Pemilih Turki Hancurkan Ambisi Kekuasaan Erdogan | dunia | DW | 08.06.2015
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pemilih Turki Hancurkan Ambisi Kekuasaan Erdogan

Ambisi presiden Turki Erdogan untuk memperluas kekuasaan dihambat pemilih dalam pemilu parlemen. Partai pemerintah AKP kini kehilangan mayoritas di parlemen dan harus membentuk pemerintahan koalisi.

Pemilih di Turki dengan tegas tunjukan penolakan atas ambisi presiden Recep Tayyip Erdogan untuk memperluas kekuasaannya. Dalam pemilu parlemen yang digelar Minggu (07/06) partai untuk pembangunan dan keadilan-AKP dari Erdogan, sesuai perhitungan sementara yang sudah mencapai 94 persen kartu suara, hanya meraih kurang dari 41 persen suara.

Target partai yang saat ini memerintah AKP dalam pemilu kali ini adalah meraih 60 persen suara agar menguasai mayoritas absolutnya di parlemen. Dengan begitu rencana perubahan konstitusi untuk memperluas kekuasaan Erdogan gagal total dihancurkan para pemilih. Yang juga menjadi kejutan adalah terwakilinya partai pro-Kurdi HDP yang untuk pertama kali ikut pemilu parlemen, dengan sukses meraih 13 persen suara.

Walau mengalami penurunan suara hampir 9 persen dibanding pemilu sebelumnya, PM Ahmet Davutoglu mengatakan di depan pendukung partai AKP, partainya tetap menjadi pemenang dalam pemilu kali ini. "Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk mencegah goyahnya stabilitas di Turki", ujar Davutoglu. PM Turki itu mengimbau partai-partai lainnya yang lolos masuk parlemen, untuk ikut memikul tanggung jawab untuk itu.

AKP sulit rangkul mitra koalisi

Dengan komposisi hasil pemilu tersebut, kini partai AKP dari presiden Erdogan punya dua pilihan untuk membentuk pemerintahan. Pertama membentuk pemerintahan minoritas yang dipastikan akan goyah, atau merangkul partai lain yang lolos ke parlemen untuk membentuk pemerintahan koalisi. Namun tren politik yang terlihat saat ini menunjukkan, AKP akan kesulitan merangkul mitra koalisi.

Partai behaluan kanan Pergerakan Nasional-MHP yang meraih 16 persen suara sebelumnya digadang-gadang akan menjadi mitra koalisi pemerintahan bersama AKP. Namun seusai pemilu, ketua partai MHP Devlet Bahceli sudah menyatakan menolak menjalin koalisi. "Hasil pemilu itu merupakan pratanda awal dari akan berakhirnya kekuasaan AKP", ujar Bahceli.

Dua partai lainnya yang juga terwakili dalam parlemen di Ankara, Partai Republik Kerakyatan-CHP yang meraih 25 persen suara serta partai pro-Kurdi HDP sudah menyatakan penolakannya menjalin koalisi dengan AKP. Alasan para pemimpin partai senada, yakni diskusi mengenai perluasan kekuasaan presiden yang akan mengarah ke sistem diktatur harus diakhiri. Hasil pemilu merupakan kemenangan para pemilih yang menghendaki konstitusi baru yang pro rakyat dan pluralistis.

Jika Partai AKP gagal membentuk pemerintahan minoritas atau menjalin koalisi, presiden Erdogan harus mengumumkan digelarnya pemilu parlemen baru. Para pengamat masih menunggu hasil akhir pemilu dan kemungkinan pembentukan pemerintahan oleh AKP yang mengalami pukulan telak dalam pemilu kali ini.

as/vlz (rtr,dpa,afp,ap)

Laporan Pilihan