Pengusutan Sel Teror di Kanada | dunia | DW | 08.06.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pengusutan Sel Teror di Kanada

Orang pertama dari 17 tersangka teroris yang ditahan akhir pekan lalu dihadapkan ke pengadilan di Toronto.

Toronto, ibukota provinsi Ontario, salah satu target serangan teror?

Toronto, ibukota provinsi Ontario, salah satu target serangan teror?

Warga Kanada keturunan Arab itu memiliki berton-ton bahan ledak dan konon merencanakan berbagai serangan di Ottawa dan Toronto. Orang-orang yang ditahan akhir pekan lalu, semuanya adalah warga negara Kanada. Tujuh diantaranya mengunjungi mesjid yang sama. Semua merupakan indikasi adanya sebuah sel teror lokal, mirip seperti di London dan Madrid.


Di Kanada yang memiliki UU keimigrasian dan UU suaka yang paling liberal di dunia, kini terdapat kebingungan. Walikota Toronto, David Miller mengemukakan:"Kami semua terkejut dan sedih. Untungnya polisi dan dinas rahasia Kanada bekerja sama sedemikian baik, sehingga kami tahu bahwa kami aman. Kami tidak akan membiarkan hal itu menggoyahkan landasan kehidupan bersama yang ada. Kanada adalah negeri terbuka, yang menyambut baik kaum pendatang, dan umat muslim di Kanada memberikan andilnya."

Tetapi sementara di Kanada dikhawatirkan timbulnya dampak akan sikap toleran terhadap kelompok minoritas, AS terutama meresahkan soal keamanannya. Politisi seperti Pete King, ketua komisi keamanan dalam negeri dalam Kongres AS, langsung menuntut diperketatnya pengawasan di perbatasan sepanjang 6.000 km dengan Kanada.

Pakar mengenai teror seperti Richard Falkenrath dari "Brookings Institute" di Washington melihat adanya celah-celah keamanan. Dikatakannya:"Bila negara ini hendak dilindungi dari serangan teror dari luar, maka perbatasan ke Kanada jauh lebih berbahaya daripada perbatasan ke Meksiko. Kewaspadaan kementrian perlindungan dalam negeri dan dinas rahasia harus ditingkatkan. Penjagaan perbatasan ke Kanada sangat lemah, dan merupakan perbatasan non militer terbesar di dunia, tetapi sekaligus pula merupakan perbatasan dimana paling banyak terjadi pertukaran barang."

Walaupun terdapat hubungan ekonomi yang erat, belakangan ini hubungan politik antara Kanada dan AS tidak selalu mulus. Terutama sejak dimulainya Perang Irak, Kanada menjaga jarak dengan AS, dan sesudah adanya kejutan teror sekarang pun, negara itu tetap tidak mau melepaskan begitu saja apa yang sudah diraih. Walikota Toronto David Miller menerangkan, ia tidak pernah mengira ada kelompok teroris di kotanya.

David Miller: "Kami bangga akan keanekaragaman kami. Lebih separuh dari warga Toronto, termasuk saya sendiri, tidak lahir di Kanada. Kami tidak memperhitungkan adanya persekongkolan teroris. Justru karena kami ini adalah masyarakat majemuk dengan dinas pelayanan umum yang diwarnai oleh sikap saling menghormati antar-kebudayaan yang berbeda. Mengapa bisa terjadi, orang-orang semuda itu bisa jadi sedemikian radikal?"

Kekhawatiran pihak yang berwenang AS lain lagi. Bulan Desember 1999 di perbatasan AS-Kanada dilakukan penahanan terhadap Ahmed Ressam, seorang warga Aljazair yang masuk ke Kanada dengan paspor palsu dan memperoleh suaka politik. Di AS Ressam divonis hukuman penjara sehubungan dengan rencana serangan teror terhadap bandar udara Los Angeles. Sekarang pun AS merasa harus memberikan petunjuk pada Kanada.

Pakar soal teror Richard Falkenrath mengemukakan sejumlah masalah pengawasan di perbatasan.

Richard Falkenrath: "Tema sebenarnya adalah perbatasan Kanada. Sebaik apa UU imigrasi dan UU suaka Kanada? Apakah pemohon suaka direkam sidik jarinya? Siapa yang memperoleh suaka atau visa? Apakah penerima suaka kemudian diawasi? Dalam hal ini AS dan Kanada harus meningkatkan upaya bersama. Terus terang, Ottawa harus berbuat lebih banyak."

Iklan