Pertama Kali Setelah Kasus Kashoggi, Putra Mahkota Arab Saudi Melawat ke Luar Negeri | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 23.11.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Arab Saudi

Pertama Kali Setelah Kasus Kashoggi, Putra Mahkota Arab Saudi Melawat ke Luar Negeri

Pangeran Mahkota Mohammad bin Salman (MbS)memulai lawatan luar negeri, dimulai di Uni Emirat Arab. Minggu depan, MbS dijadwalkan ke Argentina menghadiri KTT G-20.

Pangeran Mohammed bin Salman yang sering disebut hanya dengan inisialnya MbS, akan melakukan rangkaian kunjungan luar negeri yang pertama kali, sejak kasus pembunuhan jurnalis Jamal Kashoggi mengguncang kalangan diplomatik dan media.

Kantor berita pemerintah Saudi Press Agency memberitakan. MbS akan mengunjungi sejumlah negara-negara Arab "yang bersaudara" atas permintaan ayahnya, Raja Salman. Namun laporan itu tidak menyebut negara mana saja yang akan dikunjungi.

Pada pemberhentian pertamanya di Uni Emirat Arab (UEA), MbS disambut oleh Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed bin Zayed. Kantor berita Emirat WAM menyebutkan, UEA adalah sekutu dekat Arab Saudi dalam memerangi pemberontak Huthi di Yaman. MbS dan Mohammed bin Zayed membahas perkembangan "regional dan internasional" dan "tantangan serta ancaman yang dihadapi kawasan Timur Tengah", kata WAM.

Sementara itu, kantor kepresidenan Tunisia melaporkan, Selasa (27/11), MbS akan berkunjung ke Tunis. Setelah rangkaian lawatan di negara-negara tetangga, Putra Mahkota Arab Saudi diberitakan akan berkunjung ke Argentina untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20.

Tonton video 02:13

CIA blames Saudi Crown Prince Bin Salman for murder

MbS mungkin bertemu Erdogan di G20

Seorang jurubicara kepresidenan Turki mengatakan, Presiden Recep Tayyip Erdogan dapat bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi di sela-sela KTT G20. Pertemuan itu akan menjadi tatap muka pertama antara keduanya sejak ketegangan diplomatik yang muncul setelah Jamal Kashoggi dibunuh di dalam konsulat Arab Saudi di Istanbul, 2 Oktober lalu.

Erdogan menyatakan, perintah untuk membunuh Khashoggi berasal dari "tingkat tertinggi" di pemerintahan Arab Saudi, namun tidak menyebut nama Pangeran Mohammed bin Salman secara langsung.

Arab Saudi mengatakan telah menahan 21 orang yang terlibat dalam pembunuhan Kashoggi. Namun Menteri Luar Negeri Adel al-Jubeir menegaskan, penyebutan nama Mohammed bin Salman yang dikaitkan dengan kasus pembunuhan itu "adalah garis merah" yang tidak akan ditoleransi oleh Arab Saudi.

Tonton video 00:58

US reticence over Kashoggi poses fundamental questions

Trump bantah CIA punya bukti keterlibatan MbS

Presiden AS Donald Trump hari Kamis (22/11) membantah bahwa CIA telah menyimpulkan MbS mengetahui rencana pembunuhan Kashoggi. Trump mengatakan "mungkin dunia harus bertanggung jawab, karena dunia adalah tempat yang keji. Dunia adalah tempat yang sangat, sangat kejam."

Sebelumnya Trump mengatakan dia tidak akan memaksakan sanksi yang lebih keras pada Arab Saudi atau Pangeran Mahkota atas kematian Jamal Khashoggi, yang sering menulis untuk harian Washington Post dan menetap di AS.

"Kebijakan saya sangat sederhana: Amerika pertama, membuat Amerika menjadi hebat lagi, itulah yang saya lakukan," kata Trump kepada wartawan setelah mengucapkan selamat hari Thanksgiving kepada anggota militer.

Trump juga mengatakan, Putra Mahkota dan ayahnya, Raja Salman, "tidak melakukan kekejaman ini."

"Faktanya adalah ... mereka menciptakan kekayaan luar biasa, pekerjaan yang sangat luar biasa, dalam pembelian (senjata) mereka dan yang sangat penting (bagi AS), mereka menekan harga minyak."

Seorang pejabat AS yang tidak mau disebut namanya mengatakan kepada kantor berita AFP, badan-badan intelijen AS telah menarik kesimpulan bahwa MbS yang memerintahkan pembunuhan di Konsulat Saudi di Turki.

hp/vlz (afp, rtr, ap)

 

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait