Pemilihan Presiden di Perancis | Fokus | DW | 22.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pemilihan Presiden di Perancis

Dari 12 calon, hanya empat memiliki kesempatan untuk menang. Walau pekan lalu sebagian besar rakyat belum tahu harus memilih siapa, jumlah keikutsertaan dalam pemilu hampir melampaui rekor, dan calon favorit juga jelas.

Minggu (22/04) rakyat Perancis memberikan suara untuk memilih presiden yang baru. Setelah penghitungan pertama Minggu malam tampak jelas, calon dari Partai Konservatif, yaitu mantan menteri dalam negeri Nicolas Sarkozy dan calon dari kubu sosialis, Ségolène Royal akan maju ke pemilihan ulang. Sarkozy mendapat 30% suara, dan Royal 25%. Ini memungkinan keduanya kembali dipilih tanggal 6 Mei mendatang. Dari seluruh warga yang berhak memberikan suara, sekitar 87% ikut serta. Ini adalah jumlah tertinggi dalam sejarah. Sarkozy menyatakan hal itu sebagai kemenangan bagi demokrasi.

Tiga Saingan Sarkozy

Dengan Royal partai sosialis mendapat suara paling banyak dalam 20 tahun terakhir. Ia kini menjadi wanita pertama yang berkesempatan baik untuk menduduki posisi tertinggi di Perancis. Setelah pengumuman keikutsertaannya dalam pemilihan ulang, mantan menteri lingkungan hidup itu menyatakan kemenangan bagi partainya bisa diraih.

Yang menentukan kemenangan mereka antara lain sekitar tujuh juta rakyat yang memilih politisi berhaluan tengah François Bayrou. Dengan 18% suara, ia berhasil menggeser calon dari kubu ekstrem kanan, Jean-Marie Le Pen ke posisi ke empat. Nampaknya para pendukung Le Pen beralih menjadi pendukung Sarkozy.

Kedua Calon dan Keberhasilan Mereka

Dengan duel antara Sarkozy dan Royal, Perancis menghadapi pemilihan yang klasik, yaitu persaingan antara kubu kanan dan kiri. Namun demikian, dalam pidato pertama setelah pemilihan berakhir kedua calon menampilkan diri sebagai politisi yang akan menyatukan seluruh Perancis. Segera setelah penutupan semua tempat pemberian suara Sarkozy menyerukan pendukungnya untuk bersatu dalam cita-cita republik yang berazas persaudaraan. Walaupun di Perancis ada perasaan anti Sarkozy, pemimpin partai UMP itu berhasil membawa partainya hingga mendapat suara terbanyak dalam 33 tahun terakhir. Ketika terpilih kembali tahun 2002, Presiden Jacques Chirac hanya memperoleh 19,9% suara.

Sementara itu, Royal berusaha memenangkan pendukung Bayrou. Jika terpilih menjadi presiden, ia akan menciptakan negara yang tidak terpecah antara beberapa partai, demikian Royal. Di partainya, Royal berhasil menghapuskan trauma akibat kekalahan calonnya Lionel Jospin tahun 2002 lalu. Pimpinan partai sosialis, François Hollande menyatakan, Royal bisa menang seperti halnya kemenangan bersejarah François Mitterand 1981 lalu. Kini, baik partai komunis maupun partai hijau Perancis menyerukan para pendukungnya untuk memberikan suara bagi Royal dalam pemilihan ulang 6 Mei mendatang. Jika digabung, kedua kubu bisa menambah 10% suara bagi Royal. (ml)