Penyelidikan Senjata Kimia Dilakukan, Pasca Gempuran Rudal AS di Suriah | dunia | DW | 15.04.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Penyelidikan Senjata Kimia Dilakukan, Pasca Gempuran Rudal AS di Suriah

Presiden Suriah, Bashar al-Assad mengatakan kepada sekelompok anggota parlemen Rusia, serangan rudal sekutu Barat ke negaranya adalah tindakan agresi. Penyelidik mulai investigasi dugaan serangan gas di Douma, Suriah

Politikus Rusia bertemu dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad, satu hari setelah serangan udara bersama yang dilakukan oleh Amerika Serikat, Inggris dan Perancis yang menargetkan pusat-pusat yang terkait dengan dugaan penggunaan senjata kimia oleh pemerintah Suriah. Rusia, sekutu al-Assad, mengutuk serangan itu.

Serangan rudal yang dilakukan pasukan Amerika Serikat, Perancis dan Inggris ke Suriah dilakukan sebagai tindakan atas dilancarkannya serangan yang diduga mengandung gas beracun oleh pasukan Suriah seminggu yang lalu.

Rusia, yang membantu Assad melawan kaum militan dan pemberontak yang menentang kekuasaannya, mengutuk serangan itu dan menyerukan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB.

Namun Dewan Keamanan PBB menolak resolusi yang diajukan Rusia yang berisi seruan untuk mengecam serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat, Perancis dan Inggris di Suriah tersebut. dalam pertemuan darurat DK PBB, tujuh negara menolak resolusi itu, tiga negara mendukung, sementara lima lainnya abstain.

Baca juga:

Suriah Tidak Akan Ubah Haluan, Meskipun Diserang AS, Inggris dan Perancis

Presiden AS Donald Trump dan Pimpinan Perancis Macron Ancam Serang Suriah

Assad: Ini agresi

Presiden Bashar Al-Assad memuji sistem pertahanan udara era Soviet yang konon kabarnya digunakan untuk menembak jatuh lebih dari 70 dari sekitar 100 rudal yang ditembakkan selama serangan, kata kantor berita Rusia, TASS. Dia juga mendeskripsikan serangan udara sebagai tindakan agresi Barat, pandangan itu disampaikannya  pada para anggota parlemen yang berkunjung. "Dari sudut pandang presiden, ini adalah agresi," demikian kantor berita Rusia, TASS mengutip ucapan anggota parlemen Sergei Zheleznyak setelah ia bertemu dengan Assad di ibukota Suriah, Damaskus.

"Agresi tripartit terhadap Suriah disertai kampanye disinformasi," papar kantor pemerintahan Suriah mengutip ucapan Assad pada hari Minggu (15/04). Pemerintahan Moskow dan Damaskus "mengobarkan satu pertempuran, tidak hanya melawan terorisme" tetapi juga untuk melindungi kedaulatan, paparnya lebih lanjut kepada para pejabat Rusia.

Kedua negara itu telah menepis laporan dugaan gas beracun tersebut sebagai hal yang tidak benar dan menuduh pemerintahan di Washington menggunakannya sebagai dalih serangan.

Pentagon: Serangan kenai sasaran

Sementara itu Pentagon mengatakan serangan sekutu Barat  berhasil menghantam tiga fasilitas senjata kimia yang memang ditargetkan. "Kemarin kami melihat agresi Amerika. Dan kami mampu mengusirnya dengan rudal Soviet dari tahun 70-an," ujar anggota parlemen Rusia Dmitry Sablin mengutip ucapan Assad, seperti yang dilaporkan TASS.

Politikus Rusia yang berkunjung menggambarkan al-Assad sebagai "suasana hati yang baik". Presiden Suriah itu  juga dilaporkan menerima undangan untuk mengunjungi Siberia, meskipun tidak jelas kapan kunjungan itu akan berlangsung.

Rusia mengatakan pada hari Sabtu (14/04) bahwa pihaknya akan mempertimbangkan memasok sistem rudal udara S-300  ke Suriah menyusul serangan sekutu Barat. Namun hal ini tidak dibahas dalam pertemuan dengan Assad.

Sementara itu, penyelidik senjata kimia mulai menyelidiki dugaan serangan gas di Douma, Suriah. Kunjungan politikus Rusia itu berlangsung seiring kantor berita Agence France-Presse (AFP) melaporkan inspektur dari Organisasi untuk Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) ditetapkan untuk memulai misi pencarian fakta mereka tentang apakah senjata kimia gas klorin dan sarin telah digunakan terhadap warga sipil dalam serangan tanggal 7 April di kota Douma, Suriah.

Para penyelidik telah tiba hari Sabtu (14/04), tidak lama setelah serangan udara terjadi. Rusia dan sekutu pemerintah pro-Suriah, Iran mengecam serangan udara yang dipimpin AS terjadi, sebelum OPCW melakukan penyelidikan mereka.

Pertemuan juga digelar Saudi

Sementara Assad menjadi tuan rumah bagi anggota parlemen Rusia yang berkunjung, para pemimpin negara-negara Arab lainnya berkumpul di Arab Saudi pada hari Minggu (15/04) dalam rangka Konferensi Tingkat Tinggi  KTT Liga Arab tahunan, yang telah ditunda dari bulan lalu karena pemilu Mesir.

Sekitar 17 kepala negara-negara Arab diharapkan menghadiri pertemuan hari Minggu di Dhahran. Al-Assad belum ambil bagian dalam KTT tersebut sejak 2011, ketika organisasi yang terdiri dari 22 anggota itu menangguhkan keanggotaannya. Pembahasan di KTT diperkirakan mencakup anggapan campur tangan Iran dalam perang saudara di Yaman dan dalam konflik di Irak.

Serangan udara akhir pekan di Suriah dan perang saudara tujuh tahun di negara itu juga diperkirakan akan dibahas. Sementara Arab Saudi mendukung serangan Barat, Libanon dan Maroko mengecam serangan itu.

KTT ini adalah yang pertama dilakukan sejak Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencananya untuk memindahkan kedutaan Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem, sebuah keputusan yang dikritik oleh negara-negara Arab dan penduduknya.

Serangan Barat membawa gejolak politik Inggris

Sementara itu, serangan udara di Suriah telah mengguncang politik internal di Inggris. Politisi oposisi dan pemimpin  Partai Buruh Jeremy Corbyn menuduh Perdana Menteri Theresa Mei melakukan serangan udara tanpa dasar hukum yang diperlukan.

"Saya katakan kepada menteri luar negeri, saya katakan kepada perdana menteri, di mana dasar hukum untuk ini?" Kata Corbyn. "Landasan hukum ... harus menjadi pertahanan diri atau otoritas Dewan Keamanan PBB. Intervensi kemanusiaan adalah konsep yang dapat diperdebatkan secara hukum pada saat ini," katanya dalam wawancara TV dengan BBC.

Saat ini tidak ada persyaratan hukum bagi pemerintah Inggris untuk meminta persetujuan parlemen sebelum meminta pasukan untuk bertindak.

Menteri Luar Negeri Boris Johnson membela keputusan pemerintah untuk bergabung dengan AS dan Perancis dalam serangan udara di Suriah, dengan alasan bahwa persetujuan anggota parlemen tidak diperlukan atas alasan kecepatan dan efisiensi operasi.

Jumat kemarin Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat, Inggris dan Perancis meluncurkan serangan terhadap lokasi militer Suriah, yang diduga keras menjadi fasilitas senjata kimia. Pekan lalu terjadi apa yang diduga keras serangan senjata kimia di kawasan Douma, yang menurut AS dilaksanakan pasukan Suriah, Bashar al Assad. Serangan udara dimulai sekitar empat pagi di Suriah, membuat langit di atas Damaskus terang benderang.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memuji serangan udara atas Suriah yang dikatakannya telah  'dilaksanakan sempurna' dengan menambahkan kata-kata 'misi telah tercapai'.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei mengecam serangan udara sekutu terhadap Suriah. Ia menyebut para pemimpin AS, Inggris dan Perancis sebagai "pelaku tindakan kriminal".  Sementara, Paus Fransiskus menyerukan agara para pemimpin dunia mencari  solusi damai untuk Suriah.

ap/vlz (ap,reuters,afp,dpa,tass)

Tonton video 01:30
Live
01:30 menit

Ini Video Serangan Pasukan Sekutu Pimpinan Amerika ke Suriah

 

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait