Perempuan kritis di Iran ditangkapi | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 26.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Perempuan kritis di Iran ditangkapi

Di Iran rasia aturan perempuan berpakaian kembali gencar. Namun rasia seperti ini tidak pernah berhasil mematahkan semangat perempuan Iran.

default

Polisi Islam menghadang perempuan-perempuan di jalan karena menggunakan pakaian yang membayangkan nuasa tubuh. Ratusan ribu peringatan dibagikan kepada para perempuan yang dinilai bersalah. Begitu laporan kantor berita Iran dan AFP.

Bagi pemerintah Islam Iran, kegiatan aktifis perempuan Iran dalam kehidupan sosial bagaikan duri yang mengganggu. Dan para perempuan yang vokal ditangkapi. Berlatar belakang kondisi ini upaya perempuan Iran memperjuangkan kesetaraan, tidak mudah. Meski begitu mereka tetap gigih, kampanye satu juta tanda tangan menunjukan hal itu.

Kampanye satu juta tanda tangan merupakan aksi protes terhadap diskriminasi hukum Islam terhadap perempuan di Iran. Misalnya, hak lelaki Islam memiliki empat istri merupakan salah satu diantara peraturan diskriminatif itu. Belum lagi dengan legalisasi kawin siri yang berakar dalam hukum Islam kaum Shiah.

Di Iran legalisasi sistim kawin kontrak ini de facto juga melegalisasi prostitusi. Dan bagi banyak perempuan Iran merupakan salah satu di antara banyak alasan untuk protes. Bahkan untuk protes semacam ini, pemerintah Iran kembali menangkapi para aktivis dan jurnalis perempuan beberapa minggu terakhir ini. Salah satu jurnalis yang akhirnya dibebaskan adalah Nahid Keshawarz. Ia mengatakan,

„Pengadilan Iran beranggapan, bahwa kampanye satu juta tanda tangan tidak cukup jelas dan transparen. Mereka ingin tahu apa yang diinginkan oleh kaum perempuan dengan aksi protes ini…“

Kampanye ini dimulai pada 12 Juni tahun lalu. Ketika itu sejumlah perempuan berunjuk rasa agar masalah yang mereka hadapi diperhatikan. 70 orang pengunjuk rasa ditangkap. Mereka dituduh melanggar hukum Islam dan mempertanyakan agama itu. Para perempuan itu juga dituduh mengancam keamanan nasional Iran.

Pemenang hadiah Nobel dan aktivis hak asasi manusia, Shirin Ebadi adalah salah satu pengacara yang membela aktivis perempuan yang ditahan itu. Ia bertanya:

“Sejak kapan sih protes terhadap hak lelaki memiliki banyak istri itu merupakan pelanggaran keamanan nasional?”

Pakar hukum Nasrin Notodeh yang bersama Ebadi membela para perempuan yang didakwa ini menegaskan,

„Tuntutan para perempuan ini legitim. Pengadilan Iran itu menuduh klien saya, bertindak melawan keamanan nasional, memulai kerusuhan dan terlibat dalam aksi yang ilegal. Ia diberi tahu bahwa kampanye sejuta tanda tangan itu ilegal dan bertentangan dengan nilai dasar Islam. Maka pertanyaan kami adalah apakah hak lelaki memiliki banyak istri itu merupakan bagian dari nilai dasar Islam? Mungkinkah seorang perempuan yang memprotes hal ini dianggap mengancam keamanan nasional?“

Pada hari Internasional Perempuan 8 Maret lalu para aktivis perempuan kembali berdemonstrasi menuntut pembebasan rekan-rekannya yang sejak tahun lalu ditahan. Polisi Iran kembali menciduk sebagian besar partisipan, beberapa diantaranya dijebloskan ke penjara Ewin.

Penahanan 40 aktivis perempuan yang terakhir ini hanya memperuncing konflik dengan pemerintahan Iran itu, karena para aktifis perempuan ini tidak berhenti berjuang sebelum ada kesetaraan di Iran.

Iklan