Pemodelan BIN Prediksi Kasus Positif Corona Tembus 100 Ribu di Bulan Juli | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 03.04.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Wabah Corona

Pemodelan BIN Prediksi Kasus Positif Corona Tembus 100 Ribu di Bulan Juli

Fase puncak wabah Corona (COVID-19) di Indonesia diprediksi bisa menembus angka 100 ribu kasus. Cina, yang sudah melewati fase puncak, kasus Coronanya tak sampai menembus 100 ribu.

Permodelan yang terbaru mengenai penularan COVID-19 dibuat oleh Badan Intelijen Negara (BIN). Hasil pemodelan ini dijelaskan Kepala BNPB Doni Monardo selaku Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, yang digelar secara virtual, Kamis (2/4/2020).

Doni Monardo mengungkapkan bahwa jumlah positif Corona di Indonesia pada Juli 2020 diperkirakan akan mencapai lebih dari 100 ribu kasus.

"Estimasi jumlah kasus di Maret 1.577 masukan BIN. Ini relatif akurat. Estimasi akhir April 27.300, puncaknya pada akhir Juni dan akhir Juli," kata Doni dalam rapat.

Dalam data itu disebutkan bahwa puncak kasus positif Corona terjadi pada Mei, dengan penambahan jumlah kasus dari April ke Mei sebanyak 68.144.

Berikut ini estimasi jumlah kasus positif virus Corona sebagaimana pemodelan BIN:

  • Estimasi jumlah kasus di akhir Maret 1.577 (realitas 1.528, akurasi prediksi 99 persen)
  • Estimasi jumlah kasus di akhir April 27.307
  • Estimasi jumlah kasus di akhir Mei 95.451
  • Estimasi jumlah kasus di akhir Juni 105.765
  • Estimasi jumlah kasus di akhir Juli 106.287

Disebutkan juga, terdapat 50 dari 100 kabupaten/kota memiliki risiko tertinggi dengan 49 persen penularan. Beberapa di antara 50 kabupaten/kota itu berada di Pulau Jawa.

Setidaknya 10 provinsi yang mengalami kekurangan fasilitas kesehatan (faskes) dalam penanggulangan COVID-19 adalah Jawa Barat, DIY, Sulawesi Selatan, Bali, Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Papua, NAD, Sulawesi Tenggara, dan Maluku. Kekurangan faskes ini termasuk SDM tenaga kesehatan, ruang isolasi tidak memadai, dan Alat Perlindungan Diri (APD).

Namun Indonesia tidak sendirian. Negara-negara lain pun masih bergulat melawan virus Corona ini. Data yang dihimpun oleh situs CSEE Universitas John Hopkins per Jumat (3/4/2020), menunjukkan, saat ini posisi kasus Corona terbanyak diduduki Amerika Serikat dengan 245.213 kasus. Sedangkan Italia sebanyak 115.242 kasus, Spanyol 112.065 kasus, dan Jerman dengan 84.794 kasus.

Posisi keempat diduduki oleh Cina, negara pertama yang melaporkan kasus Corona pada Desember 2019 dengan kasus sebesar 82.443.

Dengan kata lain, angkanya tidak menembus ratusan ribu, sedangkan di Indonesia justru angkanya diprediksi tembus ratusan ribu.

Bagaimana cara Cina melewati fase puncak?

Jika dilihat dari lonjakan jumlah kasus, puncak Corona di Cina bisa tampak pada sekitar Februari 2020.

Menurut media Cina, CGTN, Kamis (13/2/2020), jumlah kasus terkonfirmasi virus Corona hingga Rabu (12/2) tengah malam waktu setempat mencapai 59.651 orang.

Provinsi Hubei, yang merupakan pusat wabah Corona, melaporkan adanya 14.840 pasien baru dalam satu hari, yakni pada Rabu (12/2) sehingga total kasus terkonfirmasi virus Corona di provinsi itu kini menjadi 48.206.

Komisi kesehatan Hubei melaporkan seperti dilansir CGTN, bahwa di provinsi tersebut tercatat 242 kematian pasien virus Corona hanya dalam satu hari, yakni pada Rabu (12/2). Ini merupakan angka penghitungan terbesar dalam sehari sejak wabah ini muncul.

Namun, sebelum kasus Corona terus melonjak, Cina lebih dulu melakukan lockdown. Dilansir Reuters,Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, menjadi kota pertama yang di-lockdown, yakni sejak 23 Januari. Penerbangan dari dan ke Wuhan ditutup. Di Wuhan, 58 juta orang hidup dalam karantina besar-besaran.

Pembatasan ketat dilakukan. Warga yang hendak melakukan perjalanan ke luar dan masuk wilayah yang di-lockdown harus menjalani pendataan. Jalur transportasi, termasuk tol, rel kereta api, dan transportasi umum, dinonaktifkan.

Kota lain di Hubei yang di-lockdown antara lain Huanggang dan Ezhou. Kemudian, lockdown secara parsial disusul oleh kota-kota lain di luar Provinsi Hubei, termasuk Liaoning, yang berpenduduk 41 juta jiwa, Anhui berpenduduk 62 juta jiwa, Jiangxi dihuni 46 juta jiwa, Beijing berpenduduk 22 juta jiwa, Shanghai berpenduduk 24 juta jiwa, dan Chongqing berpenduduk 30 juta jiwa.

Selain itu, sejak Januari pemerintah Cina telah menyiapkan sejumlah RS darurat untuk menangani para pasien Corona.

Hasilnya, jumlah pergerakan kasus baru Corona di Cina terus melandai pada Maret. Otoritas Provinsi Hubei untuk pertama kalinya melaporkan hanya satu digit kasus baru, yakni delapan kasus dalam sehari.

Seperti dilansir Reuters dan kantor berita Xinhua News Agency, Kamis (12/3/2020), Komisi Kesehatan Nasional Cina (NHC) dalam laporan terbaru menyebut total 15 kasus baru terkonfirmasi di wilayah Cina daratan sepanjang Rabu (11/3) waktu setempat. Angka itu menurun dari jumlah sehari sebelumnya, yang mencapai 24 kasus baru dalam sehari.

Dari 15 kasus baru yang dilaporkan NHC, sekitar delapan kasus di antaranya ada di Provinsi Hubei, yang menjadi pusat wabah virus Corona. Lebih spesifik lagi, delapan kasus baru di Provinsi Hubei itu semuanya ada di kota Wuhan--ibu kota provinsi tersebut--yang menjadi asal muasal virus Corona.

Melihat kondisi yang membaik ini, Cina pun mulai mengendurkan kebijakan lockdown-nya. Para staf medis yang bekerja di RS darurat pun mulai dipulangkan dan RS ditutup. China mulai kembali normal seperti sedia kala. (gtp/yf)

Baca artikel selengkapnya di: DetikNews

Corona di RI Bisa Tembus 100 Ribu, Bagaimana China Melewati Fase Puncak?

Laporan Pilihan