Pengadilan Remaja ″Teen Court″ | Sosial | DW | 06.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Pengadilan Remaja "Teen Court"

Pengadilan remaja yang juga dikenal sebagai pengadilan sekolah adalah proyek untuk menanggulangi kriminalitas di kalangan remaja.

Salah satu penjara bagi remaja, di Herford, Jerman

Salah satu penjara bagi remaja, di Herford, Jerman

Masa pubertas di kalangan remaja, jika tidak terkendali sering berkembang menjadi tindakan kriminalitas. Berbagai upaya dilakukan untuk mengendalikan hal ini. Salah satunya Teen Court atau pengadilan remaja, sebuah gagasan yang datang dari Amerika Serikat.

Cukup Berhasil

Hakim di pengadilan remaja adalah murid-murid berusia 14 sampai 19 tahun yang tergabung dalam Dewan Sekolah, dapat menjatuhkan hukuman terhadap tindakan kriminalitas ringan yang dilakukan murid lainnya.

Selain syarat mendapat pelatihan, para hakim remaja ini juga umurnya harus lebih tua daripada murid yang dikenai perkara. Di negara bagian Bayern di Jerman, proyek pengadilan sekolah sudah dilaksanakan di dua kota, yaitu Ingolstadt dan Aschaffenburg. Proyek tersebut dinilai cukup berhasil, sehingga negara bagian Jerman lainnya Sachsen, juga ingin melaksanakannya. Untuk itu di kota Leipzig dan Bautzan, dijalankan proyek percontohan.

Pengalihan Proses Pengadilan

Pengadilan remaja bukanlah proses pengadilan bagi remaja dalam konteks hukum formal. Jika seorang remaja pelaku tindak kriminal mengakui dan menunjukkan penyesalan dan bersedia secara suka rela berpartisipasi dalam pengadilan sekolah, maka jaksa penuntut mengalihkan hukuman dari proses pengadilan dan mengalihkan kasus tersebut kepada Dewan Pengadilan Sekolah. Bila remaja tersebut menerima keputusan hukuman dari hakim remaja, maka kasusnya dianggap selesai

“Jadi kami tadi sudah membicarakan dan mencoba menemukan jalan penyelesaian hal yang sesuai dengan hobby kamu. Dan kami sudah memikirkan tema atau motto yang mungkin dapat kamu buat dalam sebuah plakat. Berpikir dulu baru bertindak. Ini kamu lukis dan kemudian dipasang di sekolah, di sebuah tempat yang banyak dilalui orang.”

Itulah bunyi keputusan yang dibacakan Erich remaja pria berusia 16 tahun, di depan pengadilan sekolah di Leipzig. Kira-kira demikian pula bunyi keputusan yang sering didengar di depan pengadilan berbagai sekolah di Leipzig sejak Januari lalu. Sebelum menghadapi kasus sebenarnya, ke-26 hakim pengadilan sekolah mula-mula menjalani pelatihan khusus.

Hukuman Yang Mendidik

Sejak 1 Januari lalu tim yang beranggotakan 3 orang ini pertahunnya harus mengolah 80 kasus. Hal yang tidak hanya mempersingkat waktu proses persidangan tapi juga menuntut para hakim menemukan hukuman yang kreatif bagi remaja. Menurut seorang pakar ilmu pendidikan sosial, Rainer Dittrich, yang bersama seorang rekannya melatih hakim pengadilan sekolah di Leipzig masih ada berbagai keuntungan lain:

“Dari pengalaman saya, dalam pembicaraan dengan teman seumurnya, remaja lebih mudah memikirkan apa yang mereka lakukan. Dalam pembicaraan itu mereka juga akan melahirkan gagasan, sama-sama memikirkan usulan yang menurut mereka adil atau sanksi yang adil. Inilah keuntungan besarnya. Mereka dilibatkan dalam menemukan hukuman yang sebaiknya dijatuhkan. Menurut saya ini menguntungkan karena berarti mereka yang bersalah lebih dapat menerima hukuman tersebut.”

Memang hanya kasus-kasus kecil yang diajukan ke depan pengadilan sekolah, yang dalam pengadilan biasa paling tinggi dikenai hukuman 15 jam kerja. Selain itu, para remaja yang terkena perkara juga boleh menolak kewajiban atau juga usulan hukuman yang ditawarkan hakim pengadilan sekolah. Jika ini terjadi, maka kasus mereka akan kembali diproses oleh kejaksaan.

Membantu dan Belajar

Para calon hakim pengadilan sekolah memiliki berbagai alasan ambil bagian dalam proyek percontohan di Leipzig. Lucien yang berumur 15 tahun menilai pengadilan sekolah sesuatu yang baik. “Karena dapat membantu murid lain, remaja lain. Saya pikir juga mereka tidak menerimanya secara serius. Kami memang duduk di sini dan memberi kesempatan kepada yang lain sekali lagi sebagai remaja, tidak sebagai orang dewasa.”

Tapi Lucien juga percaya, secara pribadi ia dapat menarik manfaat dari kegiatannya sebagai pengawas hukum. “Kami sekarang juga sudah mendapat beberapa mata pelajaran. Dan saya pikir juga, bahwa saya cukup banyak belajar, apalagi cara bersikap menghadapi orang lain yang terlibat pelanggaran hukum. Itu juga menguntungkan saya.”

Nada yang ingin menjadi dokter yakin, sebagai hakim pengadilan sekolah ia dapat meningkatan kemampuan sosialnya. “Saya kira, terdapat kesempatan besar untuk berkomunikasi dengan orang lain dan mencari jalan keluar yang sebelumnya tidak diketahui. Dalam kehidupan selanjutnya hal itu harus sering dilakukan.”

Jika pengadilan sekolah di Leipzig dan Bautzen tahun ini benar-benar dilaksanakan, kementerian kehakiman negara bagian Sachsen akan mengupayakan agar proyek percontohan Teen Court atau pengadilan sekolah ini diterapkan di negara-negara bagian lain di Jerman.