Penyaluran Bantuan di Libanon Makin Sulit | Fokus | DW | 04.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Penyaluran Bantuan di Libanon Makin Sulit

Serangan angkatan udara Israel yang menghancurkan tiga jembatan penting di Libanon utara.

Serangan udara Israel di Selatan Beirut

Serangan udara Israel di Selatan Beirut

Astrid von Genderen Stort dari Badan Urusan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNHCR mengatakan, jalur suplai yang paling penting terputus akibat rusaknya ketiga jembatan dalam serangan udara Israel. Sebuah konvoi terdiri dari delapan truk bermuatan pangan, material untuk tenda darurat dan barang bantuan lainnya terhambat.

Andreas Schwarz, juru bicara dari aliansi sepuluh organisasi bantuan Jerman „Deutschland hilft“ yang sejak Kamis lalu berada di Beirut untuk menyampaikan bantuan dan mewakili organisasi „Care Deutschland“, mengatakan:

Andreas Schwarz: „Jembatan-jembatan yang rusak terletak di jalan pesisir yang kemarin kami lewati. Kami datang dari perbatasan Suriah-Libanon. Saat ini, maksudnya pada jam ini, tampaknya benar-benar tidak mungkin menggunakan jalan itu. Paling-paling anda dapat mencoba melewatinya pada satu jalur saja.”

Artinya, terdapat risiko tambahan bagi para supir di jalur yang memang sudah sangat berbahaya itu. Selanjutnya Schwarz mempertanyakan, apakah organisasi bantuan memang diharuskan mempergunakan sebuah jalan di mana serangan bom dilancarkan. Dikatakan bahwa kondisi itu menimbulkan keraguan bagi organisasi kemanusiaan untuk menyalurkan bantuannya.

Di Beirut, berbagai organisasi PBB juga menghadapi masalah yang semakin meningkat. Program Pangan Dunia PBB membatalkan transpor bantuan ke Libanon selatan, karena supir dilaporkan tidak bisa sampai ke tempat tujuan akibat pemboman di Beirut.

Sehubungan dengan serangan bom di kawasan sebelah selatan Beirut, dilaporkan bahwa petugas UNHCR terpaksa menghentikan upaya bantuannya di kawasan ibukota Libanon. Padahal ratusan ribu penduduk yang mengungsi di sekolah-sekolah, taman ataupun di rumah teman dan keluarga, sangat memerlukan bantuan. Apakah ini Beirut, sebuah kota di mana orang kini merasa tidak aman lagi?

Andreas Schwarz: “Ini adalah kota yang sangat mendua. Ada kawasan yang sepertinya sebuah kota cantik yang normal. Tetapi ada kawasan yang keadaannya jelas sekali tidak normal, toko-toko tutup dan tidak ada orang di jalan, tidak ada yang minum kopi.“

Banyak organisasi bantuan yang bertugas di Libanon memperingatkan munculnya masalah-masalah dalam waktu dekat ini. Cadangan bahan bakar yang mulai berkurang dapat makin mempersulit keadaan. Karena jawatan pembangkit tenaga listrik, instalasi penyediaan air dan rumah sakit yang tergantung dari bahan bakar, akan terpaksa menghentikan aktivitasnya.

Andreas Schwarz: „Saya kira, delapan, sepuluh, dua belas, tiga belas, empat belas hari ke depan, sangat sulit untuk mempertahankan keadaan seperti hari ini. Beirut tidak terisolasi, namun jalan-jalan yang dapat dipergunakan terlalu berbahaya. Dan ini membuat upaya bantuan bagi orang-orang yang sangat memerlukannya, menjadi sangat sulit. Ini adalah inti permasalahannya.“