1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pengusaha Cina di Afrika Berjuang Hadapi Prasangka

4 Juni 2012

Praduga mengenai keberadaan Cina di Afrika cukup besar. Namun penelitian menunjukkan bahwa banyak orang Afrika mengambil keuntungan dari pengusaha swasta Cina.

https://p.dw.com/p/157k6
Chinese woman talk business with local women at a shop in Lagos, Nigeria, June 16, 2007. Market stalls are just one of the most visible signs of China's massive penetration into African economies. The Asian giant _ a ready buyer of oil and other raw materials for more than a decade _ is also a major bidder on construction projects, a multi-million-dollar lender and a growing player in Africa's telecommunications and textile industries. (ddp images/AP Photo/Sunday Alamba)
Pedagang Cina di AfrikaFoto: SUNDAY ALAMBA/AP/dapd

Ismail Mrisho punya pengalaman baik dengan orang Cina. Sejak tujuh tahun warga Tanzania itu bekerja di perusahaan kecil yang memasok bawang putih dari Cina dan mengekspornya kembali ke negara Afrika lainnya. Bila pria usia 35 tahun itu bercerita tentang pekerjaannya kepada teman-teman, kritikan selalu terdengar bahwa orang Cina mengimpor bawang putih dan tidak menjual bawang putih Tanzania. Namun Mrisho beda pendapat. Bawang putih dari Cina lebih besar ketimbang dari Tanzania, karena itu lebih disukai. Jika Tanzania tidak merespon permintaan ini, melainkan orang asing, maka mereka sendirilah yang salah. "Boss saya adalah orang yang sangat baik. Kadang-kadang kami pergi keluar bersama. Pembayarannya bagus. Bila saya punya masalah, ia berupaya untuk mengerti", ujar Mrisho. "Tapi dari yang lain saya banyak mendengar kebalikannya. Pandangan mereka terhadap orang Cina negatif. Mereka pikir, orang Cina ke sini hanya untuk mengeruk keuntungan, lalu pulang ke tanah airnya."

Proteksionisme terhadap imigran

Titel: Die chinesische Wissenschaftlerin Katy Lam Schlagworte: China, Afrika, Migration, Diskriminierung Wer hat das Bild gemacht?: Adrian Kriesch Wann wurde das Bild gemacht?: 31.5.2012 Wo wurde das Bild aufgenommen?: Tagung der Vereinigung für Afrikawissenschaften in Köln Bildbeschreibung: Bei welcher Gelegenheit / in welcher Situation wurde das Bild aufgenommen? Wer oder was ist auf dem Bild zu sehen? Die chinesische Wissenschaftlerin Katy Lam von der Universität Lausanne in der Schweiz bei der Tagung der Vereinigung für Afrikawissenschaften in Köln In welchem Zusammenhang soll das Bild/sollen die Bilder verwendet werden?: Artikel
Ilmuwan Katy LamFoto: DW

Kesan ini juga dibenarkan ilmuwan Cina, Katy Lam dari Universitas Laussane, Swiss. "Banyak orang berpikir, orang-orang Cina di Afrika ini dikirim pemerintah", demikian dilaporkan Lam yang beberapa bulan melakukan penelitian di Ghana dan Benin serta melakukan pembicaraan dengan orang Cina dan warga setempat. "Tetapi ini tidak benar. Mereka bahkan tidak mendapat dukungan dari pemerintahannya. Mereka mandiri." Terutama pengusaha Cina menghadapi kesulitan di Afrika. Banyak usaha gagal. Perbedaan bahasa dan budaya yang besar mempersulit integrasi. Kecurigaan terhadap mereka kerap berujung pada kebijakan protektif. Menjelang pemilihan umum, Katy Lam mengamati adanya wacana kebencian terhadap orang Cina di beberapa negara Afrika. Pada tahun 2000 terdapat sekitar 40 toko tekstil Cina di pasar Dantokpa di ibukota Benin, Cotonou. Tahun 2010 di salah satu pasar terbesar di Afrika Barat itu masih ada tiga. Sisanya sudah kehilangan lisensi.

Banyak pedagang kaki lima mengambil keuntungan

Senegalese shop assistants wait for clients under the watch of the Chinese owner's sister at a street-side shop in Dakar, Senegal, June 28, 2007. Market stalls are just one of the most visible signs of China's massive penetration into African economies. The Asian giant _ a ready buyer of oil and other raw materials for more than a decade _ is also a major bidder on construction projects, a multi-million-dollar lender and a growing player in Africa's telecommunications and textile industries. (ddp images/AP Photo/Rebecca Blackwell)
Perdagang Cina di AfrikaFoto: REBECCA BLACKWELL/AP/dapd

Laurence Marfaing dari lembaga penelitian Hamburger Forschungsintitut GIGA mengatakan, banyak orang Afrika sebenarnya mengambil keuntungan dari orang Cina. Marfaing meneliti interaksi antara pedagang kecil Cina dan pedagang lokal di Senegal dan Ghana. Selain orang Afrika yang langsung dipekerjakan oleh orang Cina, banyak pedagang kecil lainnya yang menjadi mandiri dengan membeli barang-barang jualannya dari pedagang besar Cina. Ini juga berdampak positif terhadap migrasi ilegal ke Eropa, kata Marfing. "Beberapa tahun lalu, mereka itu adalah kandidat migran. Bagi mereka, bekerja sama dengan orang Cina benar-benar merupakan peluang. Dengan begitu mereka berkesempatan untuk mendapatkan penghasilan dan menghidupi keluarga tanpa harus meninggalkan negerinya." Mereka juga adalah pedagang yang membela migran Asia dalam perdebatan mengenai Cina di Afrika yang kerap dilakukan, tambah Marfaing.

Para ilmuwan sepakat bahwa sosok orang Cina di Afrika harus dicermati tanpa pukul rata. Sudah tentu ada kasus-kasus negatif. Menurut penelitian Marfaing, ada 17 pabrik sepatu di Senegal yang antara tahun 2003 dan 2007 harus ditutup akibat impor sepatu murah dari Cina. Tetapi juga ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan, seperti pedagang kaki lima di Senegal atau seperti Ismail Mrisho di Tanzania.

Adrian Kriesch/Christa Saloh-Foerster

Editor: Marjory Linardy