Pemerintah Transisi Somalia Rebut Kismayo | Fokus | DW | 02.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Pemerintah Transisi Somalia Rebut Kismayo

Setelah beberapa hari terlibat pertempuran, Senin (01/01) kemarin pasukan pemerintah berhasil merebut kota Kismayo, kubu pertahanan terakhir milisi Islam yang terletak di selatan Somalia.

PM Ali Mohamed Gedi (kiri) dan Presiden Somalia Abullahi Yusuf (kanan)

PM Ali Mohamed Gedi (kiri) dan Presiden Somalia Abullahi Yusuf (kanan)

Senin (01/01) pagi waktu Somalia pasukan milisi Islam meninggalkan kota pelabuhan Kismayo di selatan negara itu. Sebelumnya di utara Kismayo mereka terlibat bentrokan hebat dengan pasukan transisi yang mendapat dukungan dari Ethiopia. Pertempuran yang menyebabkan kekalahan besar milisi Islam. Perdana Menteri Somalia Ali Mohamed Gedi mengatakan

„Kismayo berada di bawah kekuasaan pemerintahan transisi. Pelabuhan dan bandar udara juga sudah dikuasai pasukan pemerintah.“

Sekitar 3000 tentara kelompok milisi Islam dan pemimpinnya sekarang tengah melarikan diri. Sebagian dari mereka menanggalkan seragamnya dan menyembunyikan diri dalam pakaian sipil. Yang lainnya berupaya melarikan diri ke perbatasan Kenya di selatan Somalia. Namun Kenya telah menutup perbatasannya. Mereka tidak ingin anggota milisi yang kabur masuk ke negaranya. Presiden Kenya Mwai Kibaki dalam pidato awal tahunnya kemarin menyerukan agar segera dilakukan pertemuan semua kepala negara Afrika Timur untuk membahas krisis Somalia. Sejak pecahnya kembali pertempuran sekitar dua pekan lalu, diperkirakan 30 ribu orang terpaksa mengungsi.

Pimpinan milisi Islam yang kalah mengumumkan akan melakukan perang gerilya. Selain itu mereka mengundang pejuang dari seluruh dunia untuk melakukan Jihad ke Somalia. Perundingan yang ditawarkan pemerintah transisi Somalia ditolaknya. Selama pasukan Ethiopia berada di Somalia, kebanyakan milisi Islam tidak akan bersedia berunding.

Sementara itu suasana di ibukota Somalia Mogadishu hari Minggu (31/12/06) malam tanpa diduga tetap tenang. Dalam malam pergantian tahun tidak terlihat kembang api ataupun tembakan penyambutan. Tampaknya semua lebih suka menyimpan senjatanya. Penduduk Somalia sudah lelah dengan peperangan. Sejak 15 tahun anarki menguasai Somalia. Baru pertengahan tahun lalu milisi Islam mengusir pasukan transisi dari Mogadishu. Sejak itu milisi Islam menjalankan hukum Syariah dan meemberlakukan hukum rajam dan pemotongan anggota tubuh. Pertandingan sepak bola dilarang disiarkan. Pemutaran film di bioskop dan musik pop, merokok di tempat umum dan minuman beralkohol juga dilarang. Semua larangan itu dicabut pemerintah transisi tepat pada saat pergantian tahun. Meskipun demikian saat ini di Somalia masih dikenakan situasi darurat.