Penyelidikan Rahasia PBB Ungkap Korea Utara Lanjutkan Program Nuklir | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 04.08.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Konflik Nuklir

Penyelidikan Rahasia PBB Ungkap Korea Utara Lanjutkan Program Nuklir

Korea Utara tidak hentikan program nuklir dan misilnya. Demikian hasil penyelidikan rahasia PBB. Menurut laporan, Pyongyang salurkan senjata ke Yaman, Libya dan Sudan.

Korea Utara melanggar sejumlah sanksi yang ditetapkan PBB. Pelanggaran terbesar adalah meneruskan program senjata nuklir dan misilprogram senjata nuklir dan misil.Demikian dinyatakan dalam laporan rahasia setebal 149 halaman yang diterbitkan PBB Jumat (03/08) kemarin.

Laporan tersebut dipublikasikan setelah munculnya sejumlah petunjuk bahwa Korea Utara kemungkinan mengembangkan misil baru. Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo menyerukan semua negara untuk meneruskan tekanan terhadap Korea Utara dan tidak melanggar sanksi PBB.

Laporan juga mengungkap, tahun 2018 Korea Utara tidak menghentikan transfer ilegal produk minyak bumi antar kapal, juga pengangkutan batu bara di lautan. Korea Utara juga terus menerima pemasukan dari ekspor komoditas yang dilarang. Misalnya, menerima 14 juta Dolar antara Oktober 2017 hingga Maret 2018, untuk ekspor besi dan baja ke Cina, India dan negara lain.

Pada periode sama Korea Utara juta melanggar larangan ekspor tekstil dengan mengekspor barang senilai 100 juta Dolar ke Cina, Ghana, India, Meksiko, Sri Lanka, Thailand, Turki dan Uruguay pada periode sama. Dalam setiap pelanggaran sanksi, diplomat Korea Utara memegang peran kunci.

Pyeongyang "berusaha menyuplai senjata kecil dan senjata ringan (SALW) dan peralatan militer lainnya lewat perantara asing", ke Libya, Yaman dan Sudan. Dalam laporan, penyelundup senjata bernama Husein Al-Ali menawarkan sejumlah senjata konfensional dan misil balistik kepada kelompok bersenjata di Yaman dan Libya.

Laporan tersebut dirumuskan bersama oleh sejumlah pakar independen yang memonitor implementasi sanksi-sanksi PBB selama enam bulan. Laporan tersebut diserahkan kepada Komite PBB yang mengurus sanksi-sanksi terhadap Korea Utara hari Jumat (03/08) kemarin.

Baca juga:

Donald Trump dan Kim Jong Un Tandatangani "Dokumen Komprehensif"

Akhirnya, Donald Trump dan Kim Jong Un Berjabat Tangan di Singapura

'Isu serius"

Mike Pompeo kembali menyuarakan peringatan terhadap Rusia, Cina dan negara-negara lain menyangkut pelanggaran sanksi internasional terhadap Korea Utara.

Di Singapura, menjelang KTT ASEAN, Pompeo menyatakan kepada reporter bahwa AS mendapat laporan yang bisa dipercaya, bahwa Rusia melanggar sanksi PBB, termasuk mengijinkan kerjasama dengan perusahaan Korea Utara dan mengeluarkan izin baru bagi pekerja dari Korea Utara.

Pompeo juga mengingatkan bahwa Dewan Keamanan PBB memberikan suara mutlak menyetujui sanksi-sanksi tersebut. "Saya ingin mengingatkan semua negara yang mendukung resolusi bahwa ini adalah isu serius dan akan kami diskusikan dengan Moskow," demikian Pompeo.

ml/ap (AFP, AP, Reuters)