Persaingan Jabatan Sekjen PBB Masih Terbuka | Fokus | DW | 19.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Persaingan Jabatan Sekjen PBB Masih Terbuka

Hari ini, Selasa 19 September, bisa jadi merupakan kali terakhir bagi Kofi Annan memberi sambutan di muka para pemimpin negara dan perwakilan 192 negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa.

Masa jabatan Kofi Anna berakhir hari ini

Masa jabatan Kofi Anna berakhir hari ini

Pertemuan tingkat tinggi PBB ini merupakan agenda terakhir dalam masa jabatannya. Yang menjadi tema penting dalam pertemuan kali ini adalah; orang yang akan menggantikan posisinya sebagai sekertaris jendral PBB.

Lima kandidat telah terpilih untuk memegang tampuk tertinggi organisasi dunia itu. Kandidat unggulan adalah Menteri Luar Negeri Korea Selatan Ban Ki-Monn, yang baru saja menerima dukungan dari Dewan Keamanan PBB untuk menempati posisi sekjen PBB yang akan datang. Pejabat PBB asal India, Shashi Tharoor, menempati unggulan kedua. Sedangkan unggulan ketiga dipegang oleh Deputi Perdana Menteri Thaliand Surakiart Sathirathai.

Hingga kini, Duta Besar Jordania untuk PBB, Pangeran Zeid al Hussein, masih bertahan di posisi keempat dan Jayanatha Dhanapala dari Srilanka menempati unggulan kelima. Namun pada setiap pemilihan selalu ada pemilih negatif. Seperti yang dikatakan mantan juru bicara PBB asal Jerman, Pleuger.

"Acap kali terjadi pada detik-detik terakhir, artinya bisa pada bulan Oktober atau November mendatang, makin jelas, kandidat mana yang akan paling sedikit menimbulkan masalah bagi anggota tetap Dewan Keamanan PBB."

Pertarungan dalam bursa pemilihan calon sekjen PBB ini lebih dari sekedar memilih nama. Amerika Serikat dan Inggris sebagai pemegang veto tidak menginginkan adanya rotasi jabatan tertinggi PBB ini hanya berdasarkan asal benua atau geografis. Demikian dikatakan John Bolton, Duta Besar AS untuk PBB.

Kandidat asal Asia disetujui oleh sebagian besar anggota PBB dan juga Jerman. Sementara London dan Washington mengunggulkan para kandidat dari Eropa Timur. Karena hingga kini belum pernah ada kandidat dari wilayah itu, apalagi kandidat perempuan.

Presiden Amerika Serikat George W. Bush mendukung koleganya, Vaira Vike Freiberga asal Latvia untuk maju dalam bursa pemilihan. Namun ia harus berhadapan terlebih dahulu dengan Putin, dan artinya harus mempertimbangkan hak veto Rusia.

Pada tanggal 28 September mendatang, menjelang akhir debat sidang, dewan penasehat akan meminta para kandidat unggulan untuk memasuki tahap percobaan. Setelahnya diharapkan lahir seorang kandidat utama baru.