1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KriminalitasPapua Nugini

Perang Suku di Papua Nugini, Puluhan Orang Dilaporkan Tewas

19 Februari 2024

Polisi menyebut mayat berlumuran darah ditemukan di sepanjang jalan pada daerah dataran tinggi yang terpencil di Papua Nugini. Sebuah eskalasi mengerikan akibat kekerasan yang berlangsung lama antara suku yang bertikai.

https://p.dw.com/p/4cYkO
Laki-laki memegang kapak di Distrik Laigam, Provinsi Enga, Papua Nugini
Laki-laki memegang kapak saat menyaksikan pertunjukan Kelompok Teater Tiria di Distrik Laigam, Provinsi Enga, Papua Nugini (05/09/2019). Kelompok ini menampilkan drama interaktif di desa yang terkena dampak pertempuran antarsuku.Foto: Betsy Joles/Getty Images

Pihak Kepolisian menyebut sedikitnya puluhan korban tewas terbunuh akibat perang antarsuku di dataran tinggi terpencil di Papua Nugini (PNG). Sejumlah pihak meninggal dunia dalam sebuah penyergapan di Provinsi Enga, pada hari Minggu (18/02) kemarin.

Penyergapan itu terjadi di dataran tinggi dekat Desa Wapenamanda, sekitar 600 kilometer barat laut Ibu Kota Port Moresby.

Semula, pihak kepolisian menyebut jumlah korban dari insiden di Papua Nugini ini mencapai 53 orang, dan bahkan ada yang menyebutkan hingga 64 orang. Kemudian, jumlah tersebut kembali direvisi oleh pihak kepolisian lokal dengan total korban tewas mencapai 26 orang. Hal tersebut dilaporkan oleh stasiun siaran Australian Broadcasting Corporation (ABC).

Namun, jumlah ini juga masih belum bisa diverifikasi oleh kantor berita Reuters.

"Kami percaya, masih ada beberapa korban meninggal dunia lainnya… di luar sana, di semak-semak," kata Asisten Komisaris Polisi Samson Kua.

Polisi: Pembunuhan Terbesar di PNG

"Setidaknya, ini adalah (pembunuhan) terbesar yang pernah saya lihat di Enga, mungkin juga di seluruh Dataran Tinggi, di Papua Nugini," kata Penjabat Inspektur Kepolisian George Kakas kepada stasiun siaran ABC.

Sejumlah video dan foto yang bermunculan memperlihatkan mayat-mayat korban diangkut ke dalam truk milik polisi.

Merespons kejadian ini, Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese menyatakan pihaknya siap membantu Papua Nugini, dan menyebut kejadian ini sebagai "kejadian yang sangat mengganggu".

"Kami tetap bersiap untuk memberikan dukungan sederhana dalam bentuk apa pun yang kami bisa, tentunya, untuk membantu kolega kami di PNG," ujar PM Australia Anthony Albanese.

Tingkat kekerasan meningkat

Papua Nugini merupakan tempat tinggal bagi ratusan suku, dan banyak di antaranya masih tinggal di daerah yang tidak aman serta terpencil.

Meningkatnya jumlah populasi menekan jumlah lahan dan sumber daya, selain itu juga mempertajam persaingan antarsuku.

Pihak kepolisian meyakini bahwa para korban akibat kejadian hari Minggu (18/02) itu kebanyakan berstatus sebagai tentara bayaran, mereka berkeliaran di pedesaan menawarkan bantuan untuk membantu suku-suku tersebut menyelesaikan masalah dengan pesaing mereka.

Masuknya para tentara bayaran dan senjata otomatis ini telah membuat pertikaian menjadi semakin mematikan dan meningkatkan siklus kekerasan.

Sementara itu, pihak keamanan tetap kalah jumlah dan persenjataan, meskipun pihak militer telah mengerahkan pasukan.

Polisi upayakan operasi pemulihan

Pascaperang antarsuku, Kepala Kepolisian Papua Nugini menyebut personel tambahan sudah dikerahkan ke wilayah dataran tinggi tersebut. Mereka diberikan wewenang untuk menggunakan "tingkat kekuatan apa pun”.

Komisaris Polisi David Manning mengatakan bahwa "operasi-operasi yang ditargetkan” tengah berlangsung untuk memulihkan "hukum dan ketertiban". Personel ini punya instruksi yang jelas untuk menggunakan tingkat kekuatan apa pun yang diperlukan demi mencegah kekerasan lebih lanjut dan upaya balas dendam," katanya.

mh/hp (AFP, AP, Reuters)

Jangan lewatkan konten-konten eksklusif berbahasa Indonesia dari DW. Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!