1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

India Gantung 4 Pemerkosa Mahasiswa di Bus

20 Maret 2020

Setelah eksekusi dijalankan, ibu korban berterima kasih kepada pengadilan setempat dan mengatakan bahwa "hari ini didedikasikan kepada seluruh anak perempuan di India."

https://p.dw.com/p/3ZlDy
Polisi India berjaga di depan penjara pada saat eksekusi
Foto: Getty Images/AFP/M. Sharma

Empat orang terpidana pemerkosaan dan pembunuhan seorang perempuan di dalam bus si India pada tahun 2012, akhirnya dieksekusi pada Jumat (20/03). Para terpidana dieksekusi dengan cara digantung dan dimaksudkan memberi efek jera.

Mengingat besarnya tekanan dan amarah publik, keempat terpidana itu diadili relatif cepat oleh sistem peradilan India yang biasanya amat lamban dan memakan waktu lama. Vonis dan hukuman terhadap mereka dijatuhkan dalam waktu kurang dari setahun setelah kejadian perkara. Pengadilan tinggi India kembali menguatkan putusan ini pada tahun 2017.

"Empat narapidana itu digantung pada saat yang sama hari Jumat pukul 5.30 pagi waktu setempat,” ujar Sandeep Goel, kepala Penjara Tihar di New Delhi.

Kasus pemerkosaan brutal 

Korban, seorang mahasiswa fisioterapi yang berusia 23 tahun, saat itu sedang dalam perjalanan pulang bersama teman laki-lakinya seusai menonton bioskop. Para pelaku membujuk kedua orang ini untuk ikut naik ke dalam bus yang mereka tumpangi.

Dalam keadaan sepi, mereka memukuli teman lelaki korban dan memerkosa perempuan itu dengan brutal hingga menyebabkan luka yang fatal. Para pelaku lantas membuang korban begitu saja di pinggir jalan. Korban pemerkosaan itu meninggal dua minggu kemudian.

Asha Devi, ibunda korban, menyampaikan terima kasih kepada pengadilan dan pemerintah setelah para terpidana selesai dieksekusi. "Hari ini, kami mendapatkan keadilan, dan hari ini didedikasikan untuk seluruh anak perempuan di negeri ini," katanya kepada wartawan. "Saya tidak bisa melindunginya, tetapi saya bisa berjuang untuknya."

Sistem peradilan yang lambat

Devi juga berharap pengadilan di India akan segera mengakhiri penundaan proses pengadilan atas kasus perkosaan dan menghukum para terpidana dalam waktu satu tahun. Kasus ini menarik perhatian internasional dan mendorong anggota parlemen India untuk memperberat hukuman dalam kasus pemerkosaan. Ini menjadi langkah perubahan bagi India yang juga menghadapi sederet kasus mengerikan lainnya terhadap perempuan. 

Warga India berkumpul dan memegang bendera
Massa berkumpul di depan gedung tempat eksekusi pada Jumat (20/03) dan mendukung eksekusi terhadap terpidana pemerkosa mahasisa di dalam bus tahun 2012.Foto: Getty Images/AFP/M. Sharma

Setelah mendapatkan tekanan politik dan protes masyarakat akibat kasus ini, pemerintah mereformasi beberapa undang-undang India yang dianggap telah kuno tentang kekerasan seksual. Selain itu pemerintah juga menciptakan pengadilan jalur cepat untuk menangani persidangan pemerkosaan yang sebelumnya bisa berangsung lebih dari satu dekade. Undang-undang baru tersebut menetapkan hukuman yang lebih berat bagi pemerkosa serta kejahatan lain seperti penyiraman air keras dan penguntitan.

Berdayakan perempuan

Perdana Menteri India Narendra Modi mengatakan pada Jumat bahwa keadilan telah menang dan ini sangat penting untuk memastikan martabat dan keselamatan perempuan.

"Bersama-sama, kita harus membangun sebuah negara yang berfokus pada pemberdayaan perempuan, dengan menekankan pada kesetaraan dan pemberian peluang," katanya di akun Twitter-nya.

Ratusan polisi dikerahkan di luar penjara untuk mengendalikan kerumunan massa yang ingin merayakan eksekusi ini. Puluhan orang memegang spanduk yang bertuliskan dukungan terhadap eksekusi tersebut. Kerumunan meneriakkan slogan-slogan seperti "Keadilan untuk perempuan!" Mereka bersorak dan bertepuk tangan.

Seorang tersangka lain sebelumnya bunuh diri dengan cara gantung diri di penjara sebelum persidangan dimulai, namun keluarganya berkeras bahwa dia dibunuh. Sementara penyerang keenam masih berusia di bawah umur pada saat serangan terjadi dan kini menjalani hukuman selama tiga tahun dalam tahanan untuk remaja.

Aktivis hak asasi manusia mengatakan, eksekusi ini tidak akan mengurangi tindak pemerkosaan di India. Data pemerintah India menunjukkan, polisi mendaftarkan hampir 34.000 kasus pemerkosaan pada tahun 2018. Angka sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi karena stigma seputar kekerasan seksual membuat korban tidak berani melaporkan kasus yang menimpa mereka.

ae/as (AP)