1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Lambang Penghargaan Karl Yang Agung kota Aachen

Penghargaan Karl Yang Agung Aachen untuk Merkel

2 Mei 2008

Hari Kamis (01/05) Kanselir Jerman Angela Merkel memperoleh hadiah Karl yang Agung dari kota Aachen, Aachener Karlpreis. Sejak 1950 penghargaan ini diberikan kepada tokoh dan lembaga yang berjasa dalam penyatuan Eropa.

https://www.dw.com/id/penghargaan-karl-yang-agung-aachen-untuk-merkel/a-3307568

Kanselir Angela Merkel terutama dihargai atas upayanya yang luarbiasa dalam mengatasi krisis konstitusi Eropa. Hal ini membantu kelancaran kembali dialog antara masyarakat dengan politik Eropa. Angela Merkel, yang juga ketua partai Uni Kristen Demokrat, CDU adalah perempuan ke-empat yang memperoleh penghargaan tersebut. Komentar Harian Perancis La Croix

„Hadiah Karl yang Agung yang dianugerahkan kepada Angela Merkel, karena terutama pidatonya yang mengesankan dan membuktikan di posisi mana para perempuan dewasa ini menempatkan diri di bidang politik. Beberapa tahun terakhir perempuan di Eropa, Afrika dan Amerika Latin terjun ke pemilu nasional dan naik ke puncak kekuasaan. Di Liberia, Chile atau Argentina. Persaingan Hillary Clinton memperebutkan Gedung Putih seperti halnya hasil akhir dari Segoléné Royal dalam pemilihan presiden di Perancis juga luar biasa. Juga jumlah perempuan di puncak pimpinan perusahaan di Perancis dan Italia menambah daftar bukti tersebut. Sekarang muncul dua pertanyaan: Efek pendidikan apa yang muncul dari kesuksesan ini dalam masyarakat, yang masih belum memiliki kesetaraan jender bagi perempuan? Dan apakah perempuan memiliki gaya lain dalam menjalankan kekuasaan? Masih terlalu dini untuk menilainya, karena jumlah perempuan di jajaran kekuasaan masih terlalu sedikit.“

Sementara harian Perancis lainnya La Liberte de l’Est menyoroti pemilihan komunal di Inggris.

„Di sisi lain, Partai Buruh beraliran kiri di bawah Gordon Brown, untuk memenuhi keinginan warga Inggris harus memperhitungkan adanya perubahan. Pemilihan komunal berlangsung pada saat pihak konservatif, setelah melalui masa-masa sulit, dalam jajak pendapat kembali mencapai kapabililtasnya. London adalah lambang kemungkinan perubahan haluan ini. Walikotanya yang legendaris Ken Livingstone, yang memegang jabatan sejak 8 tahun terancam oleh rivalnya yang juga eksentrik seperti dirinya, Boris Johnson. Tapi seandainya mereka dapat merebut London, kubu konservatif akan menjadi pukulan hebat bagi mayoritas pemerintah.“

Tentang pemilihan komunal di Inggris, harian Inggris Daily Telegraph menulis

„Dalam pemilihan komunal ini Partai buruh dapat mencatat hasil terburuk dalam sejarahnya, jika mengingat hasil dalam pemilihan komunal tahun 2004, ketika memperoleh hasil terburuknya sejak tahun 1960. Tapi kubu konservatif tidak boleh lupa bahwa Partai Buruh yang memenangkan pemilihan parlemen tahun 2005. Pemilihan parlemen tidak boleh berlangsung sebelum tahun 2010, dan pemerintahan partai buruh dalam dua tahun ke depan harus lebih mengembangkan politik berenergi sebagai jawaban terhadap masa-masa ekonomi yang sulit ini.“ (dk)