Anak-anak di Cina Mulai Sekolah Hari Pertama dengan Belajar ‘Pemikiran Xi Jinping’ | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 01.09.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Pendidikan

Anak-anak di Cina Mulai Sekolah Hari Pertama dengan Belajar ‘Pemikiran Xi Jinping’

Ideologi politik Presiden Cina Xi Jinping dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan sekolah dasar hingga pascasarjana. Hal ini dinilai sebagai upaya Partai Komunis Cina memperluas kultus kepribadian Xi pada anak-anak.

Cina memulai sekolah hari pertama untuk tahun ajaran baru pada Rabu (01/09)

Cina memulai sekolah hari pertama untuk tahun ajaran baru pada Rabu (01/09)

Kementerian Pendidikan Cina mengatakan pihaknya akan memasukkan ideologi politik Xi Jinping secara samar di hari pertama sekolah tahun ajaran baru yang jatuh pada Rabu (01/09). Ideologi itu dimasukkan ke dalam kurikulum nasional, mulai dari sekolah dasar hingga program pascasarjana.

Guru-guru di sekolah dasar harus "menanam benih cinta akan partai, negara dan sosialisme di hati anak muda”, demikian menurut pemberitahuan pemerintah tentang kurikulum baru itu.

Berkaitan dengan itu, buku-buku sekolah yang baru kini dihiasi dengan kutipan bernas dari presiden Cina tersebut, lengkap dengan gambar wajahnya yang tersenyum. Siswa sekolah dasar pun disajikan bab tentang pencapaian peradaban Tiongkok dan peran Partai Komunis dalam pengentasan kemisikinan dan penanggulangan pandemi COVID-19.

Tak hanya itu, pelajaran juga diselingi dengan kutipan dari Xi tentang patriotisme dan tanggung jawab, serta berbagai anekdot pertemuannya dengan warga biasa.

"Kakek Xi Jinping sejatinya sangat sibuk dengan pekerjaannya, namun tidak peduli mau seberapa sibuk pun dia, dia masih bergabung dengan kegiatan kami dan masih peduli dengan pertumbuhan kami,” demikian bunyi satu kutipan di salah satu buku teks tersebut.

‘Pemikiran Xi'

Pemikiran Xi, yang mencakup 14 prinsip, diabadikan ke dalam konstitusi pada tahun 2018. Pertemuan legislatif saat itu menghapus batas masa jabatan dan membuka jalan bagi Xi untuk memerintah tanpa batas waktu.

Beberapa prinsip dalam Pemikiran Xi di antaranya adalah "kepemimpinan mutlak Partai” atas militer dan "meningkatkan standar hidup melalui pembangunan.”

Prinsip-prinsip tersebut kini dikutip secara regular oleh para pejabat dalam berbagai konteks, mulai dari masalah penanggulangan COVID-19 hingga terkait masalah sastra dan seni. Universitas- universitas di Cina bahkan telah membuka institusinya untuk mengajarkan pemikiran Xi tersebut.

Bagaimana reaksi warga?

Dorongan indoktrinasi pemikiran politik Xi terhadap anak-anak di Cina muncul ketika partainya, Partai Komunis Cina, juga melakukan kampanye yang lebih luas untuk melawan pengaruh buruk terhadap kaum muda, seperti video game, selebriti, dan sarana pendidikan asing.

Sementara untuk anak-anak yang berusia lebih tua, buku teks yang diberikan memuat topik-topik yang lebih berat seperti tentang industri kedirgantaraan negara dan jalan untuk menjadi "kekuatan besar sosialis modern”.

Beberapa orang tua secara pribadi mengungkap kegelisahannya akan kurikulum baru ini tapi mereka menolak untuk diwawancara karena khawatir mendapat masalah.

Meski begitu, kebijakan ini disambut dengan penolakan halus dari sejumlah komentator anonim di internet.

"Cuci otak dimulai sejak kecil,” tulis salah satu pengguna platform media sosial Weibo.

"Bisakah kita menolak ini?” tanya pengguna lain.

Menurut Wang Fei-Ling, seorang profesor hubungan internasional di Georgia Tech, buku teks ini adalah contoh dari upaya Partai Komunis untuk "bertaruh pada kultus individu pemimpin yang kuat seperti Mao.”

"Namun, melihat apa yang terjadi di masyarakat Cina selama empat dekade terkahir, saya pikir banyak orang tua mungkin tidak terlalu menyukainya dan banyak siswa juga menganggapnya membosankan, tapi hanya sedikit yang akan atau bisa memprotesnya di depan umum,” tambah Wang.

Cina sejatinya telah lama memberikan materi patriotisme dan pendidikan politik kepada siswa di sekolah, namun kurikulum baru ini adalah "tentang mempromosikan kultus Xi demi menanamkan rasa nasionalisme yang lebih besar,” kata peneliti Cina, Adam Ni kepada AFP.

gtp/hp (AFP)

 

Laporan Pilihan