Peringkat Negara Pelindung Lingkungan | Sosial | DW | 14.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Peringkat Negara Pelindung Lingkungan

Swedia berada di puncak, Saudi berada di urutan terakhir. Banyak masalah yang dibiarkan masih terbuka dalam rangking iklim baru.

Pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia di selatan kota Leipzig, Jerman

Pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia di selatan kota Leipzig, Jerman

Para pelindung lingkungan tidak ingin memberikan medali kepada peraih tiga posisi paling atas. Memang Swedia, Inggris dan Denmark berada pada peringkat puncak dari 56 negara yang diteliti, tetapi para ahli ini juga menilai negara-negara Skandinavia ini tidak berusaha keras mengurangi emisi rumah kacanya. Jan Burck dari Germanwatch menganalisa pemberian peringkat ini:

"Tahun ini Swedia unggul, ibaratnya dengan memiliki satu mata diantara kaum buta, karena sebenarnya upaya Swedia masih belum cukup. Menurut ukuran kami, kinerja iklim Swedia memang bagus, karena emisi perkapitanya paling sedikit dibandingkan dengan negara-negara lain, dan juga emisi yang kecil dalam penggunaan energi.“

Yang diteliti adalah emisi dari sektor energi, lalu lintas, industri dan rumah tangga yang menyangkut tren yang diharapkan di tahun-tahun mendatang dari politik yang dijalankan oleh negara dan wilayah yang bersangkutan. Hal ini menyebabkan ketidakpastian: apakah orang dapat mengecam India dan Brasil, karena sebagai negara berkembang yang sedang tumbuh pesat, mereka mempunyai tingkat gas buang yang tinggi serta semakin banyak mobil, tetapi juga apakah berarti tingkat teknologi yang tinggi? Dan apa gunanya politik terbaik dari negara-negara Eropa, jika satu orang Eropa menghasilkan jauh lebih banyak emisi perkapita dibandingkan satu orang Cina? Dengan demikian, peringkat ini hanya lah merupakan sebuah tren dan bukan sebuah metode ilmiah. Tetapi tren ini terlihat jelas, terutama diakhir skala, demikian dijelaskan Jan Burck.

"Arab Saudi berada pada posisi paling belakang, yang mendapat nilai sangat buruk pada tingkat emisi dan juga pada penilaian politiknya. Posisi belakang juga sayangnya kembali ditempati oleh Amerika Serikat yang masih saja belum bergerak ke arah politik perlindungan iklim yang bagus. Dan tingkat emisi Cina naik sangat tinggi sehingga mereka juga berada diposisi belakang, walaupun mereka mendapat nilai yang sangat bagus dalam bidang politiknya. Jadi kita dapat berharap, bahwa Cina dalam waktu dekat dapat menstabilkannya.“

Dan bagaimana dengan Jerman? Pemerintah Jerman boleh terus memuji undang-undang mereka yang ingin memajukan energi ramah lingkungan seperti energi angin dan matahari dan juga tetap menunjukkan diri mereka sebagai pionir dalam bidang perlindungan iklim. Dengan ini posisi ditempat ke-5 dilihat sebagai agak mengecewakan. Kesalahan Jerman terletak pada struktur tradisional penyediaan energinya. Matthias Duwe dari kelompok perlindungan lingkungan "Climate Action Network“ yang juga ikut serta dalam studi ini mengatakan:

"Alasannya adalah, bahwa Jerman, kalau menyangkut sektor listrik dan energi, berada dalam posisi lebih buruk dibandingkan negara-negara lain karena tingkat penggunaan batu bara yang sangat tinggi.“

Terlihat agak aneh, bahwa negara-negara seperti Ukraina dan Kazakhstan mendapat posisi lebih tinggi dari Amerika Serikat, yang di beberapa negara bagiannya terdapat banyak upaya perlindungan iklim, tetapi tidak di Washington. Makna utama dari peringkat ini sudah merupakan sebuah pendapat umum: Eropa tetap berada di depan, negara-negara berkembang yang berambisi seperti Brasil dan Argentina mengejar- dan Germanwatch menyarankan agar negara-negara ini bersekutu untuk mengurangi efek rumah kaca. Sehingga suatu hari nanti medali-medali masih dapat diberikan untuk negara-negara yang paling ramah lingkungan.