1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikAmerika Serikat

Pemerintahan Trump Melarang Harvard Terima Mahasiswa Asing

Sean Sinico sumber: AP, AFP, Reuters
23 Mei 2025

Di bawah pemerintahan Donald Trump, AS melarang Universitas Harvard menerima mahasiswa asing. Kebijakan ini memaksa mahasiswa internasional di kampus tersebut untuk pindah ke kampus lain atau bahkan harus keluar dari AS.

https://p.dw.com/p/4unBc
Mahasiswa berjalan keluar Kampus Universitas Harvard
Pihak Harvard mengatakan kebijakan pemerintahan AS ilegal Foto: Faith Ninivaggi/REUTERS

Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat mengumumkan pada hari Kamis (22/03) bahwa mereka telah mencabut izin Universitas Harvard untuk menerima mahasiswa internasional.

Sebelumnya, Trump menyatakan kemarahannya karena Harvard menolak tuntutan pemerintah agar universitas itu diawasi dalam proses penerimaan mahasiswa dan perekrutan staf. Trump menuduh Harvard telah menjadi pusat antisemitisme dan ideologi "woke".

Dalam surat resmi tertulis, Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem menyatakan kebijakan ini, "Berlaku segera, sertifikasi Program Mahasiswa dan Pertukaran Pelajar (SEVIS) Universitas Harvard dicabut.”

AS: Harvard 'Memusuhi Mahasiswa Yahudi'

"Seperti yang telah saya sampaikan dalam surat saya di bulan April, kemampuan menerima mahasiswa asing adalah sebuah hak istimewa,” tulis Noem.

"Sebagai akibat dari penolakan Harvard untuk mematuhi berbagai permintaan untuk memberikan informasi yang penting kepada Departemen Keamanan Dalam Negeri, sambil terus mempertahankan lingkungan kampus yang tidak aman, yang bermusuhan terhadap mahasiswa Yahudi, mendukung simpati terhadap Hamas, dan menerapkan kebijakan 'keragaman, kesetaraan, dan inklusi' yang bersifat rasis, Harvard telah kehilangan hak istimewa ini,” tambahnya.

Dalam surat itu, Noem juga mengatakan bahwa langkah terhadap institusi Ivy League tersebut seharusnya menjadi "peringatan bagi semua universitas dan institusi akademik di seluruh AS.”

Menteri keamanan dalam negeri itu mengatakan bahwa Harvard bisa mendapatkan kembali hak untuk menerima mahasiswa asing, jika dalam 72 jam mereka dapat menyerahkan seluruh dokumen mahasiswa asing.

Permintaan terbaru mencakup seluruh catatan, termasuk rekaman audio atau video, terkait mahasiswa asing yang terlibat dalam aksi protes atau kegiatan berbahaya di kampus.

Noem menambahkan, "Pemerintah ini akan memastikan Harvard bertanggung jawab atas perannya menyebarkan kekerasan, antisemitisme, dan kerja sama dengan Partai Komunis Cina di lingkungan Kampus.”

Sebagai informasi, sertifikasi Harvard dalam Program Mahasiswa dan Pertukaran Pelajar memungkinkan universitas mensponsori visa mahasiswa internasional untuk belajar di AS.

Protes Tolak Deportasi Aktivis Pro-Palestina

Harvard Janji Bantu Mahasiswa Asing

Pihak Harvard menolak semua tuduhan pemerintah dan menyatakan akan tetap mendukung mahasiswa asing.

"Tindakan pemerintah ini telah melanggar hukum,” tulis Harvard dalam pernyataannya. "Langkah balasan ini dapat merugikan komunitas Harvard dan negara kita secara serius, serta melemahkan misi akademik dan riset Harvard.”

Universitas yang telah melahirkan 162 peraih Nobel tersebut juga menegaskan komitmennya untuk tetap mendukung proses pembelajaran terhadap mahasiswa internasional.

Pada tahun ajaran 2024/2025, tercatat ada hampir 6.800 mahasiswa asing di Harvard. Angka ini lebih dari seperempat dari seluruh mahasiswa yang terdaftar di kampus tersebut.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Tezar Aditya

Editor: Rahka Susanto 

 

Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!