Pers Jerman Sambut Jokowi | dunia | DW | 23.07.2014
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pers Jerman Sambut Jokowi

Pers Jerman menyebut presiden terpilih Joko Widodo sebagai "orang bersih". Namun tantangan yang dihadapi presiden baru dan negara Indonesia dinilai cukup berat.

Frankfurter Allgemeine Zeitung

Orang Bersih

Dia bukan orator ulung. Pidato-pidatonya biasanya hanya berlangsung sampai sepuluh menit. Tapi warga Indonesia memilihnya sebagai presiden baru. Mereka tidak peduli, apakah dia jago berpidato atau tidak. Yang penting, dia mendengar suara mereka. Dan itulah yang dilakukan Joko Widodo ketika menjadi walikota di Solo. Ia membuat kota itu menjadi lebih bersih dan lebih hijau. Dia dikenal sederhana dan tidak korup.

Menjelang pemungutan suara muncul keraguan, apakah ia mampu memimpin negara dengan 250 juta penduduk itu. Ternyata dalam duel di televisi, yang mengulas berbagai aspek kepentingan nasional, ia tampil cukup baik.

Terutama di luar negeri, pemilihannya mendatangkan kelegaan. Dia disambut sebagai pendukung demokrasi dan pluralisme, sebagai politisi modern, toleran dan tetap bersahaja.

Die tageszeitung

Presiden Baru, Orang Jujur

Joko Widodo jadi presiden. Ini benar-benar sebuah sensasi. Ahli kehutanan berusia 53 tahun itu akan menjadi presiden pertama Indonesia, yang tidak berasal dari militer, bukan tokoh besar dari organisasi Islam, dan tidak berasal dari dinasti politik.

Prabowo Subianto dan partainya Gerindra bersikeras, mereka tidak kalah. Mereka melaporkan telah tejadi "penipuan besar-besaran" dan ada "jutaan suara ilegal" pada penghitungan suara. Namun mereka belum mengajukan bukti-bukti.

Tanpa menunggu pengumuman resmi, Prabowo dua jam sebelumnya sudah menerangkan menarik diri dari pemilihan presiden. Ia menolak mengakui hasil pemilu dan mengumumkan, akan melakukan segalanya "untuk mengamankan demokrasi".

Multimilyuner dan mantan menantu Suharto ini memang punya cukup uang untuk memobilisasi pendukungnya. Ia sebelumnya mengimbau pendukungnya agar tidak melakukan kekerasan, tapi ia juga menyerukan agar mereka datang dan "mengamankan" kantor KPU.

Thüringer Allgemeine

Reformis Jokowi Menang Pemilu Presiden

Politisi reformis Joko Widodo memenangkan pemilu presiden di Indonesia. Menurut hasil perhitungan resmi, Jokowi memenangkan 53,15 persen suara, demikian pengumuman Komisi Pemilihan Umum.

Rivalnya mantan jendral Prabowo Sugianto yang mengumpulkan 46,85 persen suara menolak hasil itu dengan alasan terjadi manipulasi. Prabowo menuduh KPU melakukan "penipuan secara masif, struktural dan sistematis".

Jokowi akan menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono yang menjabat sejak 2004. Ia dan Prabowo adalah dua kandidat yang saling berlawanan. Jokowi berasal dari kalangan bawah dan berhasil meniti karir sebagai politisi daerah, sebelum terpilih menjadi gubernur Jakarta tahun 2012. Prabowo pernah belajar di Amerika Serikat, kaya dan pintar berpidato. Tapi banyak tuduhan ditujukan kepadanya sehubungan dengan pelanggaran hak asasi berat selama masa dinas militernya.

Neue Zürcher Zeitung (Swiss)

Awal Yang Sulit

Jika tidak ada halangan dari Mahkamah Konstitusi, Widodo akan dilantik bulan Oktober mendatang. Bagi 250 juta penduduk Indonesia, negara demokrasi ketiga terbesar dunia, ini kabar baik. Kalangan pengamat menilai, kemenangan "tangan kuat" Prabowo kemungkinan besar berarti Indonesia kembali kepada masa-masa otokrasi di bawah Suharto.

Tapi Jokowi tidak mungkin menyelesaikan begitu banyak masalah dalam sekejap. Pertumbuhan ekonomi belakangan melambat. Akan dibutuhkan waktu bertahun-tahun membangun infrastruktur yang terbengkalai untuk mampu bersaing. Menurut seorang pengamat, korupsi sudah mencapai "tingkat makro". Jokowi dikenal sebagai politisi yang toleran, tapi dia pasti akan mendapat tekanan dari kalangan militan Islam.

Setelah dua masa jabatan Susilo Bambang Yudhoyono, yang terutama mampu menampilkan citra Indonesia yang terbuka dan kooperatif di luar negeri, Joko Widodo bisa mengambil arah yang lebih moderat dan nasionalis.

Laporan Pilihan