Perang Kata Antara Musharraf dan Karsai di Gedung Putih | Fokus | DW | 28.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Perang Kata Antara Musharraf dan Karsai di Gedung Putih

Sebuah pertemuan puncak segi tiga berlangsung di Washington, Amerika Serikat, selama tiga hari. Antara tiga pemimpin yang bersekutu dalam operasi anti Taliban. Namun tidak seperti negara yang bersekutu, Musharraf dan Karsai terlibat dalam adu mulut

Bush dalam jamuan makan malam bersama Musharraf dan Karsai

Bush dalam jamuan makan malam bersama Musharraf dan Karsai

Acara terdiri dari sejumlah pertemuan terpisah, antara para pemimpin, plus jamuan makan malam bersama, Rabu malam. Disebutkan presiden George Bush:

Bush: "Jamuan makan ini merupakan kesempatan bagi kami untuk menciptakan strategi bersama, membicarakan kebutuhan mendesak untuk bekerja sama, untuk menjamin bahwa rakyat mendapatkan masa depan yang penuh harapan."

Presiden George Bush sebagai tuan rumah, mengambil peran sentral dalam konferensi ini. Terutama karena ia bermaksud menengahi perselisihan antara kedua sekutunya, Karsai dan Musharraf, agar aksi menumpas Taliban dan Al Kaidah, berlangsung lebih efektif. Khususnya dalam memburu pemimpin Al Kaidah, teroris nomor wahid sejagat yang masih bebas, Usamah bin Ladin.

Bush: "Untuk menciptakan dunia yang lebih berpengharapan, kami tetap akan terus bekerja untuk memastikan bahwa para ekstrimis seperti Usamah bin Ladin yang ingin melukai teman saya ini, serta mengacaukan demokrasi di Afghanistan, diadili."

Yang dimaksud teman oleh Bush adalah Pervez Musharraf, presiden Pakistan yang oleh presiden Afghanistan Hamid Karrzai dituduh tidak berbuat banyak, untuk menumpas Taliban dan Al Kaidah yang bersembunyi di wilayah Pakistan.

Memang runyam keadaannya. Dalam seluruh operasi membasmi Taliban dan Al Kaidah, Amerika mendapat dukungan sepenuhnya dari pemerintah dua negara terkait. Yakni Afghanistan sendiri, serta tetangganya, Pakistan. Namun celakanya, Afghanistan dan Pakistan tidak bisa akur.

Bahkan presiden Afghanistan Hamid Karzai dan presiden Pakistan Pervez Musharraf sama sekali tak segan berperang kata-kata di media masa. Mereka saling menuding yang lain tak berbuat banyak dalam menumpas kekerasan dan terorisme. Bahkan tak jarang Hamid Karzai menuding Pakistan secara tak langsung mendukung terorisme.

Disebutkan Hamid Karzai sebelum jamuan makan:

Karzai: "Jika di satu sisi rakyat Afghanistan menuntut dibangunnya sekolah-sekolah, perbaikan pendidikan, bantuan kemanusiaan yang lebih banyak, maka mereka tidak mungkin merupakan orang yang menghancurkan diri sendiri. Pasti pihak lain yang melakukan kekerasan-kekerasan itu. Dan ada pihak lain di Pakistan yang memberi perlindungan kepada para teroris. Pihak lain itu harus ditindak."

Karsai menyebut, pemerintah Pervez Musharraf tak bertindak apa-apa, padahal berbagai madrasah di Pakistan terang-tzerangan mengajarkan kebencian dan menyerukan kekerasan. Presiden Afghanistan itu juga menuduh, Musharraf menutup mata bahwa bekas pemimpin Taliban, yakni Mullah Umar, bersembunyi di Pakistan.

Presiden Pervez Musharraf juga tak kalah pedasnya:

Musharraf: "Hamid Karsai tahu segalanya. Tetapi ia menyangkal, menutup mata. Seperti burung unta. Ia tak mau bilang kepada dunia, apa yang terjadi, dan alasannya pribadi sekali. Karenanya dalam pemerintahan Afghanistan, ada kelompok yang merasa tersisihkan. Dan kelompok ini jumlahnya berkisar antara 50 hingga 60 persen. Ini masalah besar yang harus dia atasi. Namun ia tak mampu melakukakannya. Malahan ia berusaha menyembunyikan masalahnya dengan mengatakan semua perkara itu muncul dari Pakistan. "

Pervez Musharraf juga menegaskan, bahwa menurut intelejennya Usmah bin Ladin masih hidup dan bersembunyi di provinsi Kunar, Afghanistan.

Namun menurut laporan, Hamid Karzai dan Pwervez Musharraf saling berbicara cukup santai dalam jamuan makan yang berlangsung dua setengah jam itu. Sesuatu yang memberi harapan bagi Bush, bahwa kedua pemimpin bisa berdamai, atau setidaknya mengurangi percekcokan, dan menekan perbedaan, agar upaya memberantas terorisme berlangsung lebih lancar.