Perdamaian Ala Seniman Nomadik Lewat Komunitas Kreatif | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 15.06.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Kesenian

Perdamaian Ala Seniman Nomadik Lewat Komunitas Kreatif

Seniman kontemporer Indonesia, Arahmaiani, aktif mengembangkan komunitas kreatif. Proyek yang dikenal sebagai "Flag Project" atau Proyek Bendera berfokus pada kolaborasi kreatif dalam menuntaskan berbagai masalah.

Flag Project turut ambil bagian dalam konferensi "Embodied History- Entangled Community" yang digelar di Museum Hamburger Bahnhof Berlin, Jerman, 13-14 Juni lalu. Konferensi ini bertujuan memberi perspektif baru dalam mengisahkan sejarah dan membentuk komunitas. Lantas perpektif apa yang ditawarkan oleh Arahmaiani dalam Flag Project ini? Ikuti wawancara DW dengan Arahmaiani.

Deutsche Welle: Bagaimana awalnya hingga memulai Flag Project dan bagaimana pengembangan kreativitas dalam Flag Project ini?

Arahmaiani: Proyek dimulai tahun 2006, saat gempa besar terjadi dan banyak korban di Jogja dan sekitarnya. Waktu itu saya bertemu dengan Kiai Djawis Masruri, pesantren Amumarta di Bantul, pesantren paling tua di Jogja. Kami coba beri bantuan kepada korban. Sebetulnya waktu itu saya ada teman pelukis dari Belanda, namanya Bert Hermens. Bert membantu akhirnya pesantren ini dapat dana bantuan dari Belanda. 

Dari situ kita mulai kerjasama, muncul gagasan-gagasan. Kebetulan karena saya aktivis lingkungan hidup, saya pun mengusulkan 'bagaimana kalau ini fokus ke masalah lingkungan hidup?' karena ini penting untuk kedepan terutama generasi mendatang. Dari situ kami mulai kerjasama sampai sekarang. 

Arahmaianis Flaggenprojekt Performance (DW/S. Caroline)

Seniman Indonesia Arahmaiani.

Misalnya komunitas pesantren membuat batik dengan bahan alami. Nah sekarang sudah mempekerjakan lebih dari 130 orang. Itulah pertama sekali kerja komunitas yang betul real mengerjakan hal-hal untuk kehidupan sehari-hari. Selain itu juga buat biofuel dari buah Nyamplung, juga kosmetik dari bahan alami. Ada produk yang bisa bantu kondisi perekonomian masyarakat, jadi proyek kongkrit sekali. 

Waktu itu muncul lah dua bendera dari dua huruf Arab Pegon atau Arab Melayu. Satu itu akal, kedua itu nyali. 

Bagaimana respon audiens ketika mengerjakan proyek-proyek semacam Flag Project, terutama di Eropa dan juga negara lainnya?

Di Eropa sudah delapan tahun, setiap semester musim panas, saya mengajar di Fakultas Filsafat, Departemen Asia Tenggara, Universität Passau. Saya bekerja sama dengan komunitas lokal di Passau. Mengatasi masalah lingkungan hidup juga ada disana. Ada kelompok di pemerintahan yang mengusulkan untuk membangun benteng di pinggir Sungai Inn, untuk menghindari banjir, tapi mereka akan menebang pohon di taman publik. Komunitas semakin besar, bersama berjuang untuk (menolak penebangan) itu. 

Saya diminta bantuan juga untuk input stimulasi kreatif untuk masalah masyarakat adat di Australia atau Kanada. Sebenarnya dasar budaya lokal tradisional itu sama, menghormati alam, menghormati semua makhluk.

Proyek lain di luar Indonesia yang telah berjalan sembilan tahun itu komunitas kreatif di Tibet, mulai saat Tibet dilanda gempa tahun 2010. Agak nekat juga sih, karena biasanya orang asing tidak boleh ke sana. Tapi karena ada asisten saya, seniman muda dari Cina, namanya Li Mu saya pun pergí. Sampai disana saya pun tersentuh dan merasa terpanggil, karena disana kondisi begitu hancur lalu orang tinggal di tenda, padahal musim dingin disana bisa minus 30 atau 40 derajat. Semenjak itu setiap musim panas saya kesana untuk bekerja bantu mereka mengatasi masalah lingkungan hidup. Kenapa penting? Selain empati dengan orang-orangnya, ini juga karena Plato Tibet. Kutub ketiga itu satu bidang es terluas di muka bumi dan juga sebagai tower air asia. Lebih dari dua miliar orang Asia hidup dari air disana, karena pemanasan global, banjir, longsor, kekeringan juga diprediksi para ahli bisa terjadi di tahun 2030, jika tidak dilakukan usaha pencegahan.

Saya dapat dukungan dengan komunitas disana, saya kerja dengan biksu-biksu. Senang karena biksu-biksu jadi aktif, sangat rajin dan sangat bisa diandalkan, tidak ada korupsi. Jadi proyek terus ada saja dari mengelola sampah, daur ulang lalu menanam pohon, bertani organik, mengatur pengairan, dan membuat energi alternatif dari air. Karena alasan ini, pemerintah setempat pun beri saya ijin untuk bekerja disana.

Melihat perkembangan politik di Indonesia yang saat ini terpolarisasi, apa yang bisa dikembangkan komunitas kreatif untuk mengimbanginya?

Di Tibet, Lama Atisa dikenal sebagai reformer agama Budha, orang Tibet tahu tradisi ini dari Indonesia. Namun orang Indonesia banyak yang belum tahu. Saya terkesan sekali dengan inti tradisi dan ajaran yang sifatnya unik, merangkul seluruh aliran (kepercayaan). Ini adalah ajaran Sinkretisme dari Borobudur dimana Budhisme, Hinduisme, dan Animisme semuanya dirangkul.

Semenjak 2006, saya bekerja dengan pesantren juga mempertemukan biksu dengan santri-santri. Saya juga banyak bekerja dengan kelompok non muslim. Saya biasa dengan kerja bermacam kelompok. 

Pertunjukkan Bendera adalah salah satu bagian dari kegiatan untuk mengekspresikan kebersamaan, sedang Proyek Bendera ini saya harap jadi kerja yang kelihatan. Bukan sekadar kumpul 'basa basi' lintas agama yang cuma foto atau salam-salaman. Tapi bagaimana bisa diterapkan dalam kegiatan kongkrit. Dengan adanya proyek seperti ini, beberapa komunitas ini bisa dipertemukan. Dan dari sana banyak kemungkinan muncul. Saya sering ajak ke masalah-masalah lingkungan hidup, yang mendasar, tidak usah pakai teori, yang orang lihat atau alami langsung. 

Banyaknya saya hubungkan dengan masalah lingkungan hidup, sharing-nya ternyata lebih mudah, dari situ banyak muncul juga persoalan lain sosial hingga politik. Kita hadapi dengan pendekatan kreatif dan alternatif, inilah menariknya kerja komunitas. Kerja seperti ini merekatkan hubungan anggota komunitas, tidak perlu lagi membatasi 'kamu muslim, bukan muslim'. Kalau kita bisa bekerja sama mengatasi masalah sehari-hari itu, kita seperti saudara walau beda keyakinan, beda latar belakang budaya, beda warna kulit. Kita perlu aksi aksi kongkrit yang tidak cuma dikepala.

Arahmaiani adalah seniman Kontemporer Indonesia kelahiran Bandung tahun 1961 yang berpraktik dengan ragam medium seni: pertunjukkan, video, installasi, lukisan, gambar, tari, musik dan puisi. Menempuh studi di Institut Teknologi Bandung, Fakultas Seni dan Desain tahun 1980, ia melanjutkan studi di Paddington Art School, Sydney pada tahun 1983 dan The Academie voor Beeldende Kunst di Enschede, Belanda tahun 1985. Karya Arahmaiani kian dikenal dalam sirkuit seni kontemporer internasional, setelah berpartisipsi dalam Venice, Guangju, Sao Paolo Biennales, Asia Pacific Triennial, hingga pameran ternama dengan skala International seperti Cities on the Move dan Global Feminism.

(ed: yp)

 

Laporan Pilihan