Perdana Menteri Israel Didesak Mundur | Fokus | DW | 18.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Perdana Menteri Israel Didesak Mundur

Pengunduran diri Panglima Militer Israel Dan Halutz, memicu krisis politik di Israel. Sekarang desakan untuk meletakan jabatan juga ditujukan kepada Perdana Menteri Israel Ehud Olmert dan Menteri Pertahanan Amir Peretz. Hari Rabu (17/01) jajaran politik Israel menuntut tanggung jawab kedua tokoh itu.

Ehud Olmert didampingi Dan Halutz (kiri) dan Amir Peretz (kanan)

Ehud Olmert didampingi Dan Halutz (kiri) dan Amir Peretz (kanan)

Setelah perang Libanon berakhir, kritik hebat dilontarkan kepada Panglima Militer Israel Dan Halutz karena militer Israel tidak berhasil mencapai satupun tujuan yang ditargetkan. Kelompok Hisbullah masih bertahan, sedangkan serdadu Israel yang sebelumnya diculik kelompok itu belum juga bebas.

Partai oposisi Israel menyebutkan, Panglima Militer Jendral Dan Halutz bukan satu-satunya yang bertanggung jawab untuk berbagai kesalahan perang Libanon. Pemerintahan Israel juga bertanggung jawab, demikian tukas Ophir Pines-Pas dari Partai Buruh. Tahun lalu Pines-Pas masih menjabat menteri dalam kabinet Ehud Olmert. Sekarang Ketua fraksi Meretz yang berhaluan kiri dan partai Likud yang berhaluan kanan bersuara satu. Mereka mendesak Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert dan Menteri Pertahanan, Amir Peretz untuk mundur.

Gideon Saar dari partai Likud mengatakan, tidak masuk akal bila semua kesalahan ditanggung oleh panglima militernya, sementara atasannya di jajaran politik menghindari tanggung jawab itu dan tetap mempertahankan jabatannya. Mantan Menteri Luar Negeri Israel Silvan Shalom menggambarkan dampak politik mundurnya Jendral Dan Halutz sebagai berikut:

"Melihat ke belakang, keputusan semacam itu biasanya tidak berakhir hanya dengan pengunduran panglima militer. Saya tidak melihat alternatif lain dan saya pikir, pemerintah Israel bagai berada diambang keruntuhan. Keputusan itu telah mengguncang posisi perdana menteri, menteri pertahanan dan seluruh jajaran pemerintahan Israel. Seolah-olah tak ada hukum, juga tidak ada yang menghukum, dan semua bertindak semaunya sendiri. Sekarang ini tidak ada raja dI Israel.“

Mundurnya Panglima Militer Israel Jenderal Dan Halutz memicu kembali situasi panas yang terjadi Agustus lalu, ketika perang berakhir. Ketika itu mayoritas rakyat Israel menuntut ketiga tokoh utama di jajaran politik dan militer untuk meletakan jabatan.

Setelah berakhirnya perang Libanon, Jendral Halutz mengira bahwa kemarahan rakyat atas prestasi buruk militer akan mereda. Apalagi baik Olmert maupun Peretz tidak menuntut tanggung jawab perorangan pimpinan militer. Namun evaluasi internal militer menunjukan banyak perwira tinggi Israel yang mengecamnya: Halutz terlalu yakin bahwa hanya dengan serangan udara, kaum Hisbullah dapat dikalahkan. Padahal ia tidak menyiapkan siasat perang. Disebutkan, Halutz hanya mempromosikan pendapatnya sendiri kepada petinggi politik, tanpa mengindahkan masukan para perwira lainnya.

Kegagalan militer Israel menghentikan serangan roket Katjuscha setelah enam minggu peperangan telah mengubah pandangan masyarakat terhadap Halutz, seperti juga terhadap perdana menteri dan menteri pertahanan Israel. Sekarang setelah Halutz mengundurkan diri, di dalam partai masing-masing-masing, posisi Ehud Olmert dan Amir Peretz semakin lemah.