Perlindungan Bencana Gempa Bumi | Iptek | DW | 17.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Perlindungan Bencana Gempa Bumi

Dewasa ini semakin banyak kota besar berpenduduk puluhan juta orang dibangun di kawasan kegempaan aktif. Karena itu perlindungan terhadap ancaman bencana harus menjadi prioritas.

Gempa besar San Fransisco tahun 1906

Gempa besar San Fransisco tahun 1906

Bencana gempa bumi dewasa ini amat ditakuti, karena sering menimbulkan korban jiwa dan memusnahkan harta benda. Padahal, gempa bumi adalah gejala alam yang memang akan terus menerus terjadi di bumi yang dinamis ini. Hanya saja pertumbuhan penduduk amat pesat, serta konsentrasi populasi di kawasan tertentu yang sebetulnya rawan gempa Bumi, menyebabkan jatuhnya korban jiwa cukup banyak.

Salah satu peristiwa gempa Bumi hebat, yang selalu disebut-sebut dalam sejarah geologi, adalah gempa bumi dahsyat di San Fransisco tahun 1906. Pada saat itu lebih dari tiga ribu orang tewas akibat gempa berkekuatan 7,8 skala Richter tersebut. Tapi, sebetulnya gempa lebih hebat pernah mengguncang California tahun 1857 dengan kekuatan lebih dari 8 pada skala Richter.

Pada tanggal 9 Januari 1857 gempa hebat mengguncang kawasan Fort Tejon, yang lokasinya sekitar 100 km di utara Los Angeles. Lempengan di kedua sisi sesar San Andreas sepanjang 350 km bergerak vertikal sampai sembilan meter. Bahkan sungai Kern alirannya berbalik arah kembali menuju hulu. Para geolog memperkirakan, gempa di Fort Tejon berkekuatan lebih dari 8 pada Skala Richter. Tapi karena saat itu belum ada seismograph, kekuatan gempanya hanya dapat ditaksir dari perubahan yang terjadi akibat kekuatan gempa.

Gempa yang terjadi 150 tahun lalu itu nyaris luput dari perhatian. Gempa besar tahun 1906 di San Fransisco lebih banyak dibicarakan, demikian diungkapkan direktur pusat penelitian bencana dan risiko bencana di Universitas Columbia di New York Art Lerner Lam. “Penyebabnya, mengapa semua lebih banyak membicarakan gempa bumi tahun 1906, karena kerusakannya dialami sebuah kota yang sedang tumbuh, yang menarik perhatian seluruh warga AS. Dan tragedi itu terjadi di saat koran-koran sudah mampu dengan cepat memberitakan bencana semacam itu. Tahun 1857, gempa bumi melanda kawasan yang jarang penduduknya di California, dan sebagai konsekuensinya peristiwa itu tidak banyak dibicarakan.“

Memang ketika itu demam emas menarik banyak orang beremigrasi ke California. Tapi hampir semua berbondong-bondong datang ke bagian utara, bukannya ke bagian selatan yang kering. Gempa besar yang melanda Fort Tejon tahun 1857 hanya menyebabkan tewasnya dua orang warga. Sementara tahun 1906 juga menjadi titik acuan bagi penelitian gempa bumi modern. Dalam kaitan inilah, berdasarkan pengetahuan baru yang berhasil dihimpun, para geolog menemukan terjadinya gempa di Fort Tejon sekitar 50 tahun sebelum gempa besar California. Demikian diungkapkan oleh pakar sejarah gempa bumi di Universitas Columbia, Lyn Sykes.

“Yang paling penting ketika itu, adalah kenyataan bahwa setelah gempa bumi tahun 1906, gubernur California membentuk sebuah komisi, yang ditugasi meneliti gempa tersebut. Jadi sejumlah geolog datang ke kawasan ini, dan akhirnya berhasil menemukan sesar San Andreas. Dalam penelitiannya mereka melaporkan terjadinya gempa bumi hebat tahun 1857.“

Tentu saja temuan jejak gempa bumi hebat ketika itu belum dapat mengungkapkan apa pemicu terjadinya gempa bumi. Patahan atau sesar besar San Andreas memang dapat ditemukan, namun bagaimana mekanisme atau gaya apa yang mempengaruhi terjadinya gempa, belum banyak diketahui. Di awal kegiatan penelitian gempa bumi modern, teori mengenai pergerakan lempeng tektonik belum muncul. Baru pada tahun 1912 peneliti kutub dan pakar ilmu kebumian Jerman, Alfred Wegener, melontarkan teori mengenai tektonik lempeng bumi.

Teori Wegener mengenai lapisan kerak bumi yang tipis, yang mengambang di atas cairan inti bumi yang kental, dan terus bergerak secara dinamis, selalu dipertentangkan para ahli geologi sampai lima dasawarsa. Baru di akhir tahun 50-an teori tektonik lempeng dapat dibuktikan kebenarannya. Teori Wegener yang digabung dengan data sejarah geologi kawasan kegempaan aktif, dapat dijadikan acuan untuk peramalan gempa di kawasan tersebut. Sykes menjelaskan: “Banyak sekali situs penelitian digali di sepanjang sesar San Andreas. Dan di banyak lokasi, kami dapat melihat jejak gempa bumi di masa lalu. Beberapa diantaranya berumur antara seribu hingga duaribu tahun.“

Data mengenai sejarah gempa bumi semacam itu, kini dihimpun dalam bank data global, yang diberi nama Hot-Spots bencana alam, yang dibuat oleh Universitas Columbia. Dalam hot-spots itu antara lain ditampilkan analisis global mengenai kawasan mana yang terancam bencana apa, serta tindakan pencegahan apa yang disarankan. Art Lerner Lam menjelaskan lebih lanjut: “Dalam kaitan dengan gempa besar, seperti misalnya yang terjadi tahun 1857, bagi kami hal itu berarti, apakah kami memiliki kapasitas yang memadai untuk dapat menghadapi bencana hebat semacam itu. Di dunia Barat yang sudah maju, saya pikir, kita sudah memiliki kemampuannya dari sisi ekonomi, sosial maupun budaya. Akan tetapi, di negara berkembang hal ini masih merupakan masalah besar, karena di sana belum tersedia jaring pengaman semacam itu.“

Hot-Spots kawasan bencana alam ini amat berguna, untuk dapat memprediksi terjadinya bencana di kawasan aktif. Bank Dunia mendukung pembuatan bank data global kawasan potensial bencana alam di Universitas Columbia. Sebab dewasa ini sekitar 3,4 milyar penduduk dunia, bermukim di kawasan potensial bencana alam, khususnya gempa bumi. Gagasan di balik pembuatan peta kawasan bencana alam itu, terutama untuk memperkecil dampak dari bencana alam, khususnya di negara-negara berkembang. Selain itu, tentu saja untuk mencegah jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar. Bank Dunia melibatkan diri dalam penelitian kawasan potensial bencana alam ini, untuk dapat menarik keputusan cepat dalam pemberian bantuan; siapa yang harus mendapat prioritas bantuan dan segawat apa bencana alamnya.

Pemetaan lempeng tektonik menunjukan, potensi ancaman bencana berbeda-beda tergantung dari struktur dan kedalaman zone subduksi lempeng tektoniknya. Namun dalam tema pencegahan bencana, terdapat standar yang relatif sama, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Di kawasan rawan gempa misalnya, aturan mengenai konstruksi bangunan dan tatalaksana lahan harus dipatuhi. Sekolah dan rumah sakit tidak boleh dibangun di dekat patahan aktif. Serta penyuluhan terus menerus mengenai ancaman bencana alam.

Akan tetapi, semua juga harus menyadari, bencana selalu datang secara tidak terduga. Juga di kawasan yang sudah tergolong relatif siap menghadapi bencana alam. Juga sekarang ini harus diperhitungkan jumlah korban jiwa cukup besar. Karena semakin banyak kota besar berpenduduk puluhan juta orang, yang dibangun di kawasan rawan gempa.