Penembakan Tokoh Kritis Turki | Fokus | DW | 20.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Penembakan Tokoh Kritis Turki

Salah satu alasan yang menghambat masuknya Turki sebagai anggota Uni Eropa adalah masalah penegakan hak azasi manusia. Pembunuhan wartawan Hrant Dink pada hari Jumat (19.01) menunjukan peliknya masalah yang dihadapi.

Mendiang Hrant Dink

Mendiang Hrant Dink

Hrant Dink wartawan Turki keturunan Armenia ditembak mati di Istanbul di gerbang kantornya. Ia merupakan salah seorang pembela suku minoritas Armenia di Turki. Kepada pers, Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan berjanji akan menangkap orang-orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan itu. Ia menyebut pembunuhan itu sebagai upaya memecah belah Turki, dan menugaskan sejumlah pejabat tinggi dari Kementerian Kehakiman dan Peradilan, serta Kementerian Keamanan untuk menyelidiki pembunuhan tersebut. Erdogan mengatakan:

“Ini bukan saja serangan terhadap Hrant Dink, melainkan juga terhadap perdamaian dan stabilitas yang kita upayakan. Ini merupakan serangan terhadap kebebasan berpendapat dan demokrasi di Turki.“

Di sebuah jalan yang ramai di tengah kota Istanbul, Hrant Dink tewas di gerbang kantornya, sebuah mingguan nasional Turki. Saksi mata melihat bagaimana seorang pemuda bercelana jeans dan bertopi putih menembakan pistolnya tiga kali ke arah kepala jurnalis kenamaan itu. Hrant Dink tewas di tempat. Wartawan berusia 53 tahun itu dikenal sebagai juru bicara tidak resmi bagi suku minoritas Armenia di Turki yang diperkirakan berjumlah 65 ribu orang.

AGOS, mingguan berbahasa Turki, tempat ia bekerja memiliki tiras sebesar 5.000 eksemplar dan dua halaman di mingguan itu berbahasa Armenia. Bagi Dink, rekonsiliasi Armenia dan Turki merupakan tema penting. Berulang kali ia menyoroti tema pembunuhan ratusan ribu warga suku Armenia ketika Perang Dunia pertama. Di Turki, tema ini masih sangat sensitif dan hampir tabu untuk dibicarakan. Akibatnya Dink sering menerima ancaman dari kelompok-kelompok nasionalis Turki. Padahal Dink selalu mengkritik kedua belah pihak, baik rasa nasionalisme berlebihan di berbagai kelompok Turki maupun rasa rendah diri suku Armenia yang selalu merasa didiskriminasi. Sebelum wafat, tanpa tedeng aling-aling ia mengatakan:

“Suku Turki dan Armenia membutuhkan terapi untuk memperbaiki hubungannya. Bangsa Turki untuk mengatasi ketakutannya dan bangsa Armenia karena trauma yang mereka miliki. Dua hal yang belum teratasi oleh kedua etnis ini.“

Beberapa tahun lalu, Hrant Dink dan temannya, penulis Orhan Pamuk yang memenangkan hadiah Nobel untuk Sastra tahun 2006, dituntut di pengadilan atas tuduhan bersikap dan mengutarakan pernyataan anti Turki. Proses pengadilan yang berakhir tahun 2005 itu ditandai dengan dijatuhkannya vonis hukuman enam bulan penjara terhadap Hrant Dink. Mengenai proses tersebut dan situasi kebebasan berpendapat di Turki, Dink setelah bebas mengatakan:

"Kalangan yang takut akan demokratisasi Turki akan melakukan apa saja untuk menghentikan proses reformasi, ini terlihat dari konfrontasi antara kelompok-kelompok yang pro Eropa dan anti Eropa.“

Hrant Dink yang oleh kelompok nasionalis dianggap sebagai pengkhianat Turki, tahun lalu menerima Piagam Henri Nannen untuk tulisannya mengenai masalah rekonsiliasi Armenia dan Turki. Siapa pembunuhnya belum diketahui, dua orang tersangka yang ditangkap sudah dibebaskan lagi.