Pemimpin ISIS Tewas, Indonesia Waspada Potensi Serangan Balasan | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 29.10.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Terorisme

Pemimpin ISIS Tewas, Indonesia Waspada Potensi Serangan Balasan

Negara-negara di Asia Tenggara siaga akan potensi munculnya serangan balasan yang dilancarkan simpatisan ISIS. Polisi, tempat ibadah, maupun simbol-simbol Amerika Serikat berpotensi menjadi target penyerangan.

Tewasnya pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi dalam operasi khusus yang dilakukan pasukan Amerika, dinilai tidak akan serta-merta menghentikan aksi teror yang dilakukan ISIS secara keseluruhan di seluruh dunia. Dikhawatirkan akan muncul serangan balasan oleh para simpatisan ISIS atas kematian al-Baghdadi.

Kepada DW Indonesia, pengamat terorisme dari jurnal Intelijen, Stanislaus Riyanta, berpendapat bahwa para anggota ISIS akan berkonsolidasi untuk mencari pemimpin baru menggantikan al-Baghdadi yang tewas dengan cara meledakkan diri.

"Walaupun situasi saat ini ISIS semakin terdesak di Suriah sehingga anggotanya akan menyelamatkan diri dengan bergabung ke kelompok lain, atau mencari daerah yang lebih aman, atau kembali ke negara asalnya," jelas Stanislaus, saat dihubungi Selasa (29/10) siang.

Indonesia sendiri termasuk salah satu negara yang sebagian warganya bergabung dengan ISIS di Suriah. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tahun 2018, terdapat 1.321 WNI yang berusaha bergabung dengan ISIS di Suriah. Setahun sebelumnya, menurut data The Soufan Center tahun 2017, ada sekitar 600 WNI yang bergabung dengan ISIS di Suriah, 113 adalah perempuan, 100 anak-anak, dan sisanya pria dewasa.

Dengan besarnya jumlah tersebut, Stanislaus menegaskan bahwa tewasnya al-Baghdadi memberikan sinyal kepada Indonesia untuk meningkatkan keamanan terhadap ancaman teror.

"Mencari daerah lain untuk membangun kekuatan baru, kemungkinan ke Afganistan, atau kembali untuk melakukan aksi di daerah asalnya masing-masing. Jika kemungkinan terakhir ini yang terjadi, maka akan menjadi sinyal bagi Indonesia untuk lebih waspada terhadap ancaman terorisme," ujar Stanislaus.

Baca jugaPengamat: WNI Eks-Kombatan ISIS Harus Dirangkul Oleh Negara 

Simbol-simbol Amerika jadi target serangan balasan?

Sejumlah negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Filipina juga berpendapat hal yang sama. Menurut Kepala Divisi Antiteror Polis Diraja Malaysia Khan Mydin Pitchay, kekhawatiran akan serangan balasan mungkin dilancarkan oleh mereka yang teradikalisasi. Sementara Menteri Pertahanan Filipina, Delfin Lorenzana, mengatakan kematian al-Baghdadi dapat memicu serangan balasan yang dilakukan para pemuda di Mindanao yang terpapar paham ISIS.

Stanislaus juga menyoroti kemungkinan serangan balasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan ISIS di Indonesia. "Ada kemungkinan juga sasaran yang biasanya ke polisi atau tempat ibadah, bisa berkembang kepada simbol-simbol Amerika Serikat, mengingat al-Baghdadi tewas karena serbuan pasukan Amerika Serikat," jelas Stanislaus saat diwawancarai DW Indonesia.

Ia pun mengimbau Polri untuk melakukan deteksi dini munculnya serangan balasan. "Mereka harus terus dipantau dan diwaspadai dan paling penting ditindak sebelum aksi terjadi dengan bukti yang cukup," imbuh Stanislaus.

Menurutnya, Polri juga patut mewaspadai bangkitnya gerakan Jamaah Al-Islamiyah (JI) yang memanfaatkan momentum terdesaknya ISIS ini. "Selama pemerintah fokus untuk menanggulangi kelompok radikal yang berafiliasi dengan Al-Qaeda seperti JI menjadi sleeper cell (sel tidur) dan berkonsolidasi. Saat ini JI menemukan momentumnya untuk bangkit," pungkas Stanislaus.

Baca jugaPenangkapan Terduga Teroris di Bali, Tidak Akan Ganggu Sektor Pariwisata

Menanggapi tewasnya pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Pol. Asep Adi Saputra menyampaikan bahwa saat ini Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri terus memantau seluruh jaringan teroris yang berada di Indonesia.

"Densus 88 tetap konsisten melakukan upaya-upaya penegakan hukum terhadap pelaku aksi teror atau teroris ini. Jadi pada prinsipnya, semua jaringan di Indonesia, semuanya dalam pantauan Densus 88," ujar Asep dilansir Kompas.com.

Sebelumnya, pada Minggu (27/10), Presiden Amerika Donald Trump mengumumkan bahwa pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi tewas dalam operasi khusus pasukan AS. Al-Baghdadi diketahui meledakkan diri dengan rompi yang berisi bahan peledak, ketika ia telah tersudut di ujung terowongan bawah tanah. Ledakan tersebut juga menewaskan tiga orang anaknya. Jasad al-Baghdadi langsung dibuang ke laut beberapa jam setelah diidentifikasi.

rap/ae (dari berbagai sumber)