Pengungsi Afghanistan Di Pakistan Terancam Deportasi | dunia | DW | 12.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pengungsi Afghanistan Di Pakistan Terancam Deportasi

Pemerintah Pakistan mengeluarkan ketentuan bahwa pengungsi yang tidak terdaftar harus meninggalkan negeri itu sampai dengan tanggal 15 April. Sesudahnya mereka dianggap pendatang ilegal dan akan langsung dideportasi.

Suasana di Pakistan memanas. Bukan hanya karena skandal yuridis, atau pemenggalan kebebasan pers, melainkan juga kasus pengungsi Afghanistan di Pakistan yang jumlahnya masih jutaan orang.
"Ini bukan Afghanistan. Untunglah kalau mereka dipulangkan. Mereka merusak Pakistan. Orang Pakistan tidak boleh ke Kabul walaupun punya visa. Mereka merongrong dan merusak tanah ini. Mereka itu perampok dan pemerkosa. Kalau tidak ada lagi orang Afghanistan di Swat, maka tidak ada lagi perampokan, dan suasana akan damai kembali."
Kata-kata Gul Pari mencerminkan kejengkelannya. Ia tinggal di Mardan, provinsi barat laut Pakistan yang berbatasan dengan Afghanistan. Sejak hampir 30 tahun pengungsi Afghanistan berada di Pakistan, terutama di sekitar Peshawar, dan Quetta di Belutchistan. Tetapi hampir di tiap kota Pakistan ada tempat penampungan warga Afghanistan, yang jumlahnya hanya dapat dikira-kira, yaitu antara tiga sampai empat juta orang. Bersama dengan badan pengungsi PBB UNHCR kini diupayakan untuk memulangkan mereka. Sejak bulan Januari lalu semua warga Afghanistan diimbau untuk mendaftarkan diri. Setibanya di Afghanistan mereka akan memperoleh 100 dollar sebagai awal untuk memulai hidup baru di Afghanistan. Tetapi banyak warga Afghanistan tidak bersedia mendaftarkan diri. Masalahnya, begitu ada instansi resmi mulai bekerja di Pakistan, korupsi merajalela. Untuk memperoleh kartu pendaftaran ada yang harus membayar empat sampai lima ribu Rupee. Apa lagi para pengungsi yang mencatatkan diri itu nantinya memperoleh 100 dollar per orang. Sesudah tanggal 15 April, pengungsi yang tidak terdaftar akan ditahan dan dipulangkan secara paksa dan tanpa uang 100 dollar itu.
Apa yang dianggap sebagai sarana pendataan itu berkembang menjadi bisnis. Banyak warga miskin Pakistan membayar uang suap untuk memperoleh kartu pendaftaran diri warga Afghanistan. Kemudian mereka ikut ke Afghanistan dan pada hari berikutnya kembali ke Pakistan. Tergantung dari uang suap yang dibayarkan, mereka masih mengantongi antara tiga sampai lima ribu Rupee.

Sejumlah bus sudah disewa untuk memulangkan pengungsi. Tahun ini rencananya akan dipulangkan sekitar 250.000 warga Afghanistan. Mulai nampaklah keresahan warga Afghanistan yang sudah meninggalkan kampung halamannya sekitar 30 tahun lalu, misalnya Mahmud Farooq: "Situasi di Afghanistan tidak baik. Kekerasan mengintai di semua pelosok. Bagaimana kami harus ke Afghanistan? Kalau Pakistan mau menjagal kami, lakukanlah disini. Saya bisa menerimanya. Tetapi jangan kirim saya menyongsong maut ke Afghanistan. Disana saya tak punya rumah, tak ada keluarga. Apa jadinya kalau saya harus ke sana?"
Anaknya yang terkecil Sirkander baru mendapat tempat di sekolah setahun yang lalu. Kampung halamannya adalah Pakistan.
Memang tingkat kejahatan di kalangan pengungsi Afghanistan cukup tinggi. Mereka pun dapat dikatakan merebut lapangan kerja warga Pakistan. Tetapi apakah manusiawi untuk mengirim pulang anak-anak yang hanya kenal Afghanistan lewat cerita, ke negeri dimana Taliban mencanangkan aksi militer di musim semi termasuk serangan terhadap pasukan Jerman di utara Afghanistan?

Iklan