Perayaan 70 Tahun Cina Berlangsung Megah, Hong Kong Masih Digoyang Aksi Demo | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 01.10.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Cina

Perayaan 70 Tahun Cina Berlangsung Megah, Hong Kong Masih Digoyang Aksi Demo

Truk-truk senjata termasuk rudal nuklir berpawai di Beijing hari Selasa (1/10) merayakan ulang tahun ke-70 pendirian Republik Rakyat Cina. Negara itu ingin tampil sebagai kekuatan global yang berambisi.

Cina memamerkan senjata-senjata tercanggihnya dalam perayaan 70 tahun pendirian Republik Rakyat Cina (RRC). Kalangan pengamat mengatakan, beberapa persenjataan untuk pertama kalinya dipamerkan kepada publik pada pawai di depan Presiden Xi Jinping dan para pemimpin lainnya di Lapangan Tiananmen. Ribuan penonton terlihat melambaikan bendera, sementara jet tempur bergemuruh terbang rendah di atas kepala mereka.

"Tidak ada kekuatan yang dapat mengguncang status tanah air kita yang agung, dan tidak ada kekuatan yang dapat menghentikan kemajuan warga Cina dan bangsa China," kata Xi Jinping dalam pidato sambutannya yang disiarkan ke seluruh negeri. Xi Jinping mengenakan jaket abu-abu seperti jaket tradisional pemimpin besar Cina Mao Zedong.

Di kawasan istimewa Hong Kong, suasana agak berbeda dengan Cina daratan. Para pengunjuk rasa masih terus menggelar aksi di berbagai bagian kota. Kelompok terbesar memenuhi jalan utama di pusat kota sambil meneriakkan slogan-slogan menentang PKC.

Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam tidak berada di Hong Kong, melainkan menghadiri perayaan besar di Beijing. Di mimbar kehormatan Tiananmen terlihat Perdana Menteri Li Keqiang, mantan Presiden Hu Jintao dan Jiang Zemin dan serta para para pemimpin lainnya.

Memamerkan kemajuan ekonomi dan militer

Acara ini memperingati ulang tahun pendirian Republik Rakyat Cina 1 Oktober 1949, yang dideklarasikan oleh Mao Zedong setelah tentara komunis memenangkan perang saudara. Presiden Cina Xi Jinping menyampaikan pidatonya di lokasi yang sama seperti Mao Zedong mendeklarasikan negara komunis Cina tahun 1949.

Xi Jinping mengendarai kendaraan terbuka, melewati barisan rudal yang dipasang di truk dan peralatan militer berat lainnya. Para serdadu berpakaian lengkap menyambut dengan teriakan "Halo, pemimpin!" dan "Layani Rakyat!", sedang Xi Jinping menjawab "Halo, kamerad!". Sebuah formasi jet tempur dengan asap berwarna terbang rendah, Xi Jinping lalu melambaikan tangan ke arah pilot.

Parade di Beijing menampilkan persenjataan modern hasil teknologi senjata Cina yang berkembang pesat selama beberapa dekade terakhir. Perekonomian Cina dalam tigapuluh tahun terakhir juga melaju pesat, pengeluaran militer naik dua kali lipat dalam waktu sepuluh tahun. Para pengamat asing mengatakan, teknologi rudal dan drone Cina sudah hampir mendekati Amerika Serikat, Rusia dan Eropa.

Tentara Pembebasan Rakyat Cina adalah militer terbesar di dunia dengan 2 juta serdadu, termasuk perempuan, yang juga bertugas di satuan pesawat tempur, kapal selam bertenaga nuklir dan kapal induk pertama buatan Cina.

Cina peringatkan Hong Kong dan Taiwan

Xi Jinping dalam pidatonya berjanji untuk tetap berpegang pada komitmen "satu negara dua sistem" yang disepakati saat penyerahan kembali Hong Kong oleh Inggris kepada Cina. Hong Kong ketika itu dijanjikan memiliki konstitusi sendiri yang demokratis dan berlaku selama 50 tahun.

Namun suasana di Hong Kong sekarang sangat lain dengan Cina daratan. Di Shenzhen, kota Cina daratan yang langsung berbatasan dengan wilayah Hong Kong, puluhan kendaraan militer lapis baja tampak disiapkan di luar sebuah stadion.

Xi Jinping juga memperingatkan Taiwan, pulau yang dianggap Cina sebagai bagian dari wilayahnya, agar benar-benar mewujudkan persatuan kembali dengan Cina. Karena Beijing tetap menuntut Taiwan kembali, kalau perlu dengan paksa. Bulan lalu, Beijing bahkan berhasil membujuk Kepulauan Solomon untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Taiwan.

Penyatuan Taiwan dengan Cina daratan adalah sesuatu "yang tak terhindarkan" dan "tidak ada kekuatan yang bisa menghentikannya," kata Xi Jinping dalam pidatonya.

hp/vlz (afp, rtr, ap)

 

Laporan Pilihan