Pemutaran dan Temu Fans ″Aruna & Lidahnya″ di Berlinale 2019 | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 13.02.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Berlinale 2019

Pemutaran dan Temu Fans "Aruna & Lidahnya" di Berlinale 2019

Sehari setelah pemutaran perdana di gedung Gropius Bau Berlin yang terkenal untuk karya seni kontemporer, film “Aruna & Lidahnya” diputar untuk kedua kalinya di ajang Berlinale 2019.

Lambang Berlinale langsung terlihat ketika mendekati Bioskop Cubix di Alexanderplatz, Berlin. Sepanjang festival bioskop ini memutar sejumlah film Berlinale dari berbagai kategori. Siang ini giliran pemutarann "Aruna & Lidahnya” dalam kategori Culinary Cinema. Sutradara Edwin, kedua produser Muhammad Zaidy dan Meiske Taurisia, serta para pemain utama Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra dan Hannah Al Rashid, hadir di lokasi pemutaran dan terlihat santai.

Saskia dan Gina, dua mahasiswa yang sedang kuliah di Berlin, kelihatan bersemangat menonton film yang dibintangi Dian Sastro dan Nicholas Saputra ini karena sudah mendengar review yang bagus dari teman-temannya di Indonesia. "Film tentang kuliner Indonesia kan jarang, jadi penasaran. Selain itu ceritanya juga berbobot,” ujar mereka. Setelah pemutaran kedua teman ini sudah berencana akan makan makanan Indonesia

Ketika berbincang-bincang sebelum film dimulai, produser Muhammad Zaidy berkata, bahwa dirinya sangat menghargai hasil yang dicapai "Aruna & Lidahnya” sampai saat ini. "Memang tidak terlalu banyak film Indonesia yang mengangkat tema tentang persahabatan sekaligus juga  kuliner Indonesia. Menurut saya, ini memberi warna yang baru juga di perfilman Indonesia dan alhamdulillah film ini bukan hanya diterima di Indonesia tapi film ini bisa menjadi bagian dari Culinary Cinema di Berlin,” tuturnya.

Aruna & Lidahnya Cubix Filmpalast (DW/A. Gollmer)

Lokasi pemutaran kedua "Aruna & Lidahnya" di bioskop Cubix, Berlin

Muhammad Zaidy juga mengaku masih kagum dengan acara special dinner malam sebelumnya. "Pengalaman tadi malam itu juga sesuatu yang sangat baru bagi saya. Sehabis nonton bareng, kita bukan hanya berdiskusi dengan cinephile tapi juga dengan food anthusiast,” ceritanya.

Menu yang merupakan interpretasi makanan Indonesia oleh chef terkenenal asal Vietnam The Duc Ngo dinilainya unik. "Itu rasa-rasa yang baru bagi kami dalam konteks masakan Indonesia. Enak, tapi ini adalah sebuah interpretasi. Jadi memang bukan sesuatu yang super otentik tentunya,” papar sang produser dari Palari Films. Cheviche dan sambal matah karya chef The Duc Ngo baginya terasa sangat enak.

Menjelang dimulainya pemutaran kedua "Aruna & Lidahnya”, yang diangkat dari roman Laksmi Pamuntjak dengan judul yang sama, studio 8 di bioskop Cubix yang bisa menampung sekitar 300 penonton sudah hampir penuh. Sutradara Edwin dipanggil untuk memperkenalkan filmnya. Dia menyatakan sangat bangga akhirnya menjadi bagian dari Culinary Festival yang dulu tidak bisa ia hadiri, ketika pertama kali datang ke Berlinale dalam program Berlinale Talents Campus tahun 2005.

"Saya senang sekali kembali ke Berlinale. Berlinale ini salah satu festival yang membuat saya banyak belajar mengenai film,” katanya kepada DW. "Ketika saya pertama ke sini, program Culinary Cinema baru dipperkenalkan. Jadi saya juga tahu 13 tahun lalu ada sebuah program yang khusus mendedikasikan kepada cinema dan kuliner. Dan pastinya senang sekali ketika tahu film saya bisa berpartisipasi di sini,” tambahnya.

Aruna & Lidahnya Q&A Session (DW/A. Gollmer)

Sesi tanya jawab dengan tim "Aruna & Lidahnya"

Program Culinary Cinema ingin menunjukkan hubungan antara makanan dan budaya dan politik. Tahun ini dua film fiksi dan 10 film dokumenter dari seluruh dunia diputar di ajang festival film papan atas ini. Topik-topik yang diangkat beragam, dari perjuangan para koki perempuan profesional yang bekerja restoran-restoran ternama, perubahan iklim yang mengancam pencaharian para petani di Peru, sampai keseimbangan antara pekerjaan sebagai pemilik restoran dan kehidupan pribadi.

"Taste for Balance” dipilih menjadi benang merah yang menyambungkan semua film dalam kategori Culinary Cinema. Bagi Edwin, keseimbangan juga merupakan hal yang harus ia jaga ketika membuat film. "Film ini sendiri punya banyak elemen cerita, mulai dari perjalanan Aruna sendiri dengan flu burungnya itu, lalu ada kisah pertemanan dan sentuhan romantisnya antara Aruna dan Farish, lalu Nadhezda dan Bono, dan makanannya sendiri,” jelasnya. "Itu semua perlu dibikin seimbang, satu sama lain memang harus mendukung, tidak ada yang sendirian,” tambah Edwin, yang selanjutnya akan memfilmkan adaptasi dari karya Eka Kurniawan "Rindu Harus Dibayar Tuntas”.

Seusai penayangan film, banyak penonton banyak yang mengatakan: "Sekarang kita harus cari makanan Indonesia...” Sebelum meninggalkan bioskop, penonton diajak bergabung dalam sesi tanya jawab dengan seluruh tim film yang hadir. Banyak yang ingin tahu alasan pengangkatan tema kuliner dan apakah para pemain menyukai semua makanan yang dicoba.

Seorang pengunjung asal Berlin yang sudah berulang kali berkunjung ke Indonesia juga mengaku menjadi lapar di saat menonton "Aruna & Lidahnya. "Ini artinya, gambar-gambar kulinernya diambil dengan sangat bagus,” kata Paul. "Menurut saya juga menarik, bahwa hal keseharian seperti makan dihubungkan dengan isu-isu politis, kisah cinta dan sifat orang Indonesia yang kadang tidak mengungkapkan pendapat dengan terbuka dan karena itu bisa membuat hidup lebih rumit,” lanjutnya.

Setelah berbincang-bincang bersama penonton seusai pemutaran dan meladeni permintaan tanda tangan dan foto, tim "Aruna & Lidahnya” meninggalkan lokasi. Kunjungan singkat di Berlin juga akan mereka gunakan untuk menonton film-film lain yang meramaikan festival film internasional ini.

(ag/hp)

 

Laporan Pilihan