1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pemilu Uni Eropa Pertama bagi Remaja 16 Tahun Jerman

21 Mei 2024

Penurunan usia pemilih di Jerman, yang semula 18 menjadi 16 tahun dapat menambah lebih dari satu juta pemberi suara baru dalam Pemilu Uni Eropa.

https://p.dw.com/p/4g5J0
Mahasiswa pemenang kompetisi poster "First Choice"
Fabian Navarro Rubio, Maria Viktoria Junker dan Maja Steinbach, mahasiswa desain media dari Köln yang menjadi pemenang kompetisi poster nasional "First Choice"Foto: EU

Belakangan ini saat anak berusia 16-17 tahun di Jerman menunggu kereta, mereka semakin sering melihat sejumlah poster yang dipasang di platform stasiun yang memang dirancang dan ditujukan untuk kelompok usia mereka.

Sebanyak 1.000 poster yang dipasang itu merupakan desain-desain yang memenangkan kompetisi nasional untuk mendorong para pemilih muda memberikan hak suaranya pada Pemilu Eropa, tanggal 6 sampai 9 Juni 2024.

Salah satu poster yang menang memiliki slogan yang ambigu bertuliskan "first Kiss, first time, first vote" atau jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti "ciuman pertama, pertama kalinya, pencoblosan pertama". Poster ini dibuat oleh mahasiswa desain media dari kota Köln, Maja Steinbach, Maria Viktoria Junker dan Fabian Navarro.

"Kami ingin menunjukkan bahwa pemilihan umum adalah pengalaman yang positif dan menyenangkan, bahwa Anda dapat mencoba sesuatu yang baru," kata mereka kepada DW.

"Anak muda saat ini berada dalam tahap kehidupan di mana mereka membuat keputusan penting pertama mereka,” jelas para mahasiswa desain media itu. "Kami ingin menjangkau mereka pada fase itu, dan kalimat ambigu ini adalah ‘hook‘ kami, yakni ciuman pertama, hubungan pertama, ‘pertama kali' untuk memiliki poster yang menonjol, menunjukkan semua manfaat Uni Eropa.”

Poster pemenang kompetisi
"First Kiss, first time, first vote" atau jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berarti "ciuman pertama, pertama kalinya, pencoblosan pertama"Foto: Fabian Navarro Rubio

Tahun ini untuk pertama kalinya remaja berusia 16 tahun di Jerman memiliki hak memberikan suara pada Pemilu Parlemen Eropa. Selain poster, yang dicetak dalam enam versi berbeda, kampanye Uni Eropa juga menayangkan lebih dari satu juta iklan. Tujuannya, untuk mencapai sasaran yang tepat, yakni menarik perhatian pemilih muda dan tidak menakuti mereka.

Steinbach, Junker dan Navarro mengatakan, menargetkan remaja yang hanya beberapa tahun lebih muda dari mereka sendiri berarti menekankan individualitas, melibatkan tren saat ini, dan mempertimbangkan rentang perhatian yang semakin singkat.”

"Kalau kami bisa membujuk beberapa anak muda saja untuk memberikan suara dalam Pemilu Eropa dengan poster ini, kami merasa puas,” ungkap mereka.

Kaum muda ‘sangat jarang didengar'

Delara Burkhardt, seorang Juru Bicara Kebijakan Lingkungan untuk Partai Sosial Demokrat (SPD) yang beraliran kiri-tengah di Parlemen Eropa, mulai tertarik pada politik ketika berusia 15 tahun. Ia berharap dapat memenuhi syarat untuk ikut memilih di Jerman saat itu.

Pada tahun 2019, ketika berusia 26 tahun dia menjadi anggota Parlemen Eropa termuda dari Jerman. Untuk pemilu Eropa yang akan berlangsung pada tanggal 6-9 Juni, dia untuk kedua kalinya mencalonkan diri sebagai anggota parlemen dari SPD.

Kepada DW, Burkhardt mengatakan sudah terlalu lama, terlalu sedikit yang dilakukan untuk membantu anak muda agar dapat bersuara lebih lantang.

Delara Burkhardt
Delara Burkhardt, politisi SPD yang menjadi Anggota Parlemen Eropa sejak 2019Foto: EP

"Memberikan suara sejak usia 16 tahun merupakan langkah penting untuk mengimbangi kerugian demografis dan untuk meningkatkan nilai suara kelompok muda di kancah politik," ujar dia. "Masyarakat kita semakin menua, dan perspektif anak muda terlalu jarang didengar dalam perdebatan politik."

Menurut data kantor statistik Uni Eropa, Eurostat, pada tahun 2022 Jerman memiliki populasi tertua keempat di Benua Biru dengan usia rata-rata 45,8 tahun. Hanya Italia, Portugal, dan Yunani yang memiliki populasi yang lebih tua.

Hal ini memiliki konsekuensi soal bagaimana dan untuk siapa isu politik bekerja. Dalam survei terbaru Vodafone Foundation, tiga dari empat anak muda berusia 14-24 tahun mengaku bahwa mereka tidak puas dengan cara politisi menanggapi kepentingan kelompok usia tersebut.

Mereka mengatakan, kekhawatiran utama kelompok umur tersebut adalah inflasi, perang Ukraina dan Timur Tengah, kelangkaan dan tingginya harga rumah, serta perubahan iklim.

Burkhardt sendiri secara khusus berkomitmen soal isu perlindungan iklim. Ia juga merupakan pengguna media sosial yang aktif, mengirimkan pembaruan secara rutin kepada pengikutnya di akun TikTok, Instagram, dan X.

"Anak muda sering terkejut ketika saya menjelaskan pekerjaan saya di Brussel," ungkapnya. "Mereka mengatakan hal berupa: ‘Saya tidak tahu bahwa Uni Eropa memperhatikan hal ini‘ atau ‘Anda benar-benar tertarik dengan apa yang kami pikirkan.‘ Mereka sering merasa bahwa politisi tidak memperhatikan mereka."

Saat dia berkunjung ke sebuah sekolah kejuruan baru-baru ini, Burkhardt bertanya soal pengaruh politik terhadap keseharian para siswa. Namun, Burkhardt mengaku tak ada seorang pun yang menjawab.

"Selama lima tahun terakhir, saya adalah salah satu dari sedikit kolega yang menggunakan media sosial secara intensif," ucap dia. "Namun, saya bisa melihat banyak (politisi) yang baru saja mulai benar-benar mengaktifkan akun mereka untuk kampanye pemilu. Hanya saja, hal itu bukan cara Anda untuk membangun komunitas. Bukan seperti itu cara Anda membuat liputan. Bukan begitu cara menyampaikan nilai-nilai demokrasi."

Bagaimana Proses Pemilu di Jerman?

Memperluas elektoral di Jerman

Pengacara konstitusi Hermann Heussner telah mendukung gagasan untuk menurunkan usia pemilih selama 30 tahun terakhir.

"Para peneliti dan psikolog remaja mengatakan, ketika seseorang berusia 12 dan 14 tahun, mereka mengalami lonjakan perkembangan intelektual," kata dia kepada DW. "Setelah itu, mereka mampu berpikir secara abstrak, hipotesis, dan logis, layaknya orang dewasa. Mereka juga dapat mempertimbangkan kepentingan orang lain. Mereka juga mampu memahami secara intelektual (…) relasi yang kompleks."

Di enam negara bagian di Jerman, anak usia 16 tahun sudah berhak untuk memilih dalam Pemilu negara bagian. Namun, agar usia tersebut memenuhi syarat untuk memberikan suara dalam pemilu nasional, konstitusi Jerman perlu diubah.

Jerman, Belgia, Austria, Yunani dan Malta telah memberikan hak pilih kepada anak usia 16 dan 17 tahun dalam pemilu Eropa.

Hermann Heußner
Pengacara Hermann HeußnerFoto: Hartenfelser/IMAGO

Sementara itu, para pihak yang menentang diturunkannya usia pemilih di Jerman mengatakan, kaum muda masih belum cukup dewasa untuk membuat penilaian politik yang tepat.

Usia minimum sebelumnya, 18 tahun, telah menyebabkan ketidakseimbangan. Ditambah dengan populasi Jerman yang menua, orang tua memiliki persentase yang lebih besar dari daftar pemilih.

Pada pemilu federal Jerman 2021,  tercatat 39% pemilih berusia di atas 60 tahun dan hanya 14% yang berusia antara 18 dan 30 tahun.

Heussner berkomitmen untuk melangkah lebih jauh lagi, dan kini mengadvokasi hak untuk memilih sejak usia 14 tahun, dan jika memungkinkan bisa lebih muda lagi.

"Ini hanyalah awal,” tegas dia. "Jika Anda benar-benar ingin menganggap serius demokrasi dan mengendalikan masalah demografi, Anda harus memperkenalkan hak pilih sejak lahir. Anak-anak akan memilih hak mereka sendiri untuk memilih, dan orang tua mereka akan memberikan suara atas nama mereka sampai para anak dapat menggunakan hak itu sendiri.”

(mh/as)

Oliver Pieper
Oliver Pieper Reporter meliput isu sosial dan politik Jerman dan Amerika Selatan.