Penyair AS Louise Glück Raih Nobel Kesusastraan 2020 | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 08.10.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Hadiah Nobel

Penyair AS Louise Glück Raih Nobel Kesusastraan 2020

Hadiah Nobel Kesusastraan 2020 dianugerahkan kepada penyair Amerika Serikat, Loiuse Glück. Komite Nobel menyebutkan, dengan suara puitisnya yang jernih dan indah membuat eksistensi individual menjadi universal.

Louise Glück

Pemenang Nobel Kesusastraan 2020 Louise Glück

Louise Glück (77) adalah profesor sastra Inggris di Yale University. Karya perdananya Firstborn yang dirilis 1968 meroketkan namanya sebagai salah satu penyair paling kenamaan dalam tatanan kesusastraan kontemporer di Amerika Serikat.

"Puisinya punya karakter berusaha mencari kejernihan, seringnya berfokus pada masa kanak-kanak dan kehidupan keluarga serta relasi erat antara orang tua dan anak-anaknya", demikian pernyataan Komite Nobel di Stockholm.

Selain menulis sejumlah koleksi puisi, Glück juga dikenal sebagai penulis essay dan kritik sastra kenamaan. Sebelumnya penyair ini juga dianugerahi National Book Award.

Diwarnai keributan dan kontroversi

Penghargaan Nobel Kesusastraan tahun ini berada di bawah bayang-bayang keributan dan kontroversi dari penghargaan tahun-tahun sebelumnya. Penghargaan Nobel Kesusastraan tahun 2018 ditangguhkan, akibat tudingan pelecehan seksualdi dalam Swedish Academy yang merupakan lembaga pemilih pemenang penghargaan. Sejumlah anggota akademi kerajaan itu juga melakukan eksodus massal.

Tahun 2019, penghargaan Nobel Kesusastraan sekali lagi memicu kontroversi. Tahun lalu, dua pemenang diumumkan sekaligus, yakni untuk penghargaan tahun 2018 yang tertunda, yang diraih penulis Olga Tokarczuk dari Polandia dan penghargaan 2019 untuk penulis Peter Handke dari Austria.

Penghargaan Nobel Kesusastraan buat Handke sontak memicu gelombang protes, karena penulis ini adalah pendukung setia Serbia dalam perang Balkan tahun 1990. Handke dituding sebagai pendukung kejahatan perang Serbia.

Sejumlah negara, terutama Albania, Bosnia dan Turki memboikot acara penghargaan sebagai aksi protes. Juga beberapa anggota komite yang menominasikan kandidat untuk hadiah Nobel Kesusastraan menyatakan mengundurkan diri.

as/vlz (AP, afp,dpa)

Laporan Pilihan