Perempuan dan Kemiskinan | Sosial | DW | 15.07.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Perempuan dan Kemiskinan

Tanpa kesetaraan gender, kemiskinan dan keterbelakangan hampir tidak mungkin dapat diatasi sepenuhnya.

default

Hari Kependudukan Dunia telah berlalu tanggal 11 Juli yang lalu. Namun, ada satu tema penting yang kembali terangkat berkat peringatan hari tersebut. Yaitu, kesetaraan gender atau lebih tepatnya lagi persamaan hak dan derajat bagi kaum perempuan. Karena khususnya bagi perempuan muda, hal ini masih sulit untuk diwujudkan.

Tanpa kesetaraan gender, kemiskinan dan keterbelakangan hampir tidak mungkin dapat diatasi sepenuhnya. Ini adalah pernyataan yang dikeluarkan laporan Kependudukan Dunia. Jelas terbaca makna tuntutan untuk kesetaraan gender di seluruh dunia. Christa Stolle, pimpinan organisasi non pemerintah Terre des Femmes, sangat mendukung kebebasan untuk memilih dan kebebasan untuk hidup anak perempuan dan perempuan dewasa. Namun ia mengamati, bahwa tuntutan dan kenyataan yang ada masih harus dipisahkan. Seperti misalnya, jalur untuk mendapatkan pendidikan :

Christa Stolle: “Hampir lebih dari 10 persen penduduk dunia tidak dapat membaca dan menulis. Dua pertiga diantaranya perempuan. Ini berhubungan erat dengan situasi kemiskinan. Karena, jika uang untuk sekolah dan pendidikan ada, maka pada dasarnya hanya anak laki-laki yang dikirim ke sekolah. Bukan anak perempuan. Karena itu kami dari Terre des Femmes harus lebih menekan organisasi bantuan pembangunan dan juga negara-negara kami, supaya mereka lebih menginvestasi pendidikan anak perempuan dan perempuan dewasa.”

Hasil penelitian menunjukkan : semakin lama seorang ibu yang mengenyam pendidikan, semakin menurun angka kematian ibu dan bayinya. Karena para perempuan tersebut lebih tahu mengenai tema kesehatan, perencanaan kehamilan, dan keluarga berencana. Selain itu, perempuan yang lebih berpendidikan, secara sadar memiliki jumlah anak yang lebih sedikit dan dapat mengurus serta mendidik anaknya.

Tema lain yang diangkat dalam laporan Kependudukan Dunia adalah situasi kesehatan kaum perempuan. Bertambahan penyebaran HIV dan AIDS di kalangan perempuan muda, khususnya di Afrika bagian Selatan Sahara, sangat mengkhawatirkan.

Christa Stolle: “Kini disana angka perempuan muda yang terinfeksi jauh lebih tinggi daripada kalum laki-laki. Dulu, ini sebenarnya masalah laki-laki. Tetapi kini ini menjadi masalah perempuan. Perempuan lebih mudah terinfeksi dan mereka dapat menularkannya kepada anak yang mereka lahirkan. Ini tentu saja merupakan bom waktu di Afrika.”

Khususnya di Afrika, anak perempuan dan perempuan muda juga terkena bahaya kesehatan karena masalah praktek sunat perempuan. Sedikitnya empat juta anak perempuan dan perempuan dewasa di Afrika Barat Burkina Faso harus mengalamai penderitaan tersebut.

Terre des Femmes menyatakan perang terhadap sunat perempuan dan mendukung toga proyek di negara-negara Afrika, di anatarnya Burkina Faso dan Tansania.

Christa Stolle: “Disana angka rata sunat sudah berkurang 70 persen. Juga mereka yang melakukan praktek sunat, meletakkan pisau mereka dan berganti pekerjaan. Mereka kemudian bekerja sebagai bidan dan suster. Dan ini adalah contoh yang menunjukkan bahwa, penerangan dapat membuahkan hasil. Penerangan kan tidak ada bedanya dengan pendidikan. Mereka diinformasikan mengenai akibat dari sunat tersebut, dan untuk itu tidak harus bisa membaca dan menulis. Ini hanya supaya mereka mendapatkan informasinya.”

Hari Kependudukan Dunia kali ini mengusung slogan “Young People”. Dalam situasi apakah khususnya anak perempuan dan perempuan muda kini berada? Christa Stolle melihat adanya perbedaan mencolok yang bergantung dari wilayah tempat tinggal mereka.

Christa Stolle: “Saya khawatir, dunia akan terbagi menjadi dua bagian. Yang pertama Afrika sebagai benua kemiskinan dimana masih banyak yang harus dibenahi dan tentu saja Asia dimana tengah terjadi kemajuan luar biasa tidak hanya dari segi perekonomian namun juga segi pendidikan dan juga bagi kaum perempuan, khususnya perempuan muda. Dan saya rasa, ancaman bagi semua adalah penyebaran fundamentalisme. Bahwa kita dan khususnya anak perempuan dan perempuan muda terancam melalui fundamentalisme agama, yang tidak ingin agar perempuan disamakan derajatnya.”

Menjadi perempuan di belahan dunia yang salah memang bukan hal yang mudah. Namun ini tidak berarti, para kaum perempuan disana tidak berusaha untuk memperjuangkan nasib mereka dan eksistensi mereka sebagai perempuan. Keseteraan gender, sebuah tema yang sebenarnya sudah mulai bergulir semenjak puluhan tahun ynag lalu. Sayang, hingga kini di abad ke 21, sepertinya problematik ini belum terlihat akan benar-benar terselesaikan untuk selamanya.