Peningkatan Aktivitas Merapi | Fokus | DW | 18.04.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Peningkatan Aktivitas Merapi

Antisipasi pengungsian masih mengalami kendala, rusaknya prasarana menuju lokasi yang aman.

Gunung Merapi hingga kini masih mengeluarkan asap dan lava. Sementara gempa terjadi berkali-kali. Sejak seminggu statusnya ditingkatkan menjadi siaga, upaya pengungsian belum juga dilakukan.

Gempa dan guguran lava yang terus meningkat belakangan ini di Gunung Merapi, kini disertai penggembungan kubah magma yang terus menuju puncak. Petugas Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian BPPTK mengungkapkan, belakangan ini pemantauan visual di beberapa pos pengamatan terhalang kabut tebal dan cuaca mendung. Mudillah, petugas BPPTK menceritakan, berdasarkan pengamatan, puncak Merapi masih mengeluarkan asap solfatar putih tebal, dengan ketinggian maksimal mencapai 75 meter. Sementara angin bertiup cukup kencang ke arah utara.

Namun Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian BPPTK Subandrio mengatakan, meski sudah dalam status siaga, belum perlu dilakukan pengungsian penduduk.

Meski demikian persiapan evakuasi penduduk di wilayah bahaya semakin diintensifkan. Daerah-daerah yang dianggap rawan, terutama di Kecamatan Srumbung, Dukun dan Sawangan, Kabupaten Magelang. Kabupaten-kabupaten lain yang juga tengah bersiap-siap adalah Sleman, Klaten dan Boyolali. Di Kabupaten Klaten, terdapat tiga desa yang terancam letusan Gunung Merapi. Semua desa berada di Kecamatan Kemalang. Yaitu Sidorejo, Tegalmulyo, dan Balerante. Jumlah penduduk di ketiga desa itu sekitar 7.700 jiwa. Penduduk terbanyak berada di Desa Sidorejo sekitar 4000 jiwa. Desa itu terdekat dengan puncak Merapi.

Dalam mengantisipasi letusan Merapi, Pemerintah Kabupaten Klaten menyiapkan tiga lokasi pengungsian, yakni di depan kantor Kecamatan Kemalang, SMP 2 Dompol di Desa Dompol dan Balai Desa Tegalmulyo. Namun satu-satunya jalan yang bisa dijadikan jalur evakuasi kini hanya tinggal jalan berbatu dan penuh lubang. 80 persen dari ruas jalan sepanjang sekitar 10 kilometer yang melintas di ketiga desa itu dalam kondisi rusak, akibat sering dilalui truk pengangkut pasir.

Di Boyolali, Jembatan Sepi yang mengalami kerusakan sejak beberapa waktu lalu belum juga selesai diperbaiki. Padahal, jembatan itu merupakan akses utama tiga dukuh. Yakni Dukuh Sepi di Desa Jrakah, serta Dukuh Bakalan dan Sumber di Desa Klakah, Kecamatan Selo. Jembatan itu sangat penting karena akan menjadi jalur evakuasi penduduk tiga dukuh yang jumlahnya ribuan orang. Jika jembatan tersebut tidak diperlebar dan diberi tembok pengaman, saat terjadi bencana dan keadaan cukup gelap dapat mengakibatkan jatuhnya korban. Masyarakat setempat kini berupaya untuk memperbaiki jembatan itu. Sayangnya perbaikan belum juga selesai karena terbatasnya dana.

Merapi merupakan gunung api paling aktif di dunia. Gunung tersebut memiliki dua siklus letusan, yakni 2 hingga 4 tahun sekali dan 30 tahunan. Letusan pada siklus 30 tahunan biasanya sangat besar. Terakhir kali gunung tersebut meletus pada tahun 2001.