Pemerintahan Sementara Kuasai Mogadishu | Fokus | DW | 29.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pemerintahan Sementara Kuasai Mogadishu

Ibukota Somalia akhirnya berhasil direbut dengan dukungan pasukan Etiopia.

default

Pasukan pemerintahan sementara dan tentara Etiopia hari Kamis masuk dengan kendaraan lapis baja ke Mogadishu yang ditinggalkan oleh anggota milisi Islam. Menteri Informasi Somalia Ali Ahmed Jama menerangkan, pemerintahan sementara sekarang mengendalikan situasi hampir di seluruh negeri.

„Hari ini, pemerintah Somalia mengendalikan sepenuhnya situasi di Mogadishu. Pemerintahan transisi sekarang sedang membicarakan cara untuk mengaktifkan lagi administrasi regional dan langkah-langkah rekonsiliasi serta pelucutan senjata. Selain itu, pemerintah juga akan berusaha merehabilitasi infrastruktur.“

UIC tarik diri tanpa perlawanan

Sebelumnya, kelompok gerilyawan Islam menarik diri dari Mogadishu tanpa perlawanan. Kelompok gerilyawan Islam bersatu dibawah nama Union of Islamic Courts, UIC, yang artinya Persatuan Pengadilan Islam atau sering juga disebut Mahkamah Syariah. Dengan penarikan pasukan UIC, belum berarti perang sudah berakhir. Perdana Menteri Ali Mohamad Gedi ingin memberlakukan situasi darurat perang mulai hari Sabtu (30/12) untuk mengendalikan situasi termasuk mengendalikan para pimpinan milisi yang beroperasi di Somalia. Kelompok-kelompok milisi selama bertahun-tahun beroperasi di Mogadishu, sebelum mereka diusir oleh para gerilyawan UIC yang kemudian mengambil alih kota itu Juni lalu. Sekarang, para anggota milisi kembali lagi sebagai sekutu pasukan pemerintahan transisi, yang didukung oleh militer Etiopia.

Setelah Mogadishu berhasil direbut, perdana menteri Etiopia Meles Zenawi menyatakan misi pasukannya berhasil.

“75 % misi kami sudah selesai. Tapi masih banyak yang harus dilakukan. Terutama karena masih ada elemen-elemen ekstrimis.“

Etiopia janjikan bantuan

Perdana Menteri Etiopia Meles Zenawi menandaskan, negaranya akan terus membantu pemerintahan sementara Somalia sehingga situasi keamanan lebih stabil. Ia menerangkan:

„Kami tidak akan membiarkan Mogadishu jadi lautan api. Kami akan membantu pemerintahan transisi sehingga situasi di Mogadishu stabil.“

Kebanyakan penduduk kota Mogadishu masih bersikap menunggu. Setelah para gerilyawan Islam meninggalkan kota itu hari Kamis, terjadi aksi penjarahan. Disana sini terdengar suara tembakan. Banyak orang tidak berani keluar dari rumahnya. Tapia da juga yang menyambut kedatangan pasukan pemerintah dengan sorak dan kalungan bunga.

Dua juta orang terancam kelaparan

Hari Kamis, harga senjata ringan di Mogadishu turun mencolok. Banyak anggota gerilyawan Islam menjual senjatanya, berganti pakaian dan mencukur rambut dan janggut, agar tidak dicurigai oleh pasukan pemerintah. Masih belum jelas apakah pihak yang menang akan melakukan aksi balas dendam atau pengejaran.

Sementara sekitar 2 juta penduduk Somalia terancam kelaparan akibat konflik berkepanjangan. Kelangsungan hidup mereka tergantung dari bantuan luar negeri. Pemerintahan transisi menyatakan sudah mengijinkan lalu lintas udara untuk penerbangan bahan bantuan. (hp)