1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Partai Rusia Bersatu Kembali Menang di Pemilu Parlemen

20 September 2021

Meski diwarnai tuduhan kecurangan, Partai Rusia Bersatu yang berkuasa di negara itu memenangkan suara mayoritas dalam pemilu parlemen. Rusia Bersatu menyatakan merebut 315 dari 450 kursi parlemen yang diperebutkan.

https://p.dw.com/p/40Xvs
Seorang perempuan memasukkan surat suara ke dalam kotak suara di tempat pemungutan suara di Rostov, Rusia (18/09)
Seorang perempuan memasukkan surat suara ke dalam kotak suara di tempat pemungutan suara di Rostov, Rusia (18/09)Foto: Erik Romanenko/TASS/imago images

Partai Rusia Bersatu yang berkuasa, yang mendukung Presiden Vladimir Putin, mengumumkan pada Senin (20/09) bahwa mereka telah memenangkan dua pertiga mayoritas suara dalam tiga hari pelaksanaan pemilu parlemen negara itu.

Sekretaris Jenderal Partai Rusia Bersatu, Andrei Turchak mengatakan kepada wartawan bahwa partainya akan memenangkan 120 kursi partai dan 195 kursi mandat tunggal di Duma atau parlemen negara itu, meloloskan 315 anggotanya dari total 450 kursi yang diperebutkan. Lebih lanjut, dia mengatakan Rusia Bersatu berhasil menang di 39 wilayah.

Dengan sekitar 85% dari suara yang telah dihitung, komisi pemilihan umum mengatakan bahwa Partai Rusia Bersatu telah menang hampir 50% dari perhitungan suara tersebut, dengan pesaing terdekatnya, Partai Komunis meraih suara di sekitar 21%.

Petugas tempat pemungutan suara di Kazansky tengah menghitung surat suara (19/09)
Petugas tempat pemungutan suara di Kazansky tengah menghitung surat suara (19/09)Foto: Evgenia Novozhenina/REUTERS

Kritik dari oposisi

Meski menang, Rusia Berkuasa disebut kehilangan lebih sepersepuluh dari dukungannya. Pada pemilu parlemen tahun 2016 silam, Rusia Bersatu memenangkan lebih dari 54% suara.

Ketidakpuasan selama bertahun-tahun terhadap standar hidup, juga tuduhan korupsi yang dilayangkan oposisi Rusia yang dipenjara, Alexei Navalny, membuat dukungan terhadap Rusia Bersatu menurun.

Dengan berhasil menguasai lebih dua pertiga kursi di Duma, parlemen negara itu, kemenangan ini tentunya memberi Rusia Bersatu kewenangan besar, termasuk kemampuan mengubah konstitusi. Salah satunya seperti yang terjadi tahun lalu, yakni memungkinkan Putin kembali mencalonkan diri sebagai presiden untuk dua masa jabatan lagi setelah tahun 2024 nanti.

"Jika Rusia Bersatu berhasil (menang), negara kita dapat merasakan lagi lima tahun kemiskinan, lima tahun penindasan, lima tahun yang hilang," blog Navalny memperingatkan para pendukung menjelang pemungutan suara.

Tuduhan kecurangan

Kemenangan Rusia Bersatu pun menuai kritik dari partai oposisi maupun pengamat, yang menilai jalannya pemilu sarat kecurangan.

Pejabat komisi pemilu Rusia mengatakan mereka menerima sedikitnya 750 pengaduan tentang pelanggaran pemungutan suara selama tiga hari terakhir, demkian laporan kantor berita Interfax, Minggu (19/09) malam, mengutip Kementerian Dalam Negeri. Namun, tidak ada informasi tentang pelanggaran serius yang dapat memengaruhi hasil pemungutan suara, kata Interfax.

Sementara lembaga pengawas independen pemilu dari organisasi Golos mencatat lebih dari 3.600 kecurangan di seluruh negeri, sebagian besar didokumentasikan dengan foto dan rekaman video. Beberapa orang tertangkap kamera sedang memasukkan sekumpulan kertas suara ke kotak-kotak suara.

Dalam beberapa bulan terakhir ini, pihak berwenang Rusia telah kembali melancarkan tindakan keras terhadap jaringan politik Navalny, dengan menjadikannya sebagai "organisasi ekstremis” dan melarang politisi-politisi sekutunya untuk berpartisipasi dalam pemilu.

Saat pemungutan suara dimulai 17 September lalu, aplikasi panduan pemilihan menghilang dari toko daring Apple dan Google, dalam apa yang oleh rekan-rekan Navalny disebut sebagai penyensoran dan sikap tunduk pada tekanan Kremlin.

rap/hp (AFP, Reuters, AP, dpa)