Pemilu Israel: Kepercayaan pada Politisi Berkurang | Fokus | DW | 29.03.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pemilu Israel: Kepercayaan pada Politisi Berkurang

Partai Kadima unggul dalam perolehan suara. Akankah pemerintahan baru Israel dapat memperbaiki hubungan dengan Palestina?

Partisipasi keikutsertaan pemilih sangat rendah

Partisipasi keikutsertaan pemilih sangat rendah

Imbauan bagi rakyat Israel untuk memberikan suara pada pemilihan umum sudah sangat gencar. Namun demikian, jumlah keikutsertaan pemilu kali ini adalah yang terendah dalam sejarah. Kenyataan itu bisa dijadikan bukti, bahwa rakyat Israel sudah kehilangan kepercayaan pada politik. Terutama mereka tidak percaya lagi, bahwa politisi masih mampu menyelesaikan masalah-masalah besar yang dihadapi Israel.

Setidaknya tidak ada yang beranggapan, bahwa jalan keluar yang bisa diandalkan sudah ditemukan dari masalah utama Israel. Dibanding tahun-tahun sebelumnya, hubungan Israel dan Palestina saat ini lebih buruk. Dan karena organisasi radikal Hamas akan memerintah di Ramallah dan Gaza, maka harapan terakhir akan adanya pendekatan bisa dibilang punah sepenuhnya.

Jika pendekatan sudah tidak dapat dicapai, maka secara fisik kedua bangsa juga harus terpisah. Konsep ini berasal dari kebijakan pemerintah Israel yang lalu, di bawah Perdana Menteri Ariel Sharon. Sekarang, pemenang pemilu Ehud Olmert harus menyelesaikan pembangunan tembok pemisah antara Israel dan Palestina. Di mana tembok itu berdiri antara wilayah Israel dan wilayah Tepi Barat Yordan, di situlah perbatasan antar keduanya akan didirikan. Pemukiman Yahudi akan dibongkar dan ribuan penduduk akan dipindahkan. Tapi yang terpenting, dengan berdirinya perbatasan itu, wilayah Palestina akan terpecah, sehingga rakyatnya tidak mungkin mendirikan negara sendiri.

Warga nasionalis Israel, seperti anggota Partai Likud atau Partai 'Kediaman Kami Israel', tidak menyetujui ide itu. Tapi mereka tidak dapat mengajukan argumentasi yang meyakinkan. Dan warga lainnya yang ragu, apakah penarikan garis batas itu jalan keluar yang tepat, tidak bisa berbuat banyak. Mereka terpaksa menyetujuinya, karena alternatif lain tidak ada. Dan jika warga Israel tidak dapat hidup damai dengan warga Palestina, setidaknya mereka bisa hidup tenang di muka warga Palestina. Demikianlah pandangan sebagian besar rakyat yang memberikan suara.

Ini tentunya salah perhitungan. Karena rakyat Israel memang sudah menerima hal itu sejak lama. Bahkan Ariel Sharon, yang masih dalam keadaan koma, juga pernah mengumumkan, Palestina tidak bisa diduduki terus menerus, dan mereka mempunyai hak atas negara sendiri, yang juga didukung konsensus internasional.

Terpilihnya Partai Kadima dari Ehud Olmert sebagai pemenang pemilu bukanlah langkah berani menuju awal baru proses perdamaian. Melainkan lebih berupa persetujuan atas rencana yang tidak mungkin berhasil. Sekarang Olmert harus mencari mitra koalisi yang mendukung pendirian tembok. Tapi partai lain tidak ada yang sepenuhnya yakin akan rencana itu. Kurangnya kepercayaan baik pada politik itu sendiri, maupun pada para pemilih adalah awal yang buruk bagi keberhasilan pemerintah baru (ml)