Perang Melawan Perang | dunia | DW | 18.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Perang Melawan Perang

Tentara AS untuk pertama kalnyai menentang strategi Irak Bush, secara terbuka.

Simbol tentara Amerika di Irak

Simbol tentara Amerika di Irak

Steve Mortillo meninggalkan seragamnya di rumah. Namun kenangan semasa ia bertugas di Irak membuntuti pria muda itu. Selama satu tahun ia bertempur di Samarra dalam divisi infantri pertama. Melawan musuh yang tak kelihatan, begitu katanya. Melawan strategi yang keliru dalam sebuah perang yang keliru.

Kini Mortillo berdiri di depan gedung Kapitol di Washington, berjuang melawan mimpi buruknya.

"Yang terburuk adalah ketika rekan-rekan saya terbunuh, dan saya ada di sana. Pengalaman itu menghantui saya sampai sekarang."

Steve Mortillo adalah tentara aktif. Ia berperang di Irak bukan karena karena dinas militer tetapi karena tugasnya sebagai tentara AS. Dan ia adalah salah satu dari 1.100 tentara aktif yang secara terbuka menyatakan cukup untuk perang di Irak.

Menurut hukum, anggota militer, garda nasional atau tentara cadangan di AS tidak berhak melakukan aksi protes secara terbuka dan mengenakan seragam. Tetapi Mortillo dan anggota militer lainnya sudah mempelajari hukum militer dan menemukan jalan keluar. Instruksi nomor 1325.6.

Instruksi ini melarang anggota militer menyebarkan bahan tertulis selain lewat jalur resmi militer, tanpa persetujuan sebelumnya. Namun, tidak menghalangi untuk menyebarkan bahan tercetak, hanya karena berisi kritik terhadap kebijakan pemerintah atau pejabat negara.

Peraturan itu juga mengijinkan para serdadu menuntut lewat anggota Kongres, agar perang Irak diakhiri. Dan untuk itulah Sersan Marinir Liam Madden datang. Seperti yang lain, ia berangkat ke Washington untuk secara pribadi menyampaikan kepada anggota Kongres protes terhadap strategi Irak presiden AS.

"Seruan ini adalah suara para tentara. Perang ini tidak dapat dibenarkan, tidak bertanggungjawab dan tidak dapat dimenangkan. Kami ada di sini karena saudara-saudara kami meregang nyawa di Irak dan para politisi sibuk bertengkar." Demikian pernyataan Madden.

Semper fidelis, selalu setia. Inilah motto marinir AS. Sersan Madden mengatakan, ia sudah bersumpah untuk melindungi konstitusi, tapi ia juga berkewajiban untuk menyuarakan ketidakadilan.

Untuk pertamakalinya sejak perang Vietnam, tentara aktif AS menggunakan instruksi dalam hukum militer dan secara terbuka menentang komandan tertinggi mereka, yaitu presiden AS.

Seorang ibu ikut dalam aksi protes para serdadu. Putranya, Alex Carbanaro, dikirim ke Irak enam bulan lalu. Ia mengatakan, setiap tentara yang memprotes perang Irak lewat Konggres adalah patriot.

"Mereka adalah serdadu dan patriot. Mereka siap mati untuk kita dan kita, rakyat Amerika, mengecewakan mereka. Mereka adalah anak-anak kita, bawa anak-anak itu pulang."

Untuk mendukung seruan itu, Sersan Liam Madden membuat situs di internet, www.appealforredress.org
Di situs itu, setiap anggota militer AS bisa mengirimkan ungkapan protes yang sudah disiapkan, lewat email kepada anggota parlemen. Setiap jam, jumlah tentara yang ikut serta, bertambah. Mereka menyatakan perang terhadap perang.

Iklan