Penyakit Stres di Era Globalisasi | Iptek | DW | 24.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Penyakit Stres di Era Globalisasi

Prevalensi penyakit stres atau depresi dewasa ini terus meningkat di kalangan masyarakat. Globalisasi diduga merupakan salah satu pemicunya.

Stres dan depresi, penyakit era globalisasi?

Stres dan depresi, penyakit era globalisasi?

Dunia bergerak dan berubah semakin cepat. Mereka yang tidak siap menghadapinya akan terjebak pada situasi penuh pertentangan. Gejala yang muncul sebagai bentuk perlawanan adalah stres. Memang, secara fisik dan psikologis, kebanyakan makhluk hidup tidak akan mampu menghadapi perubahan yang semakin cepat.

Sebetulnya gejala stres yang memicu penyakit bukan hal baru. Sejak sekitar 3.500 tahun lalu dalam artefak papyrus dari zaman Mesir kuno, penyakit yang berkaitan dengan stres ini sudah dicantumkan. Sekitar 2.400 tahun lalu, Hypokrates ahli kedokteran Yunani kuno yang sangat terkenal, juga sudah melakukan penelitian tubuh manusia.

Dalam 100 tahun terakhir ini, ilmu pengetahuan kejiwaan yang meliputi psikologi, psikoterapi, psiko-analisa serta psiko-somatik semakin maju dan dianggap semakin penting. Para pakar ilmu sosial dan pakar ilmu komunikasi juga memainkan peranan dalam bidang ini. Akan tetapi, karena fokusnya adalah penelitian jika ada masalah, cabang keilmuannya dimengerti sebagai ilmu gejala permasalahan. Karena itu masalah kejiwaan dan sosial kurang diteliti mendalam. Paham yang ditanamkan filsuf Prancis Descartes, yang memandang tubuh hanya sekedar mesin, masih banyak dianut. Hal itu menimbulkan dampak menguntungkan maupun merugikan, seperti diungkapkan direktur kedokteran klinik untuk psikosomatik dan kedokteran umum di Universitas Heidelberg, Prof. Wolfgang Herzog :

“Kami mengalami banyak perubahan di dunia kedokteran, yang amat menguntungkan, karena kita dapat meneliti mekanisme, apa yang mempengaruhi berbagai bagian tubuh. Bahwa kami kini memiliki pengetahuan, bagaimana terjadinya penyakit, dan bagaimana kita dapat merekayasanya. Akan tetapi, masih ada sebagian kecil dari pengetahuan lama yang hilang, yang menyebutkan bahwa selalu terdapat kaitan kebersamaan antara jiwa dan tubuh.“

Kemanjuran pengobatan juga dibatasi karena pembatasan dunia kedokteran pada tubuh saja. Sekarang para pakar mengetahui bahwa dalam kasus alergi, asthma dan penyakit kulit neuro-dermitis, beban kejiwaan juga memainkan peranan. Selain itu juga diketahui, tekanan psikis memainkan peranan pada penyakit jantung dan diabetes, dua penyakit yang kini meluas di Eropa.

Pengobatan kejiwaan, hampir selalu dipastikan dapat membantu menyembuhkan penyakit tersebut. Akan tetapi, terapi kejiwaan memerlukan biaya dan waktu. Namun nilai tambah yang amat berharga dan berdampak menyembuhkan ini, dewasa ini semakin jarang dilakukan, karena penghematan di bidang kesehatan.

Kurangnya partisipasi dan penyuluhan memberikan kontribusi bagi tingginya biaya konsultasi ke dokter. Juga seringkali para dokter ini, ibaratnya hanya dipandang sebagai bengkel reparasi saja. Lebih jauh Herzog menjelaskan :

“Yang betul, bahwa di semua bidang kedokteran, kita lebih banyak memberikan kontribusi bagi upaya penyembuhan, jika penyakitnya sudah cukup parah. Sementara upaya pencegahan serta pengendalian diri, hanya memainkan peranan amat kecil.“

Pencegahan penyakit kejiwaan bahkan nyaris tidak pernah dilakukan. Padahal, sementara ini sudah dikenal banyak sekali pemicunya. Misalnya saja, rumah sakit Universitas Ulm di Jerman membuktikan, tingginya angka pengangguran yang saat ini terjadi di Jerman, mendorong meningkatnya gangguan kejiwaan. Juga merupakan ancaman penyakit kejiwaan, jika orang-orang yang masih produktif tidak memperoleh lapangan kerja, dan dengan itu tidak memiliki martabat dalam masyarakat. Atau juga generasi muda yang tidak memperoleh pendidikan yang mencukupi serta tempat latihan kerja, menghadapi risiko stres lebih besar.

Faktor pemicu stres lainnya saat ini adalah banjir informasi. Era internet membawa keuntungan maupun kerugiannya. Tidak semua orang mampu menghadapi berbagai stressor yang datang bertubi-tubi semacam itu. Barang siapa tidak dapat memilah-milah arus informasi dan kehilangan arah dalam persaingan yang amat ketat dalam arus globalisasi praktis sudah kalah.

Sebuah penelitian terhadap para seniman, menunjukan kaitan sebab akibat yang cukup tegas dalam gejala depresi tersebut. Mereka yang tidak mampu menyikapi perubahan yang amat cepat, akan kehilangan kendali terhadap dirinya, dan biasanya menghadapi ancaman kegagalan. Hal ini diungkapkan dokter ahli untuk psikiatri, psikoterapi dan psiko-analisa dari Universitas Heidelberg, Prof. Rainer Matthias Holm-Hadulla.

“Terdapat penelitian menarik, yang menunjukkan dengan tegas, jika seorang penyair memiliki struktur yang jelas, dan juga dari tampilannya terlihat sukses, memiliki uang cukup serta memiliki barang berharga, hal itu merupakan faktor pelindung terhadap penyakit kejiwaan.“

Kini muncul pertanyaan, apakah gejala semacam itu hanya terjadi di negara-negara maju seperti di Jerman? Atau merupakan gejala umum? Penelitian di negara-negara Asia yang dijulukui macan ekonomi baru, ternyata juga menunjukan gejala yang serupa.

Di kawasan ini terjadi perubahan dalam waktu relatif singkat, dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Nilai-nilai tradisi dan keagamaan, dengan cepat terdesak gaya hidup barat. Warga di negara-negara ekonomi baru Asia itu juga mengalami gejala stres yang serupa dengan di negara industri. Statistik menunjukkan, jumlah penderita gangguan kejiwaan meningkat amat pesat.

Kemajuan yang terlalu cepat memaksa manusia melewati ambang batas kemampuan biologisnya untuk menerima stres. Demikian diungkapkan peneliti tingkah laku dan komunikasi, guru besar emeritus dari Universitas Friedrich-Wilhelm di Berlin, Günter Tembrock :

“Setiap generasi mempelajari sesuatu yang baru dan sama sekali beda. Dengan itu juga terdapat bahaya besar, yakni hilangnya kontinuitas dan juga stabilitas. Padahal evolusi selama ini berlangsung secara kontinu dan stabil. Rata-rata hanya 25 persen yang mengalami perubahan, dan sisanya tetap sama, dan secara perlahan mengalami perubahan bertahap. Perubahan cepat dapat memicu proses yang tidak terkendali.“

Perubahan yang terus menerus dan semakin cepat, tidak akan mampu ditanggung oleh makhluk hidup manapun. Padahal, era globalisasi saat ini dengan cepat mengubah persyaratan kehidupan maupun persyaratan kerja. Ditambah lagi ancaman perubahan iklim global di dekade mendatang, serta semakin mahalnya harga minyak bumi. Faktor-faktor terseubt akan mengubah total arus perdagangan global, sekaligus juga perimbangan kemakmuran di muka Bumi. Akibatnya, krisis ekonomi dan perang akan muncul dimana-mana. Artinya, prevalensi stres dan depresi juga akan melonjak di seluruh dunia.