1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Kesehatan

Peneliti Sebut Ekstrak Ganja Mampu Tangkal Virus Corona

Zulfikar Abbany
11 Mei 2020

Peneliti ganja di Kanada mengatakan bahwa obat nabati tersebut dapat memberikan resistensi terhadap SARS-CoV-2. Temuan awal ini bagian dari penelitian lebih luas tentang penggunaan ganja medis dalam pengobatan kanker.

https://p.dw.com/p/3c1PW
Medizinisches Cannabis
Foto: picture-alliance/AP Photo/J. Chiu

Pencarian vaksin untuk virus corona jenis baru, SARS-CoV-2, atau obat yang bisa menyembuhkan penyakit yang disebabkannya, COVID-19, telah membawa para peneliti menggunakan cara-cara tradisional dan yang kurang tradisional.

Mereka telah meneliti kandidat obat yang ada, seperti remdesivir, yang mulanya dikembangkan untuk mengobati Ebola. Sementara di Jerman, uji klinis pertama untuk vaksin virus corona dilakukan dengan kandidat vaksin yang justru dikembangkan untuk penanganan kanker.

Bahkan ada sebuah studi dari Prancis yang menyatakan bahwa nikotin, yang biasanya didapatkan dari kebiasaan merokok yang kerap mematikan, dapat melindungi orang dari virus corona jenis baru.

Sekarang di Kanada muncul sebuah penelitian awal yang menyatakan bahwa jenis tertentu dari obat psikoaktif kanabis juga dapat meningkatkan resistensi terhadap virus corona. Jika penelitian ini dapat diverifikasi, yang mana saat ini masih belum ditinjau oleh para ahli, maka cara kerjanya kelihatannya akan mirip dengan nikotin.

"Hasilnya terhadap COVID-19 berasal dari penelitian kami pada radang sendi, penyakit Crohn, kanker dan lainnya,” kata Dr. Igor Kovalchuck, seorang profesor Ilmu Biologi di Universitas Lethbridge, dalam email yang diterima DW.

Memblokir "pintu masuk” untuk virus

Seperti halnya penelitian tentang efek nikotin pada virus corona, diperkirakan bahwa beberapa jenis ganja, juga umum disebut cannabis atau marijuana, dapat mengurangi kemampuan virus untuk memasuki paru-paru, di mana ia bisa bertahan, bereproduksi, dan menyebar.

Kovalchuck dan rekannya menerbitkan makalah mereka tentang hal ini di preprints.org, sebuah laman jurnal ilmiah di mana para ilmuwan dapat mempublikasikan hasil penelitian mereka tanpa diperiksa oleh ahli. Dalam makalah itu, mereka menuliskan bahwa jenis ganja yang mereka kembangkan secara khusus, mampu menghentikan virus memasuki tubuh manusia.

Penelitian ini adalah salah satu dari banyak makalah global yang telah dibagikan di situs web pracetak, termasuk preprints.org, dalam upaya menyebarluaskan temuan awal terkait pengobatan potensial dari COVID-19, yang belum melewati pemeriksaan ahli yang ketat.

Virus corona membutuhkan "reseptor” untuk memasuki sel inang pada manusia. Reseptor itu dikenal sebagai "angiotensin-converting enzyme II,” atau ACE2.

ACE2 ditemukan di jaringan paru-paru, di lendir mulut dan hidung, di ginjal, testis, dan saluran pencernaan, tulis mereka.

Teorinya adalah bahwa dengan memodifikasi level ACE2 pada "pintu masuk” ke sel inang manusia, maka dimungkinkan untuk menurunkan kerentanan terhadap virus. Hal ini pada dasarnya dapat mengurangi risiko infeksi.

"Jika tidak ada ACE2 pada jaringan, virus tidak akan masuk,” kata Kovalchuck.

Kanada | Cannabisforscher
Peneliti ganja medis Dr. Igor KovalchuckFoto: privat

Kandungan ganja medis

Beberapa ilmuwan di komunitas sains mengatakan bahwa ganja medis dapat mengobati berbagai kondisi kesehatan, seperti mual dan demensia. Tapi perlu dicatat bahwa ganja medis tidak sama dengan apa yang Anda sebut dengan ganja rekreasional.

Ganja medis yang merupakan "varietas ganja kebun atau ganja umum”, atau juga ganja jalanan, dikenal karena kandungan Tetrahydrocannabinol (THC) di dalamnya. Kandungan inilah yang merupakan agen psikoaktif utama di dalam obat tersebut.

Penelitian oleh Kovalchuck dan rekannya yang bermarkas di Alberta itu berfokus pada jenis tanaman, Cannabis sativa. Tanaman ini disebut memiliki kandungan cannabinoid anti-inflamasi yang tinggi, yang dikenal sebagai kanabidiol (CBD). Ini adalah komponen kimia utama lain yang dapat ditemukan dalam ganja, selain THC.

Mereka telah mengembangkan lebih dari 800 varian Cannabis sativa baru, dengan kadar CBD yang tinggi. Mereka juga mengindentifikasi 13 ekstrak yang menurut mereka mampu memodifikasi tingkat ACE2 pada "pintu masuk” virus di tubuh manusia.

"Varietas kami memiliki kandungan CBD yang tinggi, atau CBD/THC yang seimbang, karena Anda dapat memberikan dosis yang lebih tinggi dan orang tidak akan terganggu karena sifat psikoaktif THC,” kata Kovalchuck.

Dana sedikit, pengetahuan yang didapat pun sedikit

Bersama dengan Dr. Darry Hudson, seorang lulusan PhD dari Universitas Guelph, Kovalchuck juga turut mengepalai sebuah perusahaan bernama Inplanta Biotechnology. Lembaga dari Kanada ini juga tengah meneliti penggunaan kanabinoid dalam pengobatan.

Tetapi pendanaan untuk penelitian kanabinoid "masih sulit”, kata Kovalchuck. Dan ini juga terjadi di negara-negara lain.

Beberapa peneliti di Inggris mengatakan, itu terjadi karena mungkin ada kesalahpahaman antara masyarakat umum dan politisi tentang ganja medis. Ketakutan bahwa orang akan menjadi pecandu atau mencoba mengobati dirinya sendiri, menggunakan segala bentuk ganja yang mereka temukan.

Peneliti menyatakan bahwa sangat penting bagi mereka untuk meluruskan informasi dan menghindari sensasionalisme semacam itu.

"Para peneliti harus sangat berhati-hati ketika menyebarluaskan hasil penelitian mereka, mengingat volatilitas sosial-politik dari penggunaan ganja medis,” kata Chris Albertyn, seorang peneliti di King's College London, yang juga merupakan ahli kanabinoid dan demensia.

Cara terbaik untuk mengatasi hal itu menurutnya adalah menerapkan metode penelitian yang terbuka dan juga transparan.

"Sebagai contoh, penelitian dari Kanada baru saja meluncurkan ‘mekanisme aksi' terapi potensial, tetapi hal itu perlu divalidasi dan diperiksa lagi dalam uji klinis yang dirancang dengan baik, sebelum akhirnya mengambil kesimpulan klinis yang signifikan,” jelasnya.

Termasuk juga melakukan pra-pendaftaran protokol klinis dan metode analisis, penerbitan dalam jurnal yang dapat diakses secara terbuka, uji coba kontrol plasebo doube-blind yang ketat, dan juga pemeriksaan independen oleh ahli dari komunitas akademik klinis," kata Albertyn.

"Gelombang penelitian akan datang”

Masalahnya, tanpa dana yang cukup dan penelitian lebih lanjut, pengetahuan tentang kanabinoid akan sangat terbatas. Apakah hasil penelitiannya positif atau negatif, beberapa mengatakan tidak akan diketahui sampai penelitian benar-benar dilakukan.

"Tapi sekarang ada minat yang sangat besar,” kata Kovalchuck dalam emailnya. Ia menekankan bahwa "gelombangnya (penelitian) akan datang”.

Meskipun ekstrak ganja paling efektif yang mereka kembangkan memerlukan validasi dalam skala besar, Kovalchuck dan rekannya mengatakan bahwa hal itu mungkin bisa menjadi "tambahan pengobatan yang aman” untuk COVID-19. "Sebuah tambahan selain perawatan lainnya”.

Jadi, dengan verifikasi skala besar yang tertunda, ganja medis mungkin dapat dikembangkan sebagai "perawatan pencegahan yang mudah digunakan,” seperti misalnya obat kumur untuk mulut dan tenggorokan, baik dalam penggunaan klinis maupun penggunaan di rumah. (gtp/hp)