Pengungsi Palestina dan Konflik di Lebanon | dunia | DW | 23.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pengungsi Palestina dan Konflik di Lebanon

Ratusan warga Palestina hari ini berbondong-bondong meninggalkan kamp pengungsi Nahr al Bared di utara kota Tripolis.

Warga Palestina dievakuasi dari kamp Nahr al Bared

Warga Palestina dievakuasi dari kamp Nahr al Bared

Sebelumnya sudah ribuan orang yang pergi setelah pertempuran pecah antara kelompok militan dan tentara Libanon yang mengepung tempat itu. Selasa malam militer dan kubu militan Fatah al-Islam menyatakan sepakat untuk melakukan gencatan senjata. Tapi para penghuni kamp pengungsi tetap takut pertempuran bisa berkobar sewaktu-waktu. Penduduk Libanon di sekitar kamp pengungsi prihatin dengan situasi saat ini. Mariam, warga Libanon yang tinggal tidak jauh dari kamp pengungsi mengatakan:

„Kasihan sekali mereka yang tinggal disana. Mereka itu sudah seperti saudara-saudara kami. Kita sudah lama bertetangga. Situasi di kamp di dalam sana pasti sulit sekali. Malah konvoi bantuan juga tidak bisa masuk ke sana. Kasihan mereka.“

Seroang warga Libanon lain, Abed menerangkan, kamp pengungsi Nahr al bared bukan markas besar kelompok militan Fatah al Islam. Yang tinggal di sana hanyalah warga sipil:

„Kamp Nahr al Bared tidak ada hubungannya dengan Fatah al Islam. Kita seharusnya berjuang bersama-sama untuk Palestina. Pertempuran ini tidak perlu dan tidak harus terjadi. Sebagai orang Arab, sebagai orang Libanon, kita tidak perlu ini.“

Di luar kamp pengungsi, konvoi bantuan dari PBB masih menunggu di pos pemeriksaan. Mereka membawa barang bantuan yang dibutuhkan, termasuk generator pompa air. Pegawai PBB yang mengantar konvoi itu menerangkan, situasi di dalam kamp pengungsi sangat memprihatinkan:

„Mereka tidak punya apa-apa, tidaka da air, tidak ada obat-obat-an, tidaka da roti. Memang ada toko disitu tapi mereka tidak buka. Tidak ada yang berani keluar rumah. Penduduk disitu tidak mendukung militan Fatah al Islam. Tapi mereka tidak bisa apa-apa, kelompok ini terlalu kuat.“

Kebanyakan warga Libanon menentang kegiatan kelompok militan seperti Fatah al Islam. Mariam yang tinggal dekat kamp pengungsi Nahr al Bared mengatakan:

„Kami di daerah ini semua setuju: negara kami harus mandiri dan militer Libanon harus menguasai semua teritorial. Kami tidak bisa terima, ada kelompok militan yang beroperasi bebas. Tidak bisa, ada kelompok militan atau kelompok teror di sana yang mengancam keamanan kami.“

Pemerintah Libanon ingin mengakhiri kegiatan kubu militan. Sejak hari minggu tentara melakukan operasi militer. Wakil organisasi pembebasan Palestina, PLO, di Libanon Abbas Ziki menerangkan, pihaknya tidak kebertaan militer Libanon masuk ke kamp pengungsi itu. Ini adalah keputusan keputusan Libanon dan Palestina mengakui kedaulatan Libanon. Jadi organisasinya mendukung keputusan pemerintah Libanon demi kepentingan bersama. Di Libanon ada 12 kamp pengungsi Palestina. Biasanya, pengelolaan dan administrasi di dalam kamp dilakukan oleh warga Palestina sendiri, sedangkan tentara Libanon menjaga keamanan di luar kamp.

Iklan