Pemilihan Umum Israel | Fokus | DW | 28.03.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pemilihan Umum Israel

Hasil jajak pendapat menunjukkan masih unggulnya Ehud Olmert. Tanpa koalisasi, pemerintahan Israel kemungkinan tidak dapat terbentuk.

Jika menangpun, Partai Kadima tidak dapat membentuk pemerintahan sendirian

Jika menangpun, Partai Kadima tidak dapat membentuk pemerintahan sendirian

Menurut pengamatan terakhir, menjelang diselenggarkannya pemilihan umum hari ini, Selasa (28/3), terlihat adanya kejenuhan politik, ketidakpastian dan kebingungan. Diperkirakan warga yang akan memberikan suaranya berkurang. Hal ini dikarenakan tidak tampilnya 'orang kuat’ Sharon.

Partai Kadima Masih Yang Terkuat

Sedangkan penggantinya Ehud Olmert, yang sejak bertahun-tahun menjadi wakil perdana menteri dan yang bukan berasal dari kalangan militer, tidak memiliki reputasi dan kepercayaan dari masyarakat. Tapi Olmert dari Partai Kadima, yang dibentuk Sharon, menurut jajak pendapat masih menjadi favorit dalam pemilu kali ini. Dalam jajak pendapat bulan Januari, Partai Kadima meraih 44 dari 120 mandat di parlemen. Tapi dalam jajak pendapat akhir pekan lalu, perolehan partai ini berkurang menjadi 33 mandat. Meskipun demikian Partai Kadima masih merupakan partai terkuat, diikuti oleh Partai Buruh dan Partai Likud.

Koalisi Diperlukan

Menjelang pemilu telah beredar spekulasi, bagaimana Olmert akan membentuk pemerintahan. Ia tidak mungkin dapat membentuknya tanpa melakukan koalisi. Juga jika berkoalisi dengan partai buruh, diperkirakan tidak akan mencapai suara mayoritas yang diperlukan. Dengan demikian, partai-partai kecil berbasis agama kembali dilirik untuk diajak berkoalisi.

Shimon Perez, yang setelah tidak terpilih menjadi ketua Partai Buruh, pindah ke Partai Kadima, memperingatkan fiksasi pada pembentukkan koalisasi ini. Ia menandaskan, yang menjadi masalah strategis adalah bagaiman sebuah partai besar dapat membawa perdamaian. Tapi partai besar seperti itu tidak terdapat di Israel. Juga program yang disampaikan Partai Kadima bukan merupakan jaminan langsung bagi perdamaian.

Rencana Kebijakan Olmert

Ehud Olmert mewarisi apa yang dilakukan Sharon di Jalur Gaza: Penarikan sepihak dari Jalur Gaza hendak dititu di Barat Yordan. Tapi dengan perbedaan yang sangat besar. Olmert hanya bersedia menyerahkan sebagian kecil wilayah dan tapal batas di masa depan akan ditarik sepanjang tempbok pembatas, yang terus dibangun Israel tanpa mengindahkan kritik Internasional.

Rencana penarikan diri dari Barat Yordan ini ditentang keras oleh Ketua Partai Likud Benjamin Netajahu. Penarikan ini akan memberikan akibat yang buruk. Dan yang dapat menghentikan rencana ini hanya sebuah 'kekuatan’, yaitu Partai Lukud. Demikian dinyatakannya. Tetapi Partai Likud tidak memiliki peluang untuk membentuk atau ambil bagian dalam pemerintahan. Olmert hanya ingin berkoalisi dengan partai yang mendukung konsepnya.

Partai Buruh, Calon Mitra Koalisi

Yang menjadi pilihan pertama Olmert adalah Partai Buruh, dengan ketuanya yang baru, Amir Peretz. Meskipun dalam kampanyenya, Amir Peretz menjanjikan untuk meningkatkan lapangan kerja, jaminan sosial, memerangi meningkatnya kemiskinan, serta perdamaian dan keamanan, tapi ia tetap dinilai kurang meyakinkan.

Sementara itu, setelah kemenangan kelompokk Hamas dalam pemilihan di Palestina, tidak memungkinkan dilakukannya perundingan perdamaian antara Israel-Palestina dalam waktu dekat.