Pemerintahan Transisi Somalia Klaim Kemenangan | dunia | DW | 26.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Pemerintahan Transisi Somalia Klaim Kemenangan

Setelah pertempuran hebat sepekan lebih, Kamis kemarin Perdana Menteri Somalia Ali Muhammad Gedi menyatakan menang atas milisi Islamis dan kelompok Hawiyeh.

Dalam pertempuran terakhir Kamis kemarin setidaknya 20 orang terbunuh, sedangkan pertempuran yang terjadi di bulan April ini menewaskan sedikitnya 300 orang. Sepanjang bulan Maret silam sekitar seribu korban tewas. Dalam sebuah konferensi pers, Gedi menyebutkan sebagian besar kontak senjata telah berhenti dan pemerintah peralihan Somalia berhasil menangkap para pemberontak. Tapi letusan senjata mesin dan artileri masih terdengar di kawasan selatan dan utara ibukota yang hancur tersebut.

Sehari sebelumnya Rumah Sakit SOS di Mogadishu kewalahan menerima korban amukan peluru. Dokter-dokter mengeluhkan kurangnya persediaan obat-obatan. Sementara itu koordinator bantuan kemanusiaan PBB John Holmes di Jenewa melaporkan krisis situasi kemanusiaan di Somalia. Terdapat sekitar 400 ribu pengungsi dari Mogadishu sementara stok bantuan yang tersedia hanya cukup untuk 60 ribu orang. Hancurnya infrastruktur menuju wilayah konflik menjadi hambatan masuknya barang bantuan:

„Jika kami dapat menjangkau wilayah tersebut dan meningkatkan frekuensi pemberian bantuan, terutama jika terdapat gencatan senjata di Mogadishu dan kawasan sekitarnya, saya pikir kita dapat menyelesaikan masalah utamanya. Tapi jika pertempuran terus terjadi seperti sekarang, jika tidak ada kemajuan perundingan politik, maka kita berada dalam situasi yang sangat serius.“

Walau pun pemerintah peralihan Somalia dan pasukan Ethiopia berhasil mengambil alih Mogadishu, terdapat kemelut yang lebih serius. Kini lebih dari 17 ribu pengungsi menderita kolera akibat buruknya sanitasi. Sedikitnya 600 pengungsi terpaksa kehilangan nyawanya akibat penyakit perut tersebut, demikian ungkap Holmes. Korban meninggal diperkirakan akan terus bertambah terutama di musim hujan yang akan datang.

Ethiopia kini menghadapi kritik internasional karena operasi militernya di Somalia. Pemerintah di Addis Ababa berusaha menyangkal semua tudingan itu dan menyatakan operasi militer mereka dilakukan untuk membantu negara tetangganya menumpas teroris. Perdana Menteri Ethiopia Meles Zenawi menyatakan akan menarik mundur pasukannya secepat mungkin. Pasukan perdamaian Uni Afrika kemudian akan diturunkan untuk memulihkan situasi di Somalia. Tapi kenyataan di lapangan berbeda. Sebab pasukan Ethiopia sekarang lebih banyak terlibat dalam perang gerilya di Mogadishu. Sisa-sisa milisi Islam yang menyerah Desember tahun lalu, tampaknya lebih kuat dari yang diperkirakan. Mereka memiliki sejumlah roket yang telah menjatuhkan sebuah pesawat misi Uni Afrika dan sedikitnya sebuah helikopter Ethiopia.

Sementara Ethiopia didukung pemerintah di Washington. Amerika Serikat tidak hanya membiarkan pendudukan pasukan Ethiopia di Somalia, tapi juga secara aktif membantu mereka. Januari lalu angkatan udara Amerika Serikat turut andil dalam serangan udara di Somalia, untuk menumpas mereka yang dicurigai sebagai teroris. Pemerintah di Washington memperkirakan adanya keterkaitan antara milisi Islam dan Al Qaida.

Iklan