Perempuan Punya Peran Penting Berantas Korupsi | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 13.12.2017
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sosbud

Perempuan Punya Peran Penting Berantas Korupsi

Ibu dalam sebuah keluarga memiliki peran yang penting untuk menjadi agen anti-korupsi. Dengan pendidikan kejujuran, seorang ibu dapat merubah perilaku koruptif anak, suami, maupun masyarakat luas.

Schweiz, Yuyuk Andriati von Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) mit ACE Award in Genf

Yuyuk Andriati Iskak mewakili gerakan Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) dengan penghargaan ACE Award di Jenewa, Swiss.

Gerakan Saya Perempuan Anti Korupsi atau SPAK dari Indonesia mendapat penghargaan International Anti-Corruption Excellence (IACE) Award. Penghargaan ini diberikan di Gedung PBB di Jenewa sebagai bagian dari peringatan Hari Anti Korupsi Internasional pada hari Jumat (8/12/2017). Kategori yang SPAK menangkan adalah Youth Creativity and Engagement. Kategori tersebut menitik beratkan pada peran komunitas dan civil society dalam mencegah korupsi. "Penghargaan ini adalah hadiah paling besar di tahun ini. Yang pasti untuk seluruh agen SPAK yang ada di Indonesia yang tersebar di 34 provinsi. Hingga saat ini jumlah agen kami hampir 1.300 orang. Ini penghargaan yang sangat besar untuk mereka," tutur Yuyuk Andriati Iskak, Humas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

 

Cegah perilaku koruptif sehari-hari

Gerakan yang telah digalang selama tiga tahun ini membantu perempuan untuk menghilangkan sikap koruptif yang secara tidak sadar dilakukan oleh masyarakat Indonesia. "Misalnya anak-anak kita tidak mau mengantri. Itu hal-hal sederhana yang bisa dikerjakan sebenarnya. Atau anak mencontek, atau orang tua memberikan hadiah kado pada guru anaknya. Hal-hal seperti itu yang selama ini terjadi dalam keseharian kita, orang tidak sadar bahwa itu adalah perilaku koruptif yang kian lama bisa berevolusi menjadi korupsi yang besar," terang Yuyuk.

 

SPAK sendiri dilatarbelakangi oleh survei yang pernah dilakukan KPK di dua kota yaitu Solo dan Yogyakarta, tentang pendidikan kejujuran dalam keluarga. Hasilnya hanya 4% dari seluruh keluarga yang telah melakukan pendidikan kejujuran kepada anak-anaknya. Pendidikan kejujuran yang dimaksud bukan dalam arti definitif. Namun memberikan contoh pada perilaku jujur saat melakukan kegiatan sehari-hari.

 

Peran ibu sebagai agen perubahan

"Terlihat bahwa ibu memiliki peran yang sangat besar untuk mengajarkan kejujuran pada anaknya. Oleh karena itu kami kemudian membuat program sosialisasi SPAK dengan sasaran perempuan-perempuan yang ada di rumah, yang ada di lingkungan mana pun tempat perempuan beraktivitas. Karena ternyata yang paling efektif itu adalah peran perempuan. Perempuan memiliki banyak aktifitas. Dia paling dekat dengan anaknya dan suaminya. Dan dengan cara ini dampak korupsi dan bahaya korupsi bisa disampaikan oleh perempuan pada lingkungan terdekatnya," terang Yuyuk. SPAK berusaha terus memberikan sosialisasi kepada para ibu untuk nantinya menularkan sikap anti-korupsi ke masyarakat luas.

 

Hidup sederhana pangkal kejujuran

Gerakan SPAK juga sudah mencatat banyak perubahan yang dilakukan para agennya. "Seperti misalnya seorang istri tak mau lagi menggunakan mobil dinas suaminya. Itu sudah perubahan yang sangat besar untuk Indonesia karena biasanya ibu-ibu suka menumpang bila pergi ke pasar menggunakan mobil dinas suaminya. Ketika kita sadarkan itu adalah perilaku koruptif. Ibu tidak boleh melakukan itu, dan perubahan itu pantas dicatat," jelasnya.

 

Yuyuk juga berharap perempuan-perempuan Indonesia bisa menerapkan kehidupan sederhana dalam keluarganya masing-masing. Dengan gaya hidup yang tidak boros, perilaku konsumtif akan terhindar. "Gaya hidup yang berlebihan harus kita hindari. Pada intinya membelanjakan uang dengan bijak," tutup yuyuk.

 

yp/hp