Perempuan Peneliti, Antara Karier dan Anak | Sosial | DW | 07.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Perempuan Peneliti, Antara Karier dan Anak

Semakin lama masa kuliah atau masa studi seorang perempuan, semakin menurun keinginan mereka untuk memiliki anak. Apalagi kalau kemudian, mereka bekerja di lingkungan kampus.

Dilema perempuan: karir atau anak?

Dilema perempuan: karir atau anak?

Demikian hasil sebuah penelitian di kota Dortmund, Jerman yang melibatkan 22 ribu perempuan. Mereka terdiri dari para perempuan bergelar doktor, profesor, dan juga para ilmuwan dan dosen yang bekerja di negara bagian Nordrheinwestfalen. Masih menurut penelitian tersebut, perempuan yang pada akhirnya memutuskan untuk berkeluargapun, pada dasarnya meninggalkan kegiatan mereka di universitas.

Berkurangnya Ilmuwan

Universitas sepertinya memiliki efek yang sama seperti alat kontrasepsi. Tahun demi tahun, para ilmuwan yang berkualifikasi tinggi meninggalkan penelitian mereka, karena tidak bisa membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Seorang perempuan yang juga peraih hadiah Nobel dari Tübingen, Christiane Nüsslein-Vollhard, ingin melakukan sesuatu untuk mencegah berkurangnya kaum perempuan di kancah ilmu pengetahuan khususnya bidang penelitian.

Jadwal Kerja Yang Padat

Bekerja sebagai seorang peneliti atau ilmuwan bukanlah pekerjaan yang mudah. Ini bukan pernyataan basa-basi melainkan kenyataan yang ada. Pekerjaan ini menuntut pengorbanan yang tidak sejalan dengan keluarga. Proyek penelitian yang terus berganti, waktu kerja yang sangat lama, bekerja hingga malam hari di meja kerja, bermalam di laboratorium, dan menghabiskan akhir pekan dengan mengikuti seminar-seminar. Dan siapa yang tidak mampu mengikuti ketatnya jadwal kerja seperti itu, akan dengan cepat keluar dari kelompok elit peneliti. Peraih hadiah Nobel Christiane Nüsslein-Volhard tahu persis beratnya sistem kompetisi di lingkungan para peneliti.

Christiane Nüsslein-Volhard : "Sangatlah penting untuk terus mengikuti perkembangan. Kami harus menghasilkan jumlah penelitian tertentu. Ini seperti seorang seniman atau musisi – yang harus mengadakan sejumlah konser untuk menjadi terkenal – demikian juga yang harus dilakukan peneliti untuk memiliki nama di dunia penelitian. Jika Anda ingin tetap berada di kelompok elit peneliti, tenatu anda harus melakukan hal-hal yang baru. Dan jika Anda membutuhkan waktu yang terlalu lama, maka orang lain yang akan melakukannya dan mendahului Anda.“

Memilih Jadi Ibu Rumah Tangga

Namun, hanya sedikit ibu muda yang sanggup menjalaninya. Dan ini tidak ada hubungannya dengan tidak adanya tempat untuk penitipan anak. Menurut Nüsslein-Volhard, perempuan di Jerman kini agak lain daripada yang lain. Sangat berbeda dengan perempuan di Denmark atau Prancis. Perempuan yang bekerja di Jerman masih belum dianggap sebagai hal yang mutlak. Mereka juga masih merasa tidak enak jika harus menitipkan anak dan tidak melakukan pekerjaan rumah. Ayah muda sebaliknya tidak memiliki masalah untuk menyatukan karir dan anak.

Christiane Nüsslein-Volhard : "Kami juga menanyakan kepada para perempuan dalam penelitian kami, bagaiman pendapat pasangan mereka mengenai hal ini. Dan jawaban yang ada kadang sepeti: Suami saya tidak bisa mengurus anak-anak, ia kan memliki pekerjaan. Ini adalah tanda bahwa para perempuan tidak menganggap serius pekerjan mereka. Dan menurut saya ini adalah masalah utama kaum perempuan. Mereka tidak menganggap serius diri mereka sendiri.“

Bantuan Untuk Tetap Menjadi Peneliti

Untuk mendukung para perempuan tersebut, wanita berusia 64 tahun ini medirikan sebuah yayasan bagi para ilmuwan perempuan muda. Delapan perempuan berbakat sudah menerima bantuan dari yayasan ini. Selama satu tahun mereka mendapatkan dana tambahan sebesar 400 Euro atau sekitar 5 juta rupiah setiap bulan untuk membayar tempat penitipan dan tenaga pembersih rumah mereka. Bagaimana cara mereka mengaturnya dibabaskan kepada masing-masing penerima dana tambahan.

Christiane Nüsslein-Volhard : "Kami mencari perempuan yang sudah sudah berusaha mencari tempat penitipan anak misalnya. Jadi kami tidak bisa membantu mereka yang sebenarnya sudah menyerah terlebih dahulu. Kami membantu mereka yang tanpa bantuan kami juga akan berhasil. Kami ingin memudahkan hidup mereka dan memajukan penelitian mereka dengan cara memberikan peluang waktu yang lebih banyak bagi mereka. Tujuannya adalah benar-benar untuk memperbaiki penelitian dan mengurangi stres kaum perempuan dalam bidang yang sebenarnya sudah cukup banyak memberikan tekanan stres.“

Anak dan Karir, Keduanya Dapat Dimiliki

Perempuan masih saja menjadi makhluk langka dalam kelompok elit peneliti. Seperti di seluruh Max Planck Institute di Jerman misalnya, dari 720 direktur universitas hanya 12 orang yang perempuan. Dan dari 12, hanya empat orang dari mereka yang mempunyai anak. Sementara 90 persen dari direktut laki-laki memiliki status sebagai ayah. Nüsslein-Volhard juga tidak memilki anak. Namun ini tidak menghentikannya untuk meyakinkan rekan kerjanya bahwa seorang peneliti perempuan bisa memperoleh keduanya: Anak dan Karir!