1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Memperingati Kudatuli

ap/rzn25 Juli 2016

20 tahun sudah berlalu peristiwa penyerbuan markas DPP Partai Demokrasi Indonesia. Peringatan peristiwa yang dikenal dengan sebutan Peristiwa Kudatuli itu kami hadirkan dalam #DWnesia kali ini.

https://p.dw.com/p/1JUKT
Indonesien Wahlkampf 2014 Demokatische Partei
Foto: Getty Images

Salam #DWnesia,

Masihkah Anda ingat Kerusuhan 27 Juli atau Kudatuli atau Peristiwa Sabtu Kelabu? Saat itu terjadi huru-hara di kantor DPP partai Demokrasi Indonesia (PDI). Massa pendukung tokoh PDI Soerjadi beserta aparat polisi dan militer berusaha menguasai kantor di jalan Diponegoro Jakarta tersebut, yang diduduki oleh massa Megawati Soekarnoputri. Peristiawa itu kemudian meluas ke beberapa kawasan ibukota.

Pemerintah Orde baru ketika itu menuding para aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) sebagai biang kerok kerusuhan. Beberapa di antaranya ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

Sebuah analisa menarik mengenai peristiawa 27 Juli kami hadirkan dalam #DWnesia kali ini lewat opini yang ditulis Aris Santoso berjudul : Setengah Hati Peringati 27 Juli. Dalam analisanya, Aris melihat keterkaitan antara peristiwa tersebut dengan konflik internal militer. Di luar itu, Aris memandang, sampai sekarang pihak PDIP seolah ingin melupakan peristiwa tersebut. Padahal peristiwa itu merupakan modalitas awal bagi PDIP dalam meraih kejayaannya saat ini.

#DWnesia kali ini juga menyoroti fenomena global perlakuan masyarakat dimana-mana terhadap kaum pendatang. Di antaranya di Inggris. Referendum Brexit menuut esais geger Riyanto, memberikan rasisme sebuah momentum baru. Mereka yang gerah dengan pendatang merasa bahwa pihaknya adalah mayoritas dan, karenanya, punya hak meluahkan kebenciannya. Namun Geger Riyanto melihat fenomena yang tak jauh beda juga terjadi di tanah air. Simak dalam opininya berjudul: Mengapa Kita Gemar Mengambinghitamkan Pendatang?

Sebagai penutup kami hadirkan sebuah opini tentang pernikahan dalam usia anak di Indonesia. Anda dapat menyimaknya dalam ulasan yang ditulis Tunggal Pawestri berjudul: Mungkinkah Menghentikan Pernikahan Anak?

Anda setuju dengan opini para penulis? Selamat berdiskusi, Sahabat DW…

Kami tunggu opini Anda di Facebook DW_Indonesia dan twitter @dw_indonesia.Seperti biasa, sertakan tagar #DWNesia dalam mengajukan pendapatmu. Salam #DWNesia