Pernyataan G-8 Tentang Situasi Timur Tengah | dunia | DW | 16.07.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pernyataan G-8 Tentang Situasi Timur Tengah

Kepala Negara dan pemerintahan negara G-8 dalam pertemuan puncak di St Petersburg menyepakati pernyataan bersama.

Peserta pertemuan puncak G-8, didepan Istana Constantine di St Petersburg, Rusia.

Peserta pertemuan puncak G-8, didepan Istana Constantine di St Petersburg, Rusia.

Pernyataan St Peterburg memuat pesan bersama yang kuat dengan bobot politik yang jelas. Demikian dikatakan Kanselir Jerman Angela Merkel pada akhir pembicaraan hari Minggu (16.07). Angela Merkel mengatakan:

„Sehubungan dengan perkembangan situasi yang dramatis di Timur Tengah, pimpinan negara G-8 berhasil menyepakati pesan bersama. Kami tidak membiarkan, kekuatan teroris dan yang mendukungnya mendapat peluang yang dapat menyulut kekacauan di Timur Tengah. Dan dengan jelas menyebutkan penyebab dan dampak dari kejadiannya. Kami kembali menuntut agar tentara Israel yang diculik kembali dibebaskan dalam keadaan selamat. Dan tentu saja serangan terhadap Israel dihentikan, dan juga Israel harus menghentikan aksi militernya. Kami yakin sepenuhnya, pemerintah Libanon harus memberikan setiap dukungan, serta menerapkan resolusi PBB mengenai Libanon selatan. Kemudian kami menuntut ,agar PBB membentuk sebuah misi pemantau dan keamanan."

Selama beberapa jam, peserta pertemuan puncak G-8 terlibat perdebatan sengit, untuk menanggapi pandangan yang berbeda antara Amerika Serikat dan Rusia. Terutama Amerika Serikat dan Inggris secara sepihak hanya hendak mengecam kelompok Hamas dan milisi Hisbullah . Sementara Rusia dan Perancis menghendaki, diakhirinya tindak kekerasan, tanpa menyebut siapa yang menyulutnya. Kanselir Angela Merkel menambahkan:

„Dari pandangan saya, secara umum hasil yang dicapai disambut dengan sangat baik, karena pimpinan penting dari negara G-8, dalam masalah ini dengan jelas menunjukkan mereka tidak ingin dipecah belah, melainkan menyampaikan pesan bersama yang kuat , termasuk bagi semua masalah yang dibahas dalam pertemuan puncak ini“.

Minggu pagi, peserta pertemuan G-8 telah menggarap sejumlah program. Antara lain menyepakati perang melawan penyakit menulrar dan membangun jaringan pengawasannya secara global. Selain itu juga kerjasama menghadapi ancaman pandemi flu burung. Disamping itu prakarsa pendidikan yang digagas Presiden Rusia Wladimir Putin disepakati untuk ditandatangani.

Sementara itu untuk pertama kalinya pertemuan puncak G-8 memutuskan sebuah 'rencana aksi bagi jaminan energi global'. Dalam pernyataan penutupnya juga berisi kompromi bagi pemanfaatan energi atom dimasa depan. Arti energi atom ditonjolkan. Tapi dengan melihat peranan khusus Jerman dan Italia disebutkan, mengetahui bahwa negara G-8 menempuh berbagai jalan untuk menjamin pengadaan sumber energi, dan untuk mencapai tujuan dari perlindungan iklim. Sebagaimana diketahui, Jerman memutuskan untuk tidak lagi menggunakan energi atom. Sedangkan Italia pada tahun 90-an, menghentikan beroperasinya semua pembangkit listrik tenaga atom.

Juru runding Jerman Bernd Pfaffenbach mengatakan kita harus mengurangi ketergantungan dari minyak bumi. Ditambahkannya, yang lain membangun sumber energi atom. Sementara yang lainnya meningkatkan sumber energi yang efisien, melakukan penghematan energi dan mengembangkan energi alternativ.

Hari Senin ini kepala negara dan pemerintahan dari Meksiko, Brasil, Afrika Selatan, India dan Cina akan ambil bagian dalam pertemuan puncak negara G-8 di St Petersburg. Dalam pertemuan itu hendak dicari upaya baru untuk secepat mungkin menggerakkan kembali putaran perundingan dagang, yang dikenal dengan sebutan 'putaran Doha' yang mengalami kemacetan sejak lima tahun lalu.

Iklan