Penggerebekan Waria di Aceh Semata Karena Kebencian | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 14.02.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sosbud

Penggerebekan Waria di Aceh Semata Karena Kebencian

Kebanyakan korban berada dalam pelarian karena kehilangan pekerjaan dan mendapat ancaman dari masyarakat. Amnesty International mengecam pemerintah Indonesia karena dianggap gagal lindungi warganya.

Perempuan transgender di Indonesia

Perempuan transgender di Indonesia

Organisasi perlindungan Hak Azasi Manusia, Amnesty International, mengecam Kepolisian Indonesia lantaran dinilai gagal melindungi kelompok perempuan transgender yang dipermalukan aparat di Aceh Utara, 27 Januari silam. Sebagian besar kaum waria di Aceh kini terpaksa bersembunyi lantaran mengkhawatirkan keselamatan mereka.

Amnesty sebelumnya mewawancara sejumlah korban di sebuah lokasi tak dikenal yang menjadi tempat pelarian kaum transgender setelah dipecat dari pekerjaannya dan mengalami penganiayaan oleh anggota keluarga atau masyarakat.

"Tidak hanya perempuan transgender ini ditangkap dan dianiaya kepolisian bukan untuk alasan lain, selain menjadi diri mereka sendiri, penderitaan mereka juga berlanjut lantaran kehilangan pekerjaan dan harus melarikan diri dari rumah. Ini adalah kegagalan total pemerintah melindungi Hak Azasi mereka," kata Usman Hamid, Direktur Amnesty International Indonesia.

Baca: Belasan Waria di Aceh Diciduk dan Dicukur Picu Kegeraman Aktivis HAM

Ia mendesak agar aparat kepolisian yang bertanggungjawab atas perlakuan buruk terhadap perempuan transgender mendapat sanksi, termasuk mereka yang menggalang penggerebekan atas nama "perang terhadap transgender."

Menurut Amnesty, para korban mengalami trauma dan hanya ingin berbicara tanpa disebut namanya. Beberapa masih dalam pelarian lantaran khawatir mereka akan menjadi korban penggerebekan selanjutnya. Adapun waria yang bertahan di Aceh terpaksa menuruti perintah polisi agar "bersikap seperti laki-laki."

Semua perempuan yang menjadi korban penggerebekan dipaksa menandatangani surat pernyataan untuk tidak lagi berdandan "layaknya perempuan" atau mengajukan protes atas perlakuan kepolisian.

Namun bukannya melindungi warganya, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf malah membela kepolisian. "Kami tidak benci Lesbian, Gay, Biseksual secara personal, tapi kami membenci perilaku mereka."

Kini drama penggerebekan kelompok transgender mulai menimbulkan kerugian bagi Aceh. Akibat insiden tersebut, acara Aceh International Marathon 2018 di Sabang yang digelar pemerintah provinsi sepi peminat. Irwandi mengakui minimnya partisipasi adalah buntut perlakuan polisi pada kaum LGBT. "Kami mengalami agak kesulitan sedikit gara-gara LGBT tadi," kata dia.

Juga ketatnya aturan berpakaian di Serambi Mekah itu membuat publik urung ikut serta pada lomba Marathon tersebut. "masyarakat peserta ini was-was," ujarnya.

rzn/yf (amnesty, kompas, tempo, detik)

Laporan Pilihan