1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Peran Apa yang Bisa Dilakukan Uni Eropa di Timur Tengah?

Bernd Riegert
20 Mei 2021

Sejak lebih dari 20 tahun Uni Eropa telah menyalurkan dana miliaran untuk membantu pembangunan dan sektor pendidikan di Palestina. Tapi perannya dalam penengahan konflik Palestina hampir nihil.

https://p.dw.com/p/3tce4
Sistem pertahanan udara Israel
Sistem penangkal roket Israel "Iron Dome"Foto: Ahmad Gharabli/AFP/Getty Images

Uni Eropa adalah pemberi dana terbesar untuk kawasan Palestina. Pada periode 2017 sampai 2020 saja disalurkan sekitar 2,3 miliar euro untuk mendanai berbagai proyek pembangunan dan pendidikan, baik di Jalur Gaza maupun di Tepi Barat. Uni Eropa juga memberikan bantuan sosial kepada lebih 100 ribu penduduk di Jalur Gaza. Jerman sendiri menyalurkan sekitar 210 juta euro lewat lembaga bantuan pengungsi PBB UNWRA.

Tapi peran besar Uni Eropa dalam mendanai berbagai kegiatan di Palestina tidak sebanding dengan bobot politiknya di kawasan. Hal itu kembali terlihat jelas dalam konflik terbaru antara Israel dan kelompok radikal Hamas.

Mihai Sebastian Chihaia, pengamat Timur Tengah dari lembaga tangki pemikir "European Policy Centre" di Brussels menggambarkan masalahnya: "Uni Eropa seharusnya menemukan haluan bersama. Selama ini, hal itu sangat sulit dilakukan. Tapi untuk punya pengaruh (politik), Uni Eropa harus berbicara satu suara di tingkat negara-negara anggotanya."

Tim penyelamat di antara reruntuhan bangunan di Jalur Gaza setelah serangan Israel
Tim penyelamat di antara reruntuhan bangunan di Jalur Gaza setelah serangan IsraelFoto: AFP via Getty Images

Mencari peran sebagai penengah di Timur Tengah

"Uni Eropa sebenarnya memiliki semua instrumen yang dibutuhkan untuk mengembangkan strategi dengan perspektif ke masa depan. Hanya saja, hingga kini belum ada kemauan politik ke arah itu", kata Chihaia kepada DW di Brussel.

Menlu Jerman Heiko Maas mengusulkan untuk menghidupkan kembali "Kuartet Timur Tengah" yang terdiri dari AS, Rusia, PBB dan Uni Eropa. Tiga minggu lalu, Uni Eropa baru saja mengangkat diplomat Belanda Sven Koopmans sebagai utusan khusus untuk Timur Tengah.

"Memang, Kuartet Timur Tengah masih ada ", kata pengamat Timur Tengah Mihai Sebastian Chihaia. Namun hingga kini tidak kelihatan apa yang mereka lakukan, lanjutnya. Terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden AS sebenarnya menjadi peluang untuk bekerja sama lebih erat, suatu hal yang hampir tidak mungkin dilakukan di bawah pemerintahan Donald Trump.

Menengahi konflik internal Palestina

Yang menentukan adalah, apakah Uni Eropa akan memainkan peran dalam agenda yang disusun AS, kata Chihaia. "Sebenarnya sekarang ada peluang kerjasama transatlantik yang lebih erat. Apakah itu akan terjadi, masih harus ditunggu. Tapi (konflik) ini adalah tes pertama (bagi mereka)", tambahnya.

Uni Eropa, sebagai pemberi dana terbesar, misalnya bisa menggunakan pengaruhnya di kalangan otoritas Palestina. Hingga kini sangat sulit mempertemukan kelompok moderat Palestina yang berkuasa di Tepi Barat dengan kubu radikal Palestina yang berkuasa di Jalur Gaza. Mungkinkah Uni Eropa menengahi dialog internal antara kubu-kubu politik di Palestina yang saling bertikai lebih dulu?

"Di masa lalu, hal itu tidak berfungsi. Tapi saat ini mungkin Uni Eropa bisa memainkan peran lebih besar", kata Mihai Sebastian Chihaia. Yang penting adalah menemukan proporsi yang tepat antara penyaluran bantuan dan tuntutan untuk masuk ke meja perundingan, jelasnya.

(hp/ gtp)