil menewaskan ratusan anggota kelompok Pengadilan Islam. Saksi mata juga melaporkan hadirnya pasukan Ethiopia yang membantu pasukan pemerintah transisi.

Meskipun menurut laporan PBB terdapat sekitar 20 ribu tentara Ethiopia di Somalia, pemerintah di Addis Abeba menyatakan tidak ada pasukannya di negara itu. Mereka hanya mengirimkan ratusan penasihat militer ke pusat pemerintahan transisi Somalia, Baidoa.

Setelah berakhirnya perang saudara antara Ethiopia dan Eritrea enam tahun lalu dan terbentuknya pemerintahan transisi di Somalia sejak tahun 1991, diharapkan akan tercipta perdamaian di kawasan Laut Merah itu.

Namun harapan tersebut tidak terwujud. Etiopia dan Eritrea tetap berperang, bahkan kini ke luar batas negara, dengan mengirimkan tentaranya ke Somalia. Eritrea mendukung kelompok Pengadilan Islam dengan mempermudah pengiriman senjata dari Iran dan Suriah. Sementara Etiopia memperkuat kubu pemerintahan transisi Somalia, provinsi Baidoa.

Selama beberapa bulan terakhir di provinsi tersebut, keberadaan militer Ethiopia sangat mencolok. Tanpa dukungan itu, Baidoa diperkirakan sudah lama jatuh ke tangan kelompok Pengadilan Islam. Hal ini tidak terlepas dari dukungan Amerika Serikat dengan pengaruhnya di Ethiopia.

Setelah serangan teror 11 September 2001 Amerika Serikat menggolongkan kelompok Pengadilan Islam Mogadishu sebagai kaki tangan Al Qaida di kawasan tanduk Afrika tersebut. Strategi ini terus dilancarkan Washington meskipun meningkatnya kritik akibat situasi hak asasi manusia yang memburuk di kawasan itu.

Juga meskipun Komisaris Uni Eropa Louis Michel puas dengan misinya, akibat pertempuran kemarin, ratusan penduduk terpaksa mengungsi dari Baidoa. Menambah jumlah pengungsi dari Somalia, yang 160 ribu diantaranya tinggal di kamp pengungsi di Kenya. Penyelesaian konflik di kawasan tanduk Afrika itu sangat rumit dan butuh waktu lama.

Iklan